Bahaya Melabeli Orang Lain

Teori “labeling” (memberikan label terhadap orang lain yang sebenarnya berlawanan dengan citra diri) sering kita dapati dalam kehidupan kita sehari-hari. Kadang-kadang kita tidak berada dalam posisi memprotes kesalahan interpretasi orang lain terhadap kita karena kita seperti sudah mati akibat label yang diberikan orang terhadap kita. Meskipun tubuh sering menunjukkan kebenaran, semuanya seperti tergantung pada interpretasi orang lain.

Akhirnya, kita lalu memprotes label yang salah yang ditujukan kepada kita, namun protes itu selalu terhambat oleh para penafsir. Misalnya, jika anda dikatakan gila oleh orang lain, meskipun anda sudah membantah bahwa anda tidak gila dan benar-benar waras, protes anda itu justru memperbesar kemungkinan dan tuduhan bahwa anda itu gila adalah benar.

Memang normal jika anda memprotes bahwa anda tidak gila menurut sudut pandang anda, tetapi, jika sikap anda dalam memprotes sambil marah-marah seraya mencak-mencak, atau berteriak-teriak, hal itu justru memperkuat dugaan orang lain terhadap anda bahwa memang benar anda itu tidak waras alias gila. Mereka menganggap bahwa tidak mungkin ada orang normal yang marah-marah sambil mencak-mencak atau berteriak-teriak seperti itu. Akhirnya, kita memilih untuk bersikap diam, tenang dan bersabar. Tetapi itu-pun dianggap aneh oleh para penafsir. Mereka akan mengatakan, “tidak mungkin ada orang yang dikatakan gila dan dikatakan tidak waras bisa setenang itu”.

Hal semacam itu tentu tidak hanya berlaku pada satu kasus seperti kasus seseorang yang dituduh gila di atas. Banyak kasus pelabelan orang lain terhadap seseorang yang akhirnya di tengah masyarakat orang yang dilabeli itu menjadi tidak nyaman, tidak tenang, dan seperti merasa diteror.

Orang yang melabeli biasanya kita temukan di kalangan orang biasa atau masyarakat pada umumnya. Misalnya, tetangga kita, teman kita, dan lain-lain. Itu saja dampaknya sudah luar biasa terhadap orang yang dilabeli. Bayangkan saja jika pelabelan itu diberikan oleh orang-orang tertentu yang memiliki kekuasaan atau kewenangan (authority) seperti para pejabat, pemuka agama, dan lain-lain.

Contoh yang saat ini mengerikan bagi saya misalnya, ketika ada orang yang dianggap sebagai pemuka agama yang lalu melabeli orang lain sebagai “kafir”, sekalipun pihak yang dianggap kafir selalu memanusiakan manusia, label kafir itu akhirnya menjadi melekat pada orang yang dilabeli, dan terkadang, bagi yang tidak kuat menerimanya bisa mengalami keruntuhan psikologis yang luar biasa. Dasar dari argumentasi itu mengatakan bahwa yang namanya kafir pasti masuk neraka, sedangkan kita tau bahwa urusan surga dan neraka sepenuhnya menjadi otoritas Tuhan yang maha kuasa.

Wallahua’lam.

Semoga kita semua selalu dalam lindungannya.

——-

Penulis : Edi S