Ahok, Karangan Bunga dan Empati Publik

Karangan bunga berisi ucapan terima kasih kepada Ahok terus mengalir. Seolah hendak menunjukan bahwa dukungan moral publik terhadap Ahok terus berdatangan secara massif, dan sama sekali tidak berkorelasi dengan hasil Pilgub DKI. Hal ini terlihat dari menggejalanya karangan bunga yang tidak hanya di ibukota, tapi juga meluas ke berbagai daerah di tanah air. Tersirat bahwa empati publik terhadap sosok Ahok sangatlah tinggi, juga hendak menegaskan bahwa Ahok tak hanya milik DKI, tapi sudah menjadi milik seluruh rakyat Indonesia.

Setidaknya itulah pesan yang hendak di bangun oleh siapapun aktor yang menggagas gerakan ini. Sebagai orang yang bergelut di dunia neurosains, fenomena ini tentu menarik untuk di cermati. Ada bagian otak publik yang hendak diaktivasi melalui gerakan ini. Tujuannya jelas, menjadikan gerakan karangan bunga terjadi massif di seantero penjuru negeri. Lantas apa target yang di sasar dari gerakan ini?

*MEMENANGKAN EMPATI PUBLIK*

Masih ingat fenomena seragam kotak-kotak menjelang Pilgub DKI 2012 lalu? Atau fenomena “world trending topic” “salam dua jari” yang melibatkan musisi dan artis papan atas dunia? Jika masih ingat, maka gerakan karangan bunga untuk Ahok yang akhir-akhir ini mulai digeser menjadi gerakan karangan bunga dukungan untuk Pemerintahan Jokowi harus dibaca menggunakan perspektif yang sama. Sebab ada kesamaan pola gerakan serta dasar metodologi ilmiah yang sama antara massifnya gerakan “seragam kotak-kotak”, salam dua jari, dan gerakan karangan bunga.

Kesamaan pola pertama adalah bahwa gerakan ini dikesankan hadir secara alamiah sebagai bentuk pertisipasi yang lahir dari kesadaran publik. Tahapannya pun jelas, dimulai dari Balai Kota DKI kemudian meluas hingga ke seantero negeri. Seolah ada sentimen kesadaran bersama publik yang mengalir secara suka rela sebagai bentuk keprihatinan atas ketidakadilan yang dilakukan sekelompok masyarakat terhadap Ahok. Karena itu Ahok harus di bela, dan bentuk pembelaan yang paling simpatik ya melalui karangan bunga.

Sang Aktor memahami betul bahwa EMPATI PUBLIK itu bisa ditularkan dengan mengaktivasi “mirror neuron circuit” yang ada disetiap kepala publik. Dengan mendesain sebuah metode gerakan yang efektif dan sejalan dengan sentimen emosi publik, maka dukungan empati publik bisa dimenangkan.Tentu saja publik yang masih belum yakin betul bahwa Ahok memang tidak bersalah dan karena itu harus dibela.

*MENGAPA KARANGAN BUNGA?*

Lantas mengapa metode aktivasi “mirror neuron circiut” dilakukan lewat karangan bunga? Sang Aktor paham betul bahwa metode gerakan harus variatif. Tak boleh melakukan pola gerakan dengan bentuk yang sama dua kali. Sebab ada hukum bahwa gerakan pertama akan mendapat simpati publik karena dianggap sebagai pola gerakan baru yang kreatif, dan gerakan yang “meng-copy paste” gerakan yang sama justru akan di cemooh publik. Lihat saat Jokowi masuk Gorong-gorong di daerah Sudirman, publik memberikan penghormatan dan rasa kagum bahwa ada pemimpin yang merakyat dan tidak eksklusif. Hal ini coba diikuti oleh Zumi Zola (Gubernur Jambi) yang membersihkan toilet masjid, bukan apresiasi yang di dapat, tapi sinisme publik yang menganggap itu pencitraan.

Karena itu Sang Aktor tak mau akrobatik, sebab hasilnya bisa fatal dan publik justri akan semakin mencemooh pola gerakan yang di bangun. Pemilihan karangan bunga adalah ide baru, menarik sekaligus terobosan yang krearif. Sebab ucapan selamat selamat merupakan simbol “silaturahmi” yang akrab dan dalam yang mampu mengikat solidaritas perkawanan dalam ruang publik. Dan ini sangat mewakili dimensi moral empati publik yang disasar.

Caranya ya dengan memunculkan gerakan ini tampak mengalir secara alamiah dari berbagai daerah di tanah air. Prinsip kerjanya ya kira-kira mirip kerja bakti di kompleks rumah, kita cenderung merasa tak enak dan bersalah jika tidak ikut terlibat kerja bakti disaat seluruh tetangga kompleks sedang berkeringat membersihkan lingkungan.

Namun alasan paling mendasar mengapa menggunakan karangan bunga adalah karena mereka yakin mustahil memenangkan sentimen publik dengan pengerahan massa aksi di ruang publik. Mustahil melakukan itu disaat aksi “212” berhasil diikuti secara sukarela oleh jutaan manusia. Buktinya, aksi kebinekaan “412” yang gagal meraih simpati justru berbuah cemoohan publik. Disaat pengerahan massa tak mampu dilakukan secara efektif, maka karangan bunga menjadi sintesa yang paling mungkin dilakukan.

Tapi sekali lagi bukan itu target akhir yang hendak dimenangkan lewat gerakan karangan bunga ini. Jika dicermati konten karangan bunga yang beredar luas, terlihat jelas ada pergeseran dari yang awalnya untuk Ahok sekarang bergeser ke dukungan kepada Pemerintahan Jokowi.

Klaim subjektivitas saya mengatakan bahwa target utama gerakan ini adalah membangun kesadaran baru yang emosional dan kuat bahwa MEMBELA AHOK = MEMBELA NASIONALISME =MEMBELA PANCASILA = MEMBELA KEUTUHAN NKRI, yang muaranya adalah MEMBELA REZIM PEMERINTAHAN JOKOWI.

“Fikri Suadu”