Cerpen : Mukena Pink Nisa

“Ine, ada lihat mukena Nisa?”

“Di ruangan sholat coba lihat,”

“Nggak ada, Ne…”

“Ambil aja yang di lemari ” Ucapku sambil memasukkan sayur ke wajan

“Nggak mau, Nisa maunya mukena yang warna pink”

“Kan sama aja, yang penting itu sholatnya.”

“Nggak mau…Nisa maunya mukena warna pink. Hiks, eee….” Terdengar Nisa menangis.

“Udah, jangan nangis. Tunggu sebentar ya, Ine masakkan dulu sayur ni.” Masih saja terdengar tangisnya. Kulihat dia menutup wajahnya di bawah bantal.

Kucari mukenanya di tumpukkan kain yang belum di setrika, nggak ada. Kucari di tempat kain kotor, nggak ada. Di lemarinya juga nggak ada. Kemana ya?

“Nisa, apa mukenanya tinggal di sekolah atau di tempat ngaji?” Tanyaku.

“Nggak ada, Ne…” jawabnya di sela tangis

“Kalau nggak kemana?” Tanyaku

“Nggak tau…”

“Ya udah, sholat aja dulu pake mukena yang lain. Nanti kita cari lagi. Waktu sholatnya udah mau habis tuh.” Nisa beranjak dari tempatnya dengan berat dan masih menangis.

****

Udah beberapa hari, Nisa uring-uringan kehilangan mukena warna pink-nya. Aku tidak tahu kenapa Nisa sangat menyukai mukena tersebut. Padahal mukena yang lain juga ada. Apa karena mukenanya berwarna pink?Nisa sangat menyukai warna tersebut. Dari lemari, meja belajar, jilbab,tas, selimut, baju, peralatan sekolah dan lain-lainnya semua berwarna pink. Baiklah, Nak! Ibu akan membelikan mukena warna pink lagi tapi dengan syarat setoran hafalannya bertambah.

Seperti yang kujanjikan. Aku membeli mukena berwarna pink yang kubungkus dengan warna yang sama, pink. Rencananya, pulang sekolah aku akan memberikannya.

Nisa sekolah di TK IT CENDEKIA, Umurnya enam tahun. Aku menunggunya di gerbang dan menyampaikan ke pak satpam bahwa Nisa akan aku jemput. Ketika Nisa melihatku, dia berlari dengan muka tersenyum bahagia.

“Ine…mukena Nisa udah dapat, tinggal di sekolah dalam loker.” Wajahnya terlihat sangat bahagia sekali.

“Alhamdulilah…berarti nggak sedih lagi dong!” Jawabku sambil memeluknya hangat.

“Nggaklah…” Dia tersenyum manis sekali, binar matanya terlihat berseri

“Ine ada sesuatulah untuk Nisa”

“Apa itu, Ne.”

“Nih, untuk Nisa yang udah lanjut hafalannya ke surah Abasa”

“Alhamdulilah, makasih Ineku sayang…” Aku mendapat pelukan dan ciuman hangat di pipi.

Perlahan dia membuka bingkisan kadonya.

“Yeee dapat mukena warna pink lagi.” Nisa melompat lompat bahagia.

******

Ada sesuatu yang mengusikku. Nisa tidak pernah mengenakan mukena barunya. Dia lebih suka mukenanya yang lama. Padahal mukena tersebut sudah robek di pinggirnya dan belum sempat aku jahit. Bahkan mukena tersebut sudah kecil untuk Nisa, telapak tangannya sudah nampak.

“Nisa, kenapa nggak pernah pake mukena barunya?”

“Nisa suka pake yang ini, Ne!”

“Berarti Nisa nggak suka mukena barunya?”

“Suka, Ne! Tapi….”

“Tapi kenapa?”

“Ine jangan marah ya.”

“Kenapa harus marah?”

“Mukena yang Ine beli, aku kasikan untuk kawanku, Ne. Dia orang miskin, tiap sekolah nggak pernah bawa uang jajan dan bawa nasi.” Nisa bercerita sambil menunduk. Takut kalau aku marah. Kutarik napasku dalam-dalam, kupandangi dia lama dan kupeluk dia hangat.

“Maafkan Nisa ya, Ne…”

“Nggak apa-apa, sayang. Malah Ine bangga punya anak seperti Nisa. Ine sayang…….sama Nisa” Kami berpelukan dan menangis bersama.

Note : Ine ( panggilan untuk seorang ibu dalam bahasa gayo, Takengon Aceh Tengah.

 

Penulis : Ova Ziauocha II