Cerpen : Istri Sang Suami

Suasana mencekam, pagi saat berlangsung santap sarapan bersama suaminya, Dewi mendapat kabar tak menyenangkan dari sang suami. Sudah hampir tiga tahun pernikahan mereka, meskipun masih muda usia pernikahannya, namun hubungan rumah tangga mereka terasa harmonis.

“Mas, yakin?” tanya Dewi, wajahnya masam. Selera makannya tampak hambar.

“Yah …, mau gimana lagi, dari pada timbul fitnah, Dek …” jawab Majid. Ia menggeser kursinya dekat dengan Dewi.

Dewi minum air mineral, lalu ia menatap wajah sang suaminya. Mata Dewi menatap binar, Majid tersenyum sambil merapikan ujung kerudung warna merah yang Dewi pakai. Sosok istri yang begitu manis, Majid sungguh mencintainya.

Majid mengecup jemari lentiknya Dewi dengan sangat mesra, “Aku akan tetap terus membangun cinta kepadamu, Sayang …” ujarnya.

“Apa harus dengan menikah lagi?” tanya Dewi. Wajahnya di palingkan dari tatapan Majid yang mendalam.

Sang suami itu menghelakan nafas, lalu ia memanjakan istrinya dengan nasihat-nasihat baik. Mencurahkan semua rasa cintanya kepada Dewi, dan menjelaskan lagi tentang alasannya akan menikah lagi dengan wanita lain.

“Allah tidak menganjurkan hamba-Nya untuk poligami, Mas kan tahu itu …” ungkap Dewi.

“Kalau kamu nggak izinkan ya sudah, Mas nggak akan menikah lagi, Dek …” Majid mengusap-usap punggung istrinya itu dengan lembutnya.

Dewi hanya diam. Kemudian ia pergi membereskan piring ke dapur. Majid menatap sambil menggelengkan kepala, ia pun tak mengerti dengan semua kejadian miris itu. Teringat lagi, sosok Ell, seorang wanita yang mengatakan ia jatuh cinta pada Majid, suami dari Dewi. Ell mengaku pads Dewi, bahwa ia sering mengikuti tausyiahnya Majid, terakhir mereka bertemu di Hongkong, saat Majid dan Dewi sedang mendapat undangan dari temannya untuk mengisi tausyiah.

Seperti Khodijah, istri Nabi Muhammad yang pertama. Ell melamar sosok Majid, saat itu dia belum tahu kalau Dewi adalah istrinya Majid. Seorang wali dari Ell sudah menemui Majid saat ia ada di Hongkong, ketika wali itu tahu kalau Majid sudah menikah, lamaran pun diurungkan.

Namun Dewi merasa tak enak hati oleh Ell, wanita itu mencintai suaminya karena Allah. Ell ingin kepribadiannya bisa menjadi lebih baik jika menikah dengan lelaki salih seperti Majid. Dan yang membuat rumit untuk membatalkan, kabar lamaran Ell itu sudah menyebar di telinga sanak saudaranya. Dewi hanya pasrah, mengembalikan pilihan itu kepada suami tercintanya.

“Kamu rela, aku menikah lagi, Dek?”

“Ya sudah, Mas. Aku tahu, Ell itu wanita baik-baik …” ujarnya, “Silakan saja, jika itu pilihan terbaik menurut, Mas … aku sebagai istri hanya bisa patuh pada suamiku,” Dewi tersenyum sambil merangkul suaminya. Majid memeluk erat tubuh Dewi dengan penuh rasa cintanya.

“Poligami itu halal, hanya saja Allah tidak menganjurkan,” bisik Dewi dalam pelukannya Majid.

***

Oleh: Eddy Pepe