Cerpen : Bibir di Kerah Bajuku part 1

“Sekali lagi kau benar!” ucap gadis itu, mengiyakan ucapan yang baru keluar dari mulutku beberapa detik yang lalu.
Kuhisap cerutuku dalam-dalam, menahannya sebentar lalu menghembuskan ke udara, melingkar-lingar, serupa cincin-cincin berterbangan. Gundah, itu yang kurasakan setelah hampir satu jam berada dalam satu ruangan bersama gadis sintal dengan payudara melotot keluar.

Sesekali kulihat ia melirik kearahku dengan kerlingan nakal, mata beloknya bagai bara dalam tungku-tungku bata. Sebagai lelaki normal, tentu saja hal ini sangat berat bagiku, di satu sisi ada kebutuhan yang harus kupenuhi, terlebih ketika kurasakan benda pusaka mulai mendesak-desak hendak lepas dari sangkar, di sisi lain iman dan ketakutan akan sebuah dosa menggandoli sebelah kakiku untuk melangkah dan melumat bidadari berbadan bara itu.

“Pulanglah, sudah malam”

“Aku takut Bang, pasti Ayah akan memukulku karena tak bawa uang hari ini” jawabnya gemetar, raut ketakutan begitu terlihat pada wajahnya

“Sejahat itukah Ayahmu?” tanyaku tak percaya.

“Dia tak segan-segan membunuhku jika tak kupenuhi apa yang diinginkanya, ayolah Bang temani aku, sekali ini saja” ucapnya memelas dan mulai beranjak mendekatiku. Sekali lagi keimananku di tantang

“Jikalaupun aku menemanimu itu percuma, karena aku tak punya uang” jawabku sambil menggeser dudukku

“Aku tak percaya lelaki segagah dirimu tak punya uang”

“Aku dapat uang dari mana Sri? kerjaku tiap hari hanya membersihkan masjid, untuk makan saja aku mengandalkan dari pemberian Wak Hasan”

“Kalau begitu, kenapa kau tak coba kerja sepertiku saja? kau ganteng, gagah dan garang pasti banyak tante-tante yang doyan” kekehnya sambil mengelus janggutku, sekali lagi dadaku berdesir tak karuan.

Ah kau ini Sri, begitu gampang menyarankan seperti itu. Coba saja kau berada di posisiku, pasti lebih sulit lagi, gerutuku dalam hati. Ya tentu saja, sebagai anak laki-laki satu-satunya aku harus banyak membuat Mamak tersenyum, terlebih sejak Bapak meninggal tahun lalu. Dan menjadi marbot di masjid ini juga atas permintaan Mamak, “Le…hidup ini hanya sebentar, maka selalulah jaga kebersihan hati, badan dan lingkungan agar kelak mereka bisa bersaksi pada hari di mana mulutmu tak lagi bisa menjawab sahutan” tutur beliau waktu itu.

**

Gelap ternyata cukup menjelaskan, tentang sebuah takut yang tercekat suara riuh jangkrik-jangkrik yang tengah melakukan pesta perkawinan. Gadis itu belum mau kusuruh pulang juga, padahal lengkung sabit sudah semakin tinggi melakukan pendakian. Aku paham betul apa yang dia rasakan, takut itu pasti.

Sri adalah gadis cantik di desa kami, tapi sayang nasib baik tak berpihak pada parasnya yang menawan. Sejak ibunya menikah lagi, ia tinggal bersama ayah tirinya yang kejam dan ringan tangan. Tak jarang pipinya terdapat legam-legam membiru, juga bilur-bilur merah pada punggungnya bekas sabetan ikat pinggang jika saja ia berani membantah. Bahkan ia juga harus rela, saat ibunya menyetujui rencana Ayah tirinya untuk menjualnya sebagai wanita malam. Sungguh menyedihkan, bahkan Sri tak pernah tahu mengapa ibunya sepenurut itu pada laki-laki brengsek yang tak ubahnya seperti seekor anjing buduk dalam kehidupannya. Mungkin cinta sebuta itu! begitu simpulnya.

“Apakah kau tak ingin keluar dari kehidupan yang seperti ini?” tanyaku sambil mengamati wajah cantik itu. Sebuah senyum mengembang, ah ini benar-benar seperti candu, bahkan rokok 76ku pun kalah nikmat dengan senyuman itu.

“Tentu saja Bang, tapi aku bisa apa? jika aku berhenti pasti bajingan itu akan membunuhku, sedangkan ibu pasti lebih membelanya” jawabnya dengan senyum kecut. Angin malam menerpa anak-anak rambutnya yang hitam menjuntai di pinggiran pipi bulat itu.

“Kau tak ingin kabur saja?”

“Kabur kemana? apa aku tega membiarkan ibu sendiri bersama bajingan itu? jika saat ini aku bertahan, ini semua karena ibu” jawabnya lirih dengan muka tertunduk, tetes-tetes bening jatuh dari kelopaknya. Oalahh, Sri andai diizinkan ingin kuberikan dadaku sebagai tempatmu melepas segala tangis dan keluhan.

“Bang, nikahilah aku!” lanjutnya.

Ternganga aku mendengarnya.

“Nikah!?” tanyaku tak percaya

“Iya, aku tahu selama ini kau memendam rasa padaku”

“Oalah Sri, bagaimana kumenikahimu, lawong buat makan aja aku harus puasa senin kamis, mulai ngaco omonganmu, ayo pulang! biar kuantar, ini ada sedikit uang semoga Ayahmu tak menghukummu!” ujarku sambil menyodorkan selembar kertas lusuh berwarna biru, jatah makanku selama seminggu.

“Memangnya Abang punya uang dari mana?”

“Sudahlah pakai saja! ayo kuantar pulang!”

Sri hanya mengangguk sambil mengikuti langkahku keluar.

***

Lalu bagaimana rasa ini kujelaskan? jangankan mengungkapkanya, membayangkan saja aku sudah menggigil duluan. Mungkin saat ini aku adalah seorang pecundang, menikmati sececap rasa yang ingin kurahasiakan. Pasti ibu takkan setuju, terlebih semua orang tahu siapa itu Sri, wanita panggilan yang biasa mangkal di ujung gang.

Sore ini dia memintaku untuk menemuinya di sebuah halte bus, entah apa maksudnya ingin menemuiku, tapi hatiku meletup tak keruan meski di depannya berpura-pura cuek dan tak perhatian.

Kali ini ia datang dengan tas gendong dan sebuah koper kecil di tangan, mau kemana dia?
Rautnya terlihat mendung, ada semburat merah di kelopak matanya.

“Kau mau kemana?” tanyaku sambil menatapnya tajam-tajam

“Sekali lagi aku bertanya, Bang. Maukah kau menikahiku?”

Aku masih mematung mendengar pertanyaanya.

“Jawablah!”

“Aku tak tahu Sri!”

“Apa karena aku wanita jalang?”

“Bukan itu,…”

“Lalu?”

“Aku tak yakin Mamam merestui hubungan ini!”

“Baiklah aku mengerti arah ucapanmu, untuk itu aku datang mau berpamitan” ucapnya lesu. Kecewa begitu jelas tergambar di matanya

“Kau mau kemana?”

“Aku akan ke kota, ikut temanku”

“Mau kerja apa di sana?” selidikku

“Aku akan tinggal di yayasan, sekalian aku ingin berubah lebih baik lagi, maukah kau menungguku?”

“Berapa lama?”

“Sebuah cinta tak memerlukan pertanyaan itu, Bang!” jawabnya sambil mengecup kerah bajuku.

“Tunggu aku pulang”

Tak ada kata yang keluar dari mulutku selain anggukan sebagai isyarat mengiyakan.

***
Bibir berwarna merah muda itu masih menempel di kerah kemejaku, begitu hangat menjamah setiap inci rasaku. Memang benar apa yang orang bilang, merasa rindu itu ketika ia benar-benar menghilang.
Ah, bagaimana kabarmu Sri? apa kau masih ingat aku? lelaki yang pernah kau harapkan sebagai suami.

Ini sudah setahun sejak kepergian Sri hari itu, pada kamis menangis saat rinai mulai mengambil peran antagonis. Membasahi tiap harap yang mulai mengikis. Apakah sekarang ia sudah benar-benar
berubah seperti yang ia inginkan? ataukah sebaliknya, menjadi tumbal kejamnya ibu kota.

Jika saat ini kau menyebutku sebagai lelaki cengeng, mungkin itu pantas untuk menggambarkan aku yang sekarang ini. Baru kusadari, ternyata sebuah rindu bisa setuba itu. Seandainya dulu kuterima saat ia mengajakku menikah, mungkin takkan senelangsa ini.

“Le!” panggil mamak dari luar

“Iya mak!”

“Dapat undangan!”

Tergopoh kubuka pintu kamar, mempersilahkan mamak masuk.

“Dari siapa Mak?”

“Anaknya Mak Lela”

“Sri?!” tanyaku tak percaya

“Sepertiya iya, coba kau lihat!” jawab Mamak sambil menyodorkan kertas merah muda dengan pita di ujungnya.

Setengah tak percaya ku eja nama yang tertera di kertas pembuka

“Sri Wahyuningtias dan Muhammad fathir”

Baiklah, ini hanya mimpikan? bukankah kecupan di kerah itu masih segar, juga bibirnya masih merekah di ujung rasa yang hampir bosan. Baiklah, aku tahu! ini hanya mimpi.

Penulis : Ell EL