Dibawah Pohon Ini Soekarno Rumuskan Pancasila

Soekarno / Ruwajurai.com

Soekarno / Ruwajurai.com

Ruwajurai.com – Pada 14 Januari 1934, Sukarno diasingkan oleh Belanda ke Ende Nusa Tenggara Timur. Disebuah kampung yang sebagian besar penduduknya bekerja sebagai nelayan dan petani kelapa ini Sukarno diasingkan. Pengasingan Bung Karno ini terkait dengan aktivtas politik Bung Karno yang kian mengkhawatirkan bagi Belanda. Bersama isteri tercinta Bung Karno Inggit Garnasih, ibu mertuanya beserta anak angkatnya Ratna Djuami, Sukarno bertolak ke Ende dan menetap di sebuah rumah kecill milik Abdullah Ambuwaru. Disana, Sukarno menjalani masa pengasingan yang melelahkan selama empat tahun lamanya.
Inggit pernah bertanya kepada Sukarno kenapa harus Ende, sementara kebanyakan pejuang lain diasingkan ke Digul. Apabila diasingkan ke Digul pikir Inggit, mungkin lebih baik karena disana ada 2.600 tahanan politik lainnya. Setidaknya, Sukarno tidak merasa kesepian seperti di Ende. Dengan penuh kasih sayang, Sukarno memebesarkan hati Inggit bahwa pembuangannya ke Ende ini karena Belanda sudah sangat takut dengan Sukarno dan akan lebih takut lagi jika dibuang ke Digul. Karena, hal menakutkan apa yang akan dilakukan oleh Sukarno dengan 2.600 prajurit itu ?
Pada awalnya, masyarakat Ende khususnya disekitar rumah pengasingan Bung Karno itu merasa takut karena Belanda terus mengawasi gerak gerik Bung Karno. Tetapi, sedikit demi sedikit Bung Karno mendekati warga sekitar dengan berkeliling ke kampung-kampung. Pada akhirnya, Bung Karno mampu meyakinkan masyarakat untuk tidak takut kepadanya sekalipun Belanda terus mengawasi. Ia bahkan beberapa kali mengundang masyarakat untuk sekadar bersilaturahmi ke rumahnya.
Selama di Ende, tak banyak yang bisa dilakukan oleh Bung Karno. Ia memilih berkebun dan membaca buku untuk membunuh kebosannya. Ia juga berdiskusi dengan para misionaris disana, terutama Pastor Paroki Ende, Gerardus Huijtink dan mendapatkan banyak sekali pelajaran seperti arti pentingnya pluralisme dan toleransi. Bung Karno juga mulai giat menggali ajaran Islam dan memikirkan bagaimana seharusnya pondasi bangsa Indonesia itu terbentuk.
Dalam buku autobiografinya, “Sukarno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” karya Cindy Adams diceritakan bahwa beliau sering menghabiskan waktunya di bawah sebuah pohon sukun. Beliau keluar dari rumahnya setiap pagi ke pohon sukun yang berdiri di sebuah bukit kecil menghadap teluk, cukup jauh dari rumahnya. Dalam buku itu Bung Karno mengatakan;
“Dan aku melihat pekerjaan daripada Trimurti dalam agama Hindu. Aku lalu duduk dan memandang pohon itu. Aku melihat Brahma Yang Maha Pencipta dalam tunas yang berkecambah dikulit kayu yang keabu‐abuan itu. Aku melihat Wishnu Yang Maha Pelindung dalam buah yang lonjong berwarna hijau. Aku melihat Shiwa Yang Maha Perusak dalam dahan dahan mati yang gugur dari batangnya yang besar”

Begitulah Sukarno mengabiskan waktunya berjam-jam untuk merenung dibawah pohon sukun tersebut. Ditempat itu, Sukarno bisa mendapatkan ketenangan dari pemandangan laut lepas yang tiada menghalangi. Sampai akhirnya Sukarno mendapatkan ilham dari Tuhan Yang Maha Esa untuk merumuskan lima dasar negara Indonesia, yang kelak akan menjadi pondasi bagi kemerdekaan dan persatuan bangsa Indonesia, yakni Pancasila.

Ende menjadi tempat yang memiliki kesan tersendiri bagi Bung Karno. Ketika Indonesia sudah merdeka, Bung Karno menyempatkan diri untuk kembali ke Ende menemui Abdullah Ambuwaru pada tahun 1950. Kepadanya beliau meminta agar rumah yang dahulu ia tempati ini dijadikan museum agar generasi muda selanjutnya dapat mengenang dan mengambil hikmahnya. Sementara itu, pohon yang sering dijadikan tempat berteduh Sukarno itu sudah tumbang di makan usia. Sebuah pohon sukun di tanam kembali ditempat yang sama. Uniknya, pohon sukun itu memiliki lima cabang yang diyakini oleh masyarakat sekitar sebagai wujud dari lima butir Pancasila yang dihasilkan dari perenungan Bung Karno. (Syahid)