Cerpen : Bang, Kapan Maret Akan Berakhir ?

Malam ini kumenemukan bayanganku puluhan tahun silam. Di antara senja yang mulai temaram, sosok itu memandang kaki langit yang hampir tenggelam. Gadis kecil dengan rok bermotif bunga-bunga tengah asyik bercengkerama dengan desau angin yang memainkan anak-anak rambutnya.

Getir kumelihat ia termenung, menunggu sesuatu yang amat ia rindukan. Sementara itu, sosok jangkung menghampirinya. Menawarkan sebuah jaket dengan gula-gula di tangan.

“Ayo masuk, sudah mulai malam” Ajak Bang Jony, kakak gadis kecil itu

“Aku masih menunggu matahari berpelukan dengan malam”

“Masuklah, sebentar lagi hari berganti bukankah itu yang kau nantikan?” bujuk Bang Jony

Tapi Ell kecil tak juga beranjak, mata bulatnya tetap menatap kaki langit. Menunggu sosok yang ia rindukan hadir dari balik perbatasan senja dan malam. Seperti yang Bang Jony janjikan.

“Kapan Maret akan berakhir Bang?” tanya gadis itu lagi dengan mata penuh binar harapan

“Tunggulah dua puluh lima malam, dan dua puluh empat siang, maka kau akan menjumpainya bersama dengan mekarnya seroja” jawab Bang Jony seraya mengelus rambutnya

“Ell akan terus menunggu Bang, bukankah akhir maret Bapak akan pulang?”

“Iya, pasti”

“Bapak pasti tampan sekali kan Bang?” tanyanya lagi

“Wajah Bapak sama sepertimu Ell, persis sekali”

“Kalo Mama mirip siapa?”

“Mama mirip Abang, tapi hidung dan matanya mirip kamu”

“Pasti Mama cantik sekali ya Bang?”

“Ya, Mama cantik sekali, cantik sepertimu…Sudahlah ayo masuk, lekas kerjakan PRmu, kemudian pergi tidur!”

“Baiklah” gadis kecil itu akhirnya mengikuti langkah kakaknya.

Sekali lagi kutemukan gadis kecil itu mencoret angka angka kalender yang terpaku di dinding kamar. Bibir mungilnya tak berhenti bersenandung ria, menantikan Bapak pulang di akhir Maret.

Hari berganti, petang datang dan menghilang. Menukar takaran hari menjadi minggu. Detik demi detik yang ia tunggu telah berlalu. Sebuah harapan yang ia tiupkan pada angin sore tampaknya akan segera terwujud. Ya akhirnya gadis kecil itu akan melihat wajah Bapak yang selama ini ia rindukan.

Sudah Empat tahun Bapak merantau ke Malaysia, sejak gadis kecil belum bisa berlari, hingga ia telah pandai menanyakan tentang orang yang dia sayangi. Sedangkan Mama, sosok yang hanya ia kenal lewat cerita Bang Jony telah lama pergi, jauh sebelum ia bisa membalikkan badan.

Angka-angka di kalender itu telah berubah, hari yang di nantikan pun sudah membayang. Esok Bapak yang ia rindukan akan pulang, betapa hati gadis kecil itu sangat girang. Tak sabar ia koyak jendela malam, mengintip pagi yang masih jauh berlari. Ingin cepat-cepat ia seret matahari agar rembulan lekas berganti. Hingga akhirnya kokok sang jantan mulai terdengar, sebuah kereta berwarna putih dengan musik menyeramkan terparkir di halaman depan.

Gadis kecil itu menganga, mematung dan mencoba menerka, apa yang terjadi?
Sebuah tandu di keluarkan, sosok beralis tebal dengan senyum menawan tengah tergolek dengan tenang. Sosok yang ia rindukan tengah tertidur dengan pulasnya, melupakan sebuah janji pada putri kecilnya di hari sebelum kemarin.

“Apa yang terjadi bang?”

Bang Jony tak menjawab, hanya sebuah tetesan bening memberi jawaban, bahwa sesuatu yang menyakitkan telah terjadi.

“Bapak kenapa Bang?” desaknya lagi

“Bapak pergi lagi Ell”

“Bukankah Bapak berjanji akan pulang di akhir Maret?”

“Ya, Bapak telah berjanji”

“Bukankah ini sudah akhir Maret?”

“Belum, Akhir Maret masih lama, jadi bersabarlah” jawabnya dengan senyum yang di paksakan. Saat itu juga ia mendadak berubah peran, menjadi seorang aktor handal yang tengah memerankan sebuah senyum berbalut luka.

Bagaimana ia menjelaskan bahwa Bapak telah meninggal karena Taksi yang ia tumpangi mengalami kecelakaan dini hari tadi? tepat dua puluh menit sejak ia keluar dari bandara. Dan rupanya Ell kecil mempercayai omongan Abangnya, bahwa akhir Maret masih lama.

**
Kuremas kertas usang ini, coba usir sebuah bayang dari masa silam, bersama sekisah pilu yang amat menyakitkan. Ya, bayangan itu adalah aku. Aku yang selalu menanyakan kapan Maret akan berakhir? bertahun tahun mempercayai ucapan Bang Jony, bahwa Maret belum berakhir. Itulah sebabnya Bapak belum pulang hingga sekarang.

Kau pasti membayangkan betapa bodohnya aku percaya akan sebuah dongeng konyol yang di poles dengan sebuah senyum pilu yang tak pernah kutahu.

Berkali-kali kumencoba lupakan tentang penantian itu. Sebuah penantian gadis kecil yang setia menunggu hari berganti, memunggu bulir-bulir februari berakhir, hingga Maret cepat sampai.

Bahkan sering kumengutuk sunyi, saat Bang Jony bilang ”Kau tak pandai matematika, itulah sebabnya kau tak pernah bisa menghitung hari, hingga kapan Maret berakhir pun kau tak tahu”

Bang Jony benar, aku tak pandai berhitung. Aku bodoh. Mempercayai hal konyol yang seharusnya kumengerti sejak dulu. Tak seharusnya kuterus percaya, bahwa Bapak akan pulang dengan sekeranjang manggis di tangan saat dahaga datang atau lapar mulai kurasakan.

Ternyata puluhan tahun hidup dalam khayalan itu menyenangkan. Saat kuletih, berharap bisa bermanja ria di pangkuan Bapak, dengan mudah kuhibur hati “Maret akan segera berakhir, dan Bapak akan datang seperti yang ia janjikan di hari sebelum kemarin, ya Bapak akan datang”

Penulis : Ell EL