Cerpen : Mungkinkah Jodoh

“Halah!! Mimpi deh bisa ketemu sama mereka, meskipun mereka lagi berkunjung ke negara kita, nggak mungkin mereka bisa kita temuin!!” gusar Raisa saat sedang menonton berita televisi saat kedatangan para pangeran dari Arab Saudi ke Indonesia.

“Ihh, kenapa sih kamu, Ra …, biarin aja sih, namanya juga ngarep!” sahut Lena yang sedari tadi agak histeris sendiri melihat wajah tampan para pangeran di layar kaca.

Banyak wanita yang kagum dan antusias atas kedatangan Raja Salman, dari negeri Arab. Bagaimana tidak, Raja datang tidak sendiri saat kunjungannya ke Indonesia. Ia mengajak sepuluh pangeran tampan dari negaranya yang mampu menarik daya pikat bagi para wanita di Indonesia.

Kecuali Raisa, dia menganggap kedatangan para pangeran itu hal yang biasa saja, justru ia menganggap para netizien perempuan di media sosial terlalu bersikap berlebihan. Ada yang bilang siap-siap sambut jodohnya, ada yang bilang Raja sekalian jemput calon menantunya, bahkan foto-foto para pangeran itu berseliweran di muka publik media sosial, Raisa muak melihatnya, terlalu berlebihan orang-orang itu bagi Raisa. Tapi ia tetap bangga karena negaranya di kunjungi tamu kehormatan.

“Mau ke mana, Ra?” tanya Lena yang masih menatap layar kaca televisi.

“Ke toilet! Kenapa?! Mau ikut?”

“Iihh, ogah!”

Raisa berjalan ke kamar kecil yang ada di dalam sudut ruangan rumahnya itu. Saat belum sampai di daun pintu kamar kecil, ponsel Raisa berdering. Ada panggilan masuk, dari nomor yang tak dikenal. Raisa mengangkat telepon itu, ia mengucap salam dan dibalas salamnya itu oleh suara seorang laki-laki.

Sontak Raisa keheranan, dahinya berkerut-kerut. Laki-laki itu bertanya pada Raisa dengan menggunakan bahasa Arab. Ia paham artinya, lelaki yang meneleponnya itu bertanya pada Raisa dengan bahasa Arab, Raisa pun menjawab dengan bahasa Arab.

“Kamu sedang di mana, Ukhti?” tanya laki-laki yang menghubunginya.

“Afwan, ini siapa ya?” tanya Raisa.

“Ana Saud bin Salman, kembali ke lobi hotel Ukhti …” ujar lelaki itu,”Cepat, ya …” tambahnya. Lalu lelaki yang mengaku bernama Saud itu menutup sambungan teleponnya.

Dahi Raisa berkerut-kerut. Ia masih penasaran, siapa orang yang menghubunginya tadi. Dan Raisa pun tidak pernah ada janji untuk berjumpa ke hotel dengan siapapun. Namun ia tak hiraukan, ia menganggap orang yang menghubunginya itu salah sambung. Langkahnya meneruskan ke arah kamar kecil.

Raisa kembali ke ruang tengah, di tengah ia melangkah, ponselnya berdering panggilan masuk lagi. Nomor yang sama, Raisa agak risih kali itu wajahnya. Ia mengangkat panggilan itu, lalu salam terucap dari seorang perempuan, Raisa membalas salam itu. Lagi-lagi bercakap menggunakan bahasa Arab.

“Afwan, Ukhti …, ana Aisyah. Kakaknya Saud,” tutur seorang perempuan yang menghubunginya.

“Iya, ada apa ya?” tanya Raisa santun.

“Tadi Saud salah sambungan telepon. Dia kira, Ukhti itu ana …, maaf ya Ukhti,” ungkap Aisyah.

“Iya tidak apa-apa,” jawab Raisa, “Memangnya kalian dari mana?” Raisa mulai melembutkan suara. Mereka berbincang dengan bahasa Arab yang sangat kental. Aisyah menjelaskan tentang siapa mereka, dan Raisa masih bimbang untuk mempercayainya.

Hati Raisa masih bertanya-tanya. Apa benar, orang yang menghubunginya tadi itu putra dari seorang Raja Salman? Saud bin Salman? Seperti yang dikatakan oleh pengakuan Aisyah, wanita yang menghubunginya tadi. Lena masih menonton berita televisi, Raisa duduk di sebelah Lena, memperhatikan wajah tampan para pangeran Arab di layar kaca.

“Mungkinkah dia jodohku?” ungkap Raisa saat ia melihat sosok Saud bin Salman di televisi. Pandangannya penuh binar kekaguman.

“Iiihh!! Mimpi!!” gusar Lena dengan wajah masam.

***

Oleh: Eddy Pepe