Demi Sebotol Air Mineral

“Koran-koran… Koran-koran…” Suara ibu penjual Koran terdengar melengking. Sebenarnya aku tidak membutuhkan koran itu, karena di kantorpun bisa baca koran gratis, tapi tidak ada salahnya membeli.
Sambil membuka kaca mobil dan mengeluarkan uang, “Satu ya, Bu.”

“Alhamdulillah… Makasih ya, Nak.” Sambil menyodorkan korannya.

Tiba di depan kantor terlihat pemulung sedang membersihkan botol air mineral bekas pakai air comberan. Badan kurus, baju lusuh, dan umur kira-kira 40 tahunan. Aku mendekatinya dan memberi sepotong roti dan air mineral. Dia menerimanya sambil tersenyum dan menunduk.

Di depan pintu masuk setelah absen (finger scan) langsung naik taksi lagi menuju sebuah hotel, ada sosialisasi tentang pekerjaan. Selama acara berlangsung kami disediain makanan ringan dan beberapa botol air mineral. Ada yang menghabiskan air mineralnya, ada juga yang menyisakannya, bahkan lebih banyak yang menyisakannya. Setelah acara selesai, kami segera menuju pintu keluar, ketika melihat ke belakang sekilas, tidak sengaja aku melihat beberapa botol air mineral yang bersisa. Hmmm, miris. Mubazir.

Sebelum kembali ke kantor, jajan dulu di belakang bangunan hotel. Aku memang suka jajan di pinggir jalan. Kebiasaan yang nggak bisa diubah sejak kecil. Baru sesuap mie, didatangi seorang gadis kecil (kira-kira umurnya lima tahun), membuka jilbabnya, lalu menawarkannya untuk aku beli.

“Tolong beli, Kak.. Rp.3000 saja.”

Keadaan jilbab itu sudah sangat lusuh, mengeluarkan aroma tidak sedap, bahkan sudah tidak layak lagi dipakai.

“Pakai saja kembali, Dik jilbabnya.” Sambil memakaikannya lagi ke kepala dia.

Dia kembali melepasnya. “Tolong Kak, aku sangat butuh Rp. 3000 itu. Belilah jilbab ini..”

“Ok lah.. Aku akan membelinya. Ini. Aku memberikan selembaran uang Rp. 10.000. Kembalinya untukmu saja, Dik.”

“Jangan begitu Kak.. Aku mohon bayarlah dengan uang pas. Aku tidak ingin mengharapkan lebih seperti ini.”

Karena dia terus memaksa, aku langsung mengeluarkan tiga lembar uang Rp. 1000. “Ini Dik.”

“Makasih ya, Kak.” Senyumnya mengembang dengan manis.

Penasaran dengan gadis kecil itu, mengikuti dia dari belakang. Dia membeli satu botol air mineral. Terus mengikutinya, tibalah di lorong agak sempit. Tempat itu kurang bersih. Ada sedikit tumpukan sampah. Di situ aku melihat seorang wanita yang tidak begitu tua, tapi badannya sangat kurus dan tubuhnya sangat kotor.

“Emak… Ini diminum dulu.” Gadis kecil itu menyodorkan air mineral itu ke mulut ibu itu. Ibu itu hanya tersenyum. Terdengar lirihan hamdalah yang keluar dari bibirnya.

“Ini, Lili harus minum juga.” Sang ibu memberi sisa air mineral kepada gadis kecil itu.

“Lili minumnya dikit aja kok, Mak. Alhamdulillah ya Mak.. Tapi Mak, jilbab kesayangan Lili udah dijual. Nantik Lili cari kerja ya Mak..”

Sang ibu hanya memeluknya. Aku terpaku tidak jauh di hadapan mereka. Selama ini menyangka sering menebar kehangatan kepada banyak makhluk. Akulah peri itu, orang lain lah yang membutuhkanku. Begitu sombong. Ternyata diri inilah yang butuh kehangatan itu. Diri ini hanya seorang hamba yang selalu butuh kehangatan-Nya. Aku terduduk lemas di tanah, bulir air mata satu per satu jatuh tanpa bisa dibendung, makin lama makin deras. Tidak sadar, sekarang aku sudah berada di dalam pelukan gadis kecil itu. Dia memelukku dengan sangat erat.

Demi Sebotol Air Mineral

Penulis : Raihana