Cerpen : Gadis Bermata Bulat Part 2 ( Ell EL )

“Dia memintaku untuk menjauhinya” ucapnya beberapa waktu lalu melalui Whatsaap

“Kenapa?”

“Dia ingin berubah”

“Bagus dong” jujur ada perasaan senang mendengarnya

“Tapi aku belum rela”

“Pelan-pelan kau pasti bisa melupakanya” hiburku menyemangatinya.

Seolah- seolah turun hujan di musim kemarau, ranting-ranting mulai melahirkan bayi-bayi hijau yang mentunaskan serupa daun-daun harapan. Ini merupakan hal paling menyenangkan yang kudengar pagi ini. Kiranya Tuhan telah mengabulkan doa yang selalu terpanjatkan di setiap sujud malam.

**

Ini adalah kali ketiga aku menemuinya, pada. Minggu cerah di penghujung Februari. Musim dingin baru saja menemui puncak pergantian, dingin meradang hingga gigil menusuk tulang membuat kami memilih untuk bertemu pada sebuah taman yang tenang tanpa hingar bingar.

Kali ini ia menemuiku dengan muka pias, mata bulat itu terlihat layu. Ada beban bergelayut pada hitamnya yang tajam.

“Kau baik-baik saja?” tanyaku sembari menyodorkan sebotol minuman.

Dia mengangguk lesu.

“Kau bisa cerita jika mau”

“Aku masih memikirkanya Ell” ucapnya lirih

Kuhela nafas dalam. Bingung apa yang hendak kukatakan. Jujur tak kupahami rasa itu. Ya, rasa yang ia miliki, benar-benar sulit untuk di mengerti. Sedalam itukah sebuah rasa yang ia miliki?

“Bukankah ia sudah meninggalkanmu?”

“Ya, ia ingin berubah menjadi seorang yang benar-benar perempuan, dan aku tak bisa mencegahnya”

“Bukankah itu lebih baik?”

“Tapi ini terlalu berat Ell, setelah tiga tahun kebersamaan kami, dan sekarang dia memintaku untuk menjauhinya, aku tak sanggub”

“Tapi aku bisa apa untuk mencegahnya?” lanjutnya.

Lagi-lagi kulihat pilu pada mata bulat itu. Ah, cinta, setuba itukah engkau? jika memang demikian takkan kubiarkan Maya meregukmu lagi. Atau akan kutemui dia sekarat pada pahitmu yang menyakitkan, takkan kubiarkan!.

“Sudahlah, pelan-pelan kuyakin kau bisa” hiburku sembari memeluknya.

Pagi itu kami menghabiskan waktu untuk hiking bersama, sebuah hobi yang kumiliki sejak lama. Sepanjang perjalanan hanya ada celoteh dari dua anak manusia yang tengah lupa akan sebuah nganga pada retak dada.

Ya, gurauan demi gurauan seolah menggulung beberapa kisah sedih yang ia tuturkan tadi pagi, mengapus pelan-pelan secoret pilu pada mata bulat itu. Ah, kadang bersahabat seindah itu.

“Hei lihat! Itu Lamman Island terlihat dari sini!” teriaknya girang sambil menunjuk pada sebuah pulau mungil yang masih perawan akan keindahan alamnya

“Wah, iya bagus banget!” jawabku tak kalah girang.

Dari ketinggian mata kami berkelana bebas, memandangi pulau rimbun dengan pohon-pohon bakau berjejer, juga pantai berpasir putih yang tampak seperti perak berkilau di terpa sinar mentari dari kejauhan.

Debur ombak tampak seperti bait-bait puisi yang buyar, berantakan, berserakan lalu berkumpul lagi. Seolah menceritakan tentang sebuah perjalanan panjang, yang terjatuh, tersandung bangkit dan berjalan lagi, lagi dan lagi.

“Kita belum berselfi ria kan?” tanyanya

“Iya benar!”

“Mana tongsismu?”

“Ini”

“Ayok”

Entah sudah berapa photo yang kami ambil siang itu. Mulai dari manyun, nyepur, melet sampai ekspresi terjelek pun kami lalukan. Hikz, berteman bisa selucu itu ternyata.

“Kita pulang yuk?” ajakku begitu menyadari matahari mulai condong ke barat

“Ayo, kapan-kapan kita kesini lagi”

“Ell” panggilnya

“Iya”

“Berjanjilah untuk menjadi sahabatku”

“Janji”

“Selamanya” ucapnya sambil mengulurkan jari kelingking

“Selamanya” sambutku

Dan sore itu, desau angin menjadi saksi, sebuah perjanjian akan persahabatan dua anak gadis yang tengah menginjak dewasa.

***

“Kau bisa menemuiku besok?” pesan dari Maya masuk di inbox facebookku

“Jam berapa?”

“Terserah kamu, bisanya jam berapa”

“Baiklah, besok akan kukabari”

Ada apa lagi denganya? Entahlah

*
Lagi-lagi ia datang dengan muka layu, mata bulatnya berkantung. Riak-riak air tampak pada sudut-sudutnya

“Ada apa?”

“Ternyata dia pembohong!” isaknya

“Siapa?”

“Arka, ternyata dia memintaku untuk menjauh.karena dia tengah dekat dengan cewek lain” lanjutnya, sekali lagi bulir-bulir hangat membasahi telapak tanganku yang berada di pahanya

“Jangan suudzon dulu ah”

“Aku tak suudzon, aku melihatnya sendiri” isaknya makin keras kini.

Sebisa mungkin kutenangkan dia, memberikan sebelah bahu untuk bersandar.

“Lalu apa lagi? jika kau sudah tau dia seperti itu, tinggalkanlah!”

“Aku tak bisa!”

“Kenapa? dia tak baik bagimu”

“Aku tahu, tapi rasa ini terlalu dalam, dan aku tak bisa mencegahnya”

“Buanglah rasa itu”

“Aku tak yakin bisa”

“Perlahan-lahan kau pasti bisa”

“Aku tak yakin”

Berang aku mendengarnya, tak tega melihat mata bulat itu terus berair, beberapa kalimat yang seharusnya tak kuucapkan keluar juga.

“Kau ini menyedihkan May!”

“Maksudmu?”

“Untuk apa kau tetap menaruh rasa padanya, untuk apa?! bukankah itu hanya sia-sia? itu sia-sia, jikalaupun dia setia, dia takkan pernah jadi masa depanmu, dia takkan menikahimu, takkan pernah! kau menyimpan rasa yang percuma, menyedihkam sekali!” ucapku gusar.

Dia melongo mendengarkan ucapanku, bibirnya bergetar, mungkin ucapanku terlalu menyakitkan baginya

“Lalu kau pikir apa kau tak lebih menyedihkan dariku, Ell? apa kau pikir kau tak bodoh? untuk apa kau terus menanam rindu pada seseorang yang telah lama mati, mengabadikan kenangan tentangnya dalam setiap coretanmu, memunguti ceceran tentangnya setiap waktu, apa kau pikir dia akan datang menemuimu lagi? apa kau pikir dia akan kembali? kau lebih menyedihkan dariku!”

Penulis : Ell El