Beragama Dengan Akal Sehat – Ruwajurai.com

Dengan segala keteraturan Alam semesta, mungkinkah asal mula alam semesta tercipta dari teori Big Bang tanpa ada Sang Creator (TUHAN)? Perdebatan antara kaum Atheis dengan dengan kaum theis tentang keberadaan dan Intervensi Tuhan dalam proses penciptaan Alam semesta beserta isinya mewarnai perjalanan perkembangan peradaban manusia.

Ketika penganut ateistik bertanya, jika yang menciptakan alam ini tuhan, apakah itu pasti? Dan siapakah di antara manusia yang pernah melihat tuhan sendang menciptakan bumi ini. Lalu penganut theistik kembali bertanya, jika bukan tuhan siapa? Kaum ateistik menjawab, tercipta dengan sendirinya. Pengikut theistik kembali menggugat, siapakah yang menyaksikan bahwa alam tercipta dengan sendirinya!.

Akhirnya baik argumen teistik dan ateistik sama-sama tidak dapat membuktikan dengan meyakinkan karena keduanya tidak dapat diverifikasi. Disisi lain akal sehat kita tetap akan lebih mudah menerima argumen theistik ketimbang argumen yang menyatakan tuhan tidak ada.

Dalam perkembangannya meskipun kaum atheistik menolak keberadaan Tuhan yang Suci dan Tinggi, teryata kaum atheistik memuja tokoh-tokoh atheis seperti Stalin, Karl Marx maupun dari golongan ilmuwan seperti Darwin, Einsten, dll, Ada juga yang mengkultuskan ilmu pengetahuan. Secara tidak langsung mereka bertuhan pada tokoh-tokoh ateis dan beberapa menuhankan ilmu pengetahuan atau akalnya sendiri. Hal ini menyimpulkan bahwa Atheis murni tidak ada lagi.

Perdebatan tidak hanya terjadi antara kaum atheistik dengan theistik, sesama kaum theistik pun terjadi perdebatan yang cukup mendalam dikarenakan setiap agama dan setiap kepercayaan mengklaim dirinya sebagai ajaran yang benar dengan Tuhannya masing-masing. Jika Hanya ada satu Tuhan di dunia ini, maka ada kemungkinan salah satu Tuhan dari sekian banyak agama (Islam, Kristen, Yahudi, Budha, Hindu dan lainya) merupakan Tuhan penguasa Langit dan Bumi dengan teks suci yang mendukungnya (Kitab Suci), tidak mungkin ada dua Tuhan atau lebih.

Lalu pertanyaannya Tuhan yang mana? Pada prakteknya setiap agama membenarkan Tuhan yang tersimbol pada agama atau kepercayaannya dan menyesatkan Tuhan yang tersimbol pada agama lain. Para Pemikir Agama, membedakan aspek esoteris (al-bawahin) dan eksoteris (al-dzawahir) dalam sebuah agama. Yang berbeda di dalam kehidupan keberagaman adalah sisi eksoterisnya yang terkadang disebut juga dengan aspek syari’ah, sedangkan dari sisi esoterisnya. Semua agama mengajarkan kepada monoteisme (Tauhid) dan sikap pasrah (islam) itu sendiri.

Manusia menganut agama atau kepercayaan apapun hasilnya akan sama, karena setiap agama atau kepercayaan akan melahirkan tata nilai bagi para pengikut atau pemeluknya. Tata nilai yang bersumber pada setiap Kitab Suci atau pedoman lain dalam sebuah agama atau kepercayaan akan menjadi ukuran utama dalam melegimitasi tingkah laku, sikap, sifat sang penganut dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Selain agama atau kepercayaan yang di anut harus benar, cara kita melakukan aktifitas keagamaan sebagai konsekuensi berkepercayaan juga harus benar.

Maka dalam memilih sebuah kepercayaan bukanlah sebuah permainan yang tidak mengandung konsekuensi apapun, tidak hanya terletak pada sisi masuk surga atau neraka. Salah memilih kepercayaan akan membuat manusia kehilangan jati dirinya sebagai manusia dan menghambat kemajuan peradaban manusia (membelenggu manusia) bahkan kemungkinan terburuk ras keturunan Nabi Adam AS akan menghilang dari tanah bumi.

Barang siapa yang menyembah Allah bukan substansinya, itu sama dengan kafir.
Barang siapa yang menyembah Allah dan substansi, itu adalah syirik.
Barang siapa yang tidak menyembah Allah, melainkan substansinya itulah tauhid sejati.

 

Penulis : Cak Yus ( Yusran Jail Baai )