Cerpen : Di Bawah Rimbun Pohon – Ruwajurai.com

“Ini bunga apa namanya, Yah?” tanya seorang bocah laki-laki pada seorang pria berperawakan tegap. Ia menyodorkan bunga berbentuk sepatu warna merah.

“Bunga Sepatu, Nak …” jawab ayahnya. Wajahnya tersenyum binar.

Mereka berceloteh berdua di tengah keramaian taman kota itu, angin sore mengurai rambutnya yang gondrong. Bocah itu bertanya tentang banyak hal. Tentang daun yang gugur, mengapa daun yang sudah berwarna hijau kekuningan jatuh ke atas tanah, mengapa desiran angin mampu membuat dahan-dahan melambai-lambai. Ia bertanya tentang angin, mengapa angin bisa menyejukkan tubuh, membuat orang-orang kedinginan. Kenapa terik matahari membuat sekujur tubuh menjadi basah.

Dengan sigap dan cekatan, sang ayah mampu menjawabnya. Di bawah rimbun pohon yang besar dan lebat daunnya, bocah itu naik ke atas punggung lebar ayahnya, ia bergelayut dengan cerianya. Ayah memutar-mutarkan tubuhnya, bocah itu semakin kegirangan. Tertawa tiada henti, tampak gagah sang ayah menggendong anaknya yang masih berumur sembilan tahun itu.

Sesekali tingkah mereka itu mengundang perhatian orang di sekitaran taman kota. Hingga senja mulai tampak menyambut malam dengan semburat cahaya oranye, berpadu dengan warna langit biru dan awan putih, bergema suara-suara lantunan sholawat dari pengeras suara masjid. Malam hampir tiba, mereka dengan riang pulang ke rumah. Bocah itu bergelayut di punggung ayahnya.

***
Dua puluh tahun kemudian, bocah yang sudah menjadi pria dewasa ini menjadi sosok orang sukses. Ia berhasil menjadi harapan ayahnya, imperium telah ia bangun, sikap dan prilakunya sudah terbentuk menjadi cerminan orang sukses.

Suatu ketika, sang ayah mengajak anaknya yang sudah dewasa dan sukses itu pergi ke taman kota. Tempat yang dulu sering mereka kunjungi, pada saat anak itu masih bocah.

“Nak, pohon yang paling tinggi itu pohon apa namanya?” tanya sang ayah saat mereka duduk di taman kota.

“Itu pohon phinus, Yah …” jawab anak itu.

“Bunganya warna merah ya, Nak?”

“Tidak ada bunganya, Yah … itu pohon phinus,”

“Kenapa daun bisa melambai-lambai seperti itu ya, Nak?”

“Hmm, sebab ada angin, Yah …” gumam sang anak.

“Aku berkeringat, Nak …, apa ini akibat sengat terik matahari?”

“Tentu!” gusar sang anak, “Ayah sedari tadi bertanya yang ayah sendiri sudah tahu dan bahkan pertanyaan itu tidak penting. Ayah sedari tadi bertanya tentang apa yang tidak ayah lihat, tidak ayah rasakan! Lihat, tidak ada pohon berbunga di sini, Yah … tidak ada terik matahari, cuaca sedang mendung … Ayah ini kenapa?” ungkap sang anak yang agak tinggi suaranya.

Ayah tersenyum. Ia menghirup udara di taman kota itu, cuaca semakin gelap karena mendung. Sedari tadi angin pun tidak terasa sepoi, semburat senja pun terkalahkan oleh awan yang menggumpal.

“Nak … kamu ingat sewaktu kamu kecil, kamu sering bertanya tentang banyak hal yang menurut ayah tidak penting. Nak …, sudah dua puluh tahun, baru hari ini kita mengunjungi lagi taman kota ini, Nak, pertanyaanmu yang dulu itu menunjukkan kamu tidak paham, makanya ayah jawab dengan kelembutan. Nak …, maafkan ayah, hari ini ayah hanya ingin mengenang masa kecilmu dulu …” ungkap sang ayah. Ia memutarkan kursi rodanya, lalu mengajak anaknya pulang.

Anak itu termangu, diam sepanjang perjalanan. Tidak ada senja sore itu, hanya ada tetesan rintik hujan dari gumpalan awan.

***

Karya : Eddy Pepe