Anak Bangsa yang Tak Mengenal Bangsanya – Ruwajurai.com

Pagi mulai menjemput siang sang surya Nampak mengintip perlahan dibalik awan cerah kejauhan. Embun pagi tetap enggan membelai udara pagi seperti biasanya, seakan menyerah  dengan debu jalanan yang dihempaskan hilir mudik kendaraan modern.
Kesibukan pagi kini menghiasi wilayah semarang timur, sepanjang jalan pedagang kaki lima mulai terlihat menjajakkan jajanannya. udara pagipun mulai tercemar aroma warung makan yang kian menggugah rasa. Nampak pula wanita-wanita perkasa dengan bakul sayurannya memenuhi angkutan umum, saling berlomba menjemput rezki dipagi yang bersahaja. Disepanjang jalanan Para tukang becak mulai mengayuh menelusuri jalanan, turut menuntut keadilan tuhan atas reski yang terus berkurang dan tergerus zaman yang semakin modern.

Tidak ketinggalan pula para cerdik pandai generasi penerus bangsa. nampak mahasiswa-mahasiswi telah bersolek rapi dengan stelan terbarunya masing-masing. Wewangian tak pernah ketinggalan bersama mereka. Kini Satu persatu keluar dari persembunyian, dengan perlahan memenuhi mulut-mulut gang jalanan menanti angkutan umum.
Dengan tas penuh dengan buku-buku aku turut bersama mereka. hanya bedanya aku tidak bersolek seperti mereka. mandipun tidak untuk hari ini. Setelankupun biasa saja, juga masih tanpa minyak wangi. Namun dalam langkahku tersirat penuh kebanggaan. Ya, kebanggaan karena berbeda dengan mereka yang bukan aktivis.

Aku juga cukup percaya diri sebagai aktivis HMI, setidak-tidaknya aku belajar banyak ilmu dibanding mereka yang bukan aktivis. Setidak-tidaknya ketika label ini melekat padaku, secara tidak langsung label fakir ilmu dan pemilik kesalehan sosial juga melekat dengan sendirinya padaku. Begitulah kurang lebih gambaran rasa percaya diriku selama empat tahun ini hidup sebagai aktivis, tanpa melihat lebih jauh dalam diriku apa yang telah ku perbuat untuk masyarakat sekitarku.

Hari ini kepercayaan diriku yang selama 4 tahun kupupuk seakan hilang berguguran. Menyadari akan meninggalkan perguruan tinggi dan status mahasiswa dalam waktu dekat ini membuatku berpikir mundur jauh kebelakang lagi. Menelusuri tiap rangkaian waktu yang telah kuhabiskan sebagai mahasiswa dan seorang aktivis. Tanpa maksud pamrih kuhitung lagi kontribusi apa yang sudah kulakukan selama ini?, untuk siapa semua itu aku lakukan? Dan mengapa semua itu aku lakukan?.

Guncangan angkot membangunkanku dari lamunan itu. Mobil sedan didepan kami manabrak tukang becak bersama penumpangnya. Adu mulutpun tak terelakkan antara sopir mobil dan sang pengayuh becak. Penumpang becak turut membantu bapak tukang becak itu. marah karena beberapa sayurannya jatuh dari keranjangnya dan berhamburan di jalanan. Beberapa pemilik warung dan pedagang kaki lima juga turut membantu tukang becak dan penumpangnya tanpa bertanya duduk perkaranya. Seakan terdapat ikatan di antara mereka yang tidak dapat dijelaskan dengan dokumen maupun surat-surat kependudukan. Ya, barangkali ikatan senasib pikirku singkat.

Angkot kami terus melaju kembali, pikirankupun juga mengawang kembali. Ada banyak yang bekerja sebagai tukang becak di negeri ini, tentu saja tak terhitung jumlahnya. Tidak sedikit pula orang-orang seperti ibu penjual sayur tadi, juga pedagang kaki lima, apalagi para petani, sangat banyak jumlahnya tentunya. Mereka-mereka itu yang paling banyak jumlahnya di negeri ini dibandingkan para konglomerat yang hanya beberapa orang saja. Namun jumlah yang banyak itu tidak sebanding dengan kesejahteraan yang mereka dapatkan. Justru para konglomerat yang sedikit itu yang menguasai kekayaan negeri ini.

Mereka para petani itu, tukang becak, tukang sayur, dan pedagang kaki lima itu adalah pemilik sebenarnya negeri ini. Namun dari dulunya hingga sekarang tak kunjung sejahtera. Keterbatasan pendidikan menjadi alasan pemerintah dalam menyembunyikan ketidakberpihakan dan ketidakmampuannya mengurus mereka. kalau seperti itu jadinya, siapa yang akan membela hak-hak mereka?.

Pandanganku pun tertuju pada mahasiswa-mahasiswa yang duduk dihadapanku. Ya, kamilah para mahasiswa yang harus memperjuangkan hak-hak mereka. lebih tepatnya, orang sepertiku, aktivis mahasiswa. Ya, seharusnya para aktivis sepertiku yang berjuang demi mereka. aku tidak bisa menyalahkan para akademisi tulen seperti mereka yang di hadapanku saat ini. Mereka sejak awal tidak menyadarinya. Justru yang harus dipertanyakan adalah, apa yang sudah dilakukan orang-orang yang sadar sepertiku?
aku hampir tidak melakukan apa-apa selama 4 tahun ini. Memang benar aku seorang organisatoris, juga seorang aktivis. Namun yang kulakukan hanyalah menjaga kelangsungan organisasi.

Aku justru lupa dan bahkan lalai dengan bangsa sendiri. Tidak dapat kutepiskan rutinitasku sebagai aktivis hanya untuk melatih kepemimpinan untuk diri sendiri dan mempersiapkan generasi baru. Mempersiapkan diri demi meraih mimpi sebagai pemimpin besar dikemudian hari. Tapi, apalah artinya, aku hanya akan menjadi seperti pemimpin-pemimpin yang sering ku cemoh setiap hari. Karena memang dari awal aku tidak mengenal bangsaku sendiri.

Mereka, para tukang becak itu, para petani itu, pedagang kaki lima itu dan para penjual sayur itu. Aku bahkan tak tahu apa kesusahan mereka, apa yang membuat mereka tak kunjung sejahtera. Aku juga tidak tahu berapa penghasilan mereka tiap harinya, sanggupkah untuk membiayai kehidupan mereka sehari-hari? Sanggupkah menyekolahkan anak-anak mereka?, semua itu tidak pernah kuketahui sama sekali. Sungguh sangat disesalkan, ber aktivis selama 4 tahun namun tidak sedikitpun mengerti akan bangsa sendiri. Yang ku tahu hanya sebatas pemahaman sebagai calon sarjana ekonomi.

harus bisa menghitung biaya produksi, gaji mandor, gaji karyawan, gaji manajer, dan keauangan perusahaan bermiliyar-milyar jumlahnya.
Sungguh malu rasanya diri ini, dengan label yang melekat padaku saat ini. Aku masihlah tetap anak dari bangsa yang ku campakkan selama bertahun-tahun ini. Ya, Lebih tepatnya aku adalah anak bangsa yang tidak mengenal bangsanya”.

 

Penulis : Hasran