Cerpen : Gadis Bermata Bulat part 1 ( Ell EL )

Kau pasti tak akan pernah percaya, jika akhirnya aku terjebak pada sebuah titik bimbang yang sulit untuk kumengerti, apalagi jika menyangkut masalah hati, sesuatu yang tak mudah untuk di pahami.

Sebut saja namanya Maya, seorang gadis bermata bulat yang kukenal beberapa waktu lalu. Entah apa yang menarik darinya, yang jelas aku nyaman ketika di dekatnya. Hubungan kami berjalan semestinya, kita bersahabat bagai merpati, berbagi seperti hujan, dan dia adalah seorang sahabat paling menyenangkan yang pernah aku kenal.

Aku menyukai tawanya, tawa polos tanpa segelayut ragu di dalamnya. Juga cara dia memeperlakukanku, seolah sudah bertahun tahun mengenalku. Banyak dia bercerita tentang masa lalu, dan apa yang tengah di alaminya. Sebuah cerita yang tak dapat kupercaya, sungguh sungguh menyentakkanku dari sebuah lamunan yang selalu kunikmatki selama ini.

Bagaimana tidak? jika tiba tiba ia bercerita tentang sebuah rasa yang jatuh tak semestinya. Sebuah rasa yang sulit untuk diraba, sangat sangat sulit untuk dihindari. Dan tak kan pernah kupahami.

“Dia begitu baik padaku” ucapnya lirih sore itu. Angin memainkan anak anak rambutnya yang lepas terurai

“Hanya karena itu?”

“Dia banyak memotivasiku, dia perhatian, dia pengertian dan dia lebih dewasa”

“Tapi, aku tahu ini salah” lanjutnya

“Kalau begitu, mengapa kau masih menjalin hubungan denganya?”

“Sebab rasa ini sulit untuk kumengerti, Ell! rasa yang tak wajar ini datang begitu saja saat kuberada di dekatnya”

Dan aku ternganga mendengarkan ucapannya, antara gamang dan percaya. Bagaimana tidak? dia menjatuhkan rasa pada tempat yang tak semestinya. Ya, jatuh cinta pada sesama wanita. Sungguh, seakan sebuah palu menghantam pusara jiwa, perih aku mendengarnya.

***
Ini adalah pertemuan ke duaku dengan Maya. Gerimis mengiringi langkahku pagi itu. Dingin yang menusuk, juga sehembus angin di musim gugur turut menjadi saksi pertemuanku dengannya di sebuah caffe sederhana.

Gigil ini begitu menyiksaku, meski berbalut gamis panjang, dengan hijab lebar dan sebuah jaket tebal telah kukenakan, tetap saja udara terlalu garang untuk kujinakkan.

Dengan kaos putih dan celana coklat sedengkul dia menemuiku pagi itu. Kulihat biru bibirnya, menggigil lalu memelukku. Kurasakan pundakku terguncang, hangat menelusup pada jaketku, titik titik bening merintik dari matanya yang bulat. Mata yang selalu kukagumi. Ya, dia menangis di pelukanku.

“Kau kenapa?”

“Dia tengah dekat dengan gadis lain” ucapnya tertahan, lagi lagi isaknya terdengar. ahh memilukan

“Bukankah kau telah berjanji akan melupakanya? untuk apa kau masih mencemburuinya?”

“Ini tidak mudah Ell, sangat tidak mudah”

“Dengar, aku tau perasaanmu….., sebuah rasa memang tak selalu mudah untuk di pahami, tapi apa kau tau jika Allah mengutuk rasa yang kau miliki?” tanyaku berang, ini sungguh menyakitkan untuk kukatakan. Tapi, biarlah. Tak tega hatiku melihat dia berurai air mata

“Aku tau, tapi apakah sebuah cinta itu berdosa? jika berdosa, lalu mengapa Tuhan menciptakanya?” ia terus terisak, perih tergambar dari mata bulatnya.

“Kau yakin itu cinta?” cibirku

“Entahlah”

“Ah, sudahlah kita tak usah membahas itu sekarang, pagi ini terlalu pilu untuk menyiksa rasamu yang membingungkan”

Dia mengangguk, menyetujui ucapanku. Lagi lagi hening, hanya terdengar suara kopi yang tersesap oleh bibir bibir beku kami. Hingga tegukan kami berada pada tetes terakhir, tetap tak ada percakapan yang terjadi. Masing masing dari kami asyik bermonolog dengan hati.

Entahlah, segumpal geram mengeram pada dasar hatiku mendengar kisahnya. Sekaligus peduli dan kasihan timbul padanya. Gadis bermata bulat yang telah salah menempatkan rasa. Mungkin bukan salah, bisa jadi hanya belum tepat saja. Sesuatu yang sangat sangat aku sayangkan.

Jujur, aku bukanlah seorang gadis yang gampang menaruh peduli kepada orang lain. Tapi entah kenapa, ada rasa yang menyeretku untuk memperdulikannya. Sebuah rasa ketidakrelaan melihatnya terdampar pada dasar jurang yang tak pernah ia inginkan.

Pernah suatu kali aku menanyakan

“Bagaimana bisa kau jatuh cinta padanya?”

“Aku tak tahu”

“Apakah kau tak merasa ilfeel menaruh rasa, bahkan menjalin hubungan dengan sesama wanita?”

“Aku terlalu banyak kecewa pada laki laki Ell, terlalu banyak luka yang mereka ciptakan untukku” ucapnya, aroma pilu keluar dari kata katanya

Sekali lagi aku tak mengerti. Jika sebuah rasa bisa serumit itu. Bahkan sebuah nalar tak akan pernah memahami, bagaimana ia mendarat dan menempatkan dirinya. Entahlah, setidaknya aku berharap dalam hening. Kusebut nama gadis bermata bulat itu dalam sujudku, memohonkan sebuah binar yang kelak akan kulihat lagi di bola matanya, menyemogakan sebuah rasa yang akan kembali pada tempat semestinya.

Ya, semoga. Dan aku akan terus merapalnya dalam untain doa, menyisipkan sebuah harap akan bahagia pada dirinya, seorang sahabat bermata bulat yang kusayangi. Semoga