Aku Dipersimpangan Cinta dan Impian

“Memang tidak ada yang salah dengan cinta. cinta adalah anugerah sang pencipta yang diberikan kepada setiap hambanya dimuka bumi. Hanya saja, kepada siapa, bagaimana dan kapan cinta itu bermuara terkadang membuat cinta antara hamba lebih besar dibandingkan cinta hamba terhadap sang pencipta”.

Cinta, kau adalah anugerah dari yang kuasa. Kau tidaklah sendirian. Kau kuberikan sahabat yang bernama “impian” yang ku ciptakan sendiri dari pergolakanku dengan kerasnya hidup ini. Untuk beberapa saat kalian mampu berjalan bersama, mampu mengawalku dalam mencari ridho sang khalik dimuka bumi.

Wahai impian, aku dapat mengedalikanmu. Namun entah kenapa tidak denganmu wahai cinta. sekeras apapun pikiranku mencoba menyederhanakanmu, kau makin tak terkendali. Iman yang ku pupuk dalam setiap sujudku belum mampu menenangkanmu. Kau bahkan sering bertengkar dengan sahabatmu impian, mengharapkan perhatian dari ku.

Akupun mencoba menenangkanmu waha cinta, menuruti apa maupu. Untuk beberapa saat aku mampu, namun aku merasa aku semakin kalah darimu. Aku semakin terbawa kedalam duniamu. Aku takut tuhan akan iri dan marah padaku. Disisi lain tanpa kusadari impian mulai pergi jauh meninggalkanku.

Jujur saja aku sangat menyayangi kalian berdua wahai cinta dan impian. hingga aku sendiri tak tahu bagaimana berperilaku adil kepada kalian. Dalam sujudku aku sering mengadu pada sang khalik tentang aku yang tidak becus mengurusi kalian berdua. Dalam sujud pula aku mengharapkan jawaban darinya. Tentu saja dia tidak menjawab. hanya terdengar suara dengkuran jangkrik yang saling bersahut-sahutan dikeheningan malam.

Selamat tingal Wahai cinta, aku harus meninggalkanmu untuk sementara, mengistrahatkanmu, namun aku tidak membuangmu. Bagiku kau tetaplah anugerah terindah dari yang kuasa. Mungkin ini adalah jawaban darinya. Entah kapan dia menjawabnya akupun tak tahu. Mungkin saat aku terlelap dalam tidurku.

Mungkin juga dia menyentuh daya nalarku saat aku memacu kinerja otakku. Mungkin saja. Dia adalah maha segalanya. Aku yakin diwaktu yang tepat dia akan mendatangkanmu padaku atau mendatangkanku padamu. Saat itu aku mungkin sudah lebih dewasa dan bisa membimbingmu. Semoga saja begitu.

Wahai impian, kini aku mengejarmu, tunggulah aku. Aku akan menyelesaikan urusan dengan mu. Aku yang menciptakanmu maka aku juga yang harus menyelesaikanmu. Setelah urusanku denganmu selesai. Setelah dahagamu terpenuhi. Aku akan kembali ke sahabatmu. mudah-mudahan kau juga bisa membimbingku menuju kematangan jiwa dan iman. Hingga tiba waktunya bagiku untuk kembali mengunjungi sahabatmu sang cinta diwaktu yang tepat.

 

Penulis : Hasran