Bukan Untuk Kita

Persahabatanku dengan Tania sudah terjalin bertahun-tahun. Tapi apa jadinya jika kami mencintai orang yang sama. Tania sering bercerita kepadaku tentang perasaannya pada Agung. Sekuat mungkin aku selalu mendukung, walau hatiku bagai tergores sembilu.
.
Agung adalah seorang pedagang sukses, hari-harinya ia habiskan hanya untuk mencari uang. Hingga di usianya yang masih muda itu, ia sudah memiliki beberapa buah mobil, serta beberapa buah kebun sawit. Orang-orang mengatakan kalau Agung orangnya sangat pelit. Tapi hal itu kubantah, karena sejak mengenalnya tujuh bulan yang lalu, Agung jauh dari dari apa yang mereka katakan.
.
Jujur saja aku sangat menyukai sosok pekerja keras seperti Agung.
.
Sore itu aku dan Tania pergi menemui Agung, beberapa kali aku menolak permintaan Tania. Tapi Tania terus memaksa. Terus terang aku merasa tidak nyaman, apalagi harus menemui seorang lelaki, gengsi dikit donk.
.
“Masih sibuk ya, Bang?” tanya Tania. Agung terkejut melihat kedatangan kami, nampaknya ia risih.

“Ti .. tidak! kalian rupanya,” jawabnya terbata. Agung memandangku, ada desiran aneh yang menjalar di sekujur tubuhku. Aku segera mengalihkan pandangan, tak ingin Tania tahu.

“Jangan kerja terus, Bang! kayak udah punya tanggung jawab aja.” Sahut Tania genit. Matanya mengerling nakal.
.
“Oh … aku sudah terbiasa begini. Jadi sehari saja nggak kerja, kepalaku jadi pusing.”

“Betapa bahagianya, kalau bisa jadi istri bang, Agung,” ujar Tania tanpa malu-malu. Mendengar itu Agung jadi salah tingkah, ia menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Kembali mata kami beradu pandang, detak jantungku kian tak terkendali.

“Ehmm, apa kita mau berdiri saja di sini, Bang Agung?” ujarku mengatasi suasana.

“Oh .. iya, hampir lupa. Aku gugup, apalagi aku didatangi dua bidadari. Kita duduk di sana saja, biar adem.”
.
Kulihat bibir Tania menyunggingkan senyum. Ada angin segar yang sedang berhembus di sanubarinya.
.
Aku dan Tania segera menuju tempat yang Agung tunjuk. Sedangkan Agung pergi sebentar ke belakang, mungkin ia sedang membersihkan diri.

“Kok hatiku berdebar-debar ya, Delima?”

“Santai aja,” jawabku pelan. Aku menggigit bibir, dadaku sesak. Ingin aku memaki Tania saat ini juga. Tapi itu tidak mungkin aku lakukan, Tania adalah sahabatku.
.
“Aku membayangkan kalau nanti Agung jadi suamiku. Aku akan menjadi istri yang baik.” ujar Tania memejamkan mata sambil memegang dadanya. “Delima, bisa tidak kamu pergi sebentar. Aku ingin bicara berdua saja dengan Agung?” sambungnya lagi
.
“Ba … baik.” jawabku cepat.

Aku pergi meninggalkan Tania yang sedang larut dengan perasaannya. Langkah kakiku terasa berat, tapi aku harus tegar. Aku sempat bahagia setelah mengenal lelaki itu. Tapi sekarang perasaan itu harus aku buang jauh-jauh demi seorang sahabat baikku. Sahabat yang selalu ada, baik suka maupun duka. Mungkin kalau Tania tidak ada, aku tidak akan bisa membiayai ibuku yang sakit beberapa bulan lalu.
***

“Delima,” Tania menangis dipelukanku.

“Ada apa?

“Agung!”

“Kenapa dengan, Agung?” tanyaku ingin tahu.

“Agung menolakku. Katanya ia sudah punya calon istri.”
Aku tak bisa berkata apa-apa, lidahku terasa kelu. Tania yang sore tadi begitu berseri-seri yang kutinggalkan bersama laki-laki itu. Tiba-tiba datang menubrukku sambil menangis. Padahal aku sudah membayangkan gayung akan bersambut. Ya, aku membayangkan Tania dan Agung akan menjadi sepasang kekasih. Tapi kini? Apa yang aku perkirakan ternyata jauh dari kenyataan.
.
“Agung sudah punya calon istri?” aku membatin. Saat ini juga aku sangat membenci Agung, bagaimana tidak. Agung telah menyakiti hati sahabatku, sekaligus ia telah menyakitiku. Lelaki yang selalu kupuja-puja itu akhirnya akan jatuh kepelukan orang lain.
.

“Tenangkan dirimu dulu, Tania. Mungkin Agung sedang banyak pikiran,” aku mencoba menenangkan Tania yang masih terisak.

“Harapanku sudah sirna, Delima. Padahal aku sudah bela-belain menyatakan perasaanku lebih dulu.”

Tania melepaskan pelukannya, tak ada lagi keceriaan yang terpancar di wajahnya. Ia masuk ke kamarnya tanpa semangat. Aku membiarkannya, untuk saat ini Tania tidak ingin diganggu.
***
Setelah selesai berbelanja persiapan seminggu. Aku keluar dari pasar kaki lima itu menuju tempat parkir. Aku segera menstarter motorku. Tanpa aku duga-duga Agung hadir secara tiba-tiba menghadang perjalananku. Ia memandangku lama, desiran itu kembali menjalar disekujur tubuhku.

“Minggir,” ujarku ketus.

“Tunggu sebentar, ada yang ingin aku katakan,” Agung menahan sambil memegang kepala motorku.

“Apalagi? kamu sudah menyakiti hati sahabatku, belum puas juga, Ha?”

“Bila kukatakan pun akan percuma,” Agung menundukkan wajahnya, entah apa yang ia pikirkan.
.
“Kamu mau mengatakan apa? apa kamu mau mengatakan kalau kamu sudah sukses membuat sahabatku kehilangan harapannya? Begitu ya?
.
“Delima!!! hatiku hanya untuk satu orang perempuan, bukan untu dibagi.” tegasnya

Pernyataan Agung tersebut kemudian di cerna urat-urat syarafku, badanku terasa panas. Aku cemburu buta.

“Minggir!!! aku tidak ingin jadi perusak hubungan orang,”

“Jika kukatakan kalau kamu sudah merampas seluruh isi hatiku. Mungkin kamu tidak akan pernah percaya. Hatiku sudah penuh dan tak mungkin tersisa untuk wanita lain. Jika kupaksakan, itu akan menambah hati Tania semakin sakit. ”
Sontak saja apa yang yang baru ia katakan membuatku serasa terbang. Senyum tipis mengambang di sudut bibirku, aku sangat bahagia. Tapi hal itu kusembunyikan, aku tak ingin Agung tahu. Apalagi aku ingat sahabatku Tania yang sedang putus asa. Tania akan tambah sakit jika mengetahuinya. Biarlah ini menjadi sebuah rahasia, sampai kapanpun akan tetap jadi rahasia.
.
Aku menjalankan motorku, membiarkan Agung yang terus memandangku pergi. Bagiku, persahabatan lebih itu penting. Walau hatiku terus berontak untuk menerima cinta laki-laki itu.

“Agung, bukan untuk kita, Tania.” Ujarku dalam hati.

Tamat

Penulis : Jeri Zulpani