Epilepsi – Ruwajurai.com

Episode pamungkas Koko Lee ….
Kedua istri Koko Lee duduk bersanding akur. Sesekali saling menggenggam tangan, transfer kekuatan. Hanum mengelus perutnya yang membuncit. Kehamilan anak keduanya dengan Koko Lee.
.
Aliya terdiam khusyuk, sesekali tatapannya menerawang jauh. Ingatannya tak bisa lepas dari suaminya. Ada segumpal penyesalan, tak bisa bersanding mesra dengan suaminya pada saat-saat terakhir.
.
Ingatannya mengembara ke tahun-tahun semasa masih punya kesempatan bercumbu mesra.
.
“Ko, aku nanti minta anak lima ya?”
.
“Yakin? Banyak amat?”
.
“Hahaha …, kan ada Umi, dan para santriwati yang bantuin momong, Ko.”
.
“Seterah kamu aja.”
.
-*-
“Dik Aliya kapan ke Mantingan? Kasihan dah lama ninggalin pondok putri.”
.
“Kak Hanum jaga anak Koko Lee ya. Kalau boleh si Fatir nanti aku yang ngrawat. Dia mirip abinya. Izinkan aku punya kenangan tentangnya, Kak. Aku janji akan mendidiknya dengan baik.”
.
Hanum terdiam, kembali mengelus perutnya. Permohonan Aliya memang sangat manusiawi. Nasibnya kurang beruntung. Ia belum punya kesempatan mendapatkan keturunan. Keinginannya menimba ilmu memupuskan segalanya. Tiga tahun berpisah, begitu pulang segalanya telah berubah.
.
Flashback empat bulan yang lalu ….

Sekelompok santri sudah kelar memberi makan di kolam lele. Koko Lee bermaksud memijah induk lele untuk dibiakkan.
.
“Ko, kami mau tawasulan, cabut dulu ya.”
.
Azis, Khoiri, dan Hisyam pamit.
.
“Oke.”
.
“Assalaamu’alaikum, Ko.”
.
“Wa’alaikum salaam warahmatullah ….”
.
Beberapa saat para santri berlalu, Koko Lee nyemplung ke kolam. Tidak ada yang tahu pasti, bagaimana kronologinya. Jelang asyar para santri menemukan tubuh Koko Lee tertelungkup di kolam. Langsung penghuni pondok panik. Tubuh Koko Lee dibersihkan dan diganti pakaiannya dengan kain sarung. Bajunya kotor berbau amis. Buru-buru dilarikan ke rumah sakit. Dari keterangan keluarganya, Koko Lee semasa kecil sering kejang-kejang. Dimungkinkan ia punya sejarah epilepsi. Saat kambuh dalam posisi di air, kehilangan kesadaran, hingga akhirnya tak tertolong.
.
-*-
“Iya, Dik Aya. Kita bagi-bagi tanggung jawab. Kita juga harus menghidupi diri sendiri.”
.
“HPL kapan, Kak?”
.
“Ya minggu ini Dik, doa’in gangsar ya.”
.
“Iya, Kak. Nanti aku tungguin. Tenang ya, Kak.”
.
Masing-masing mengusap air mata. Kehilangan yang teramat sangat, sungguh mampu menyatukan hati kedua istri almarhum Koko Lee. Tak ada lagi iri, cemburu, dan persaingan. Kini harapan mereka adalah bisa bekerja sama bahu membahu mendidik dan membesarkan anak-anak suaminya.
.
“Ko, mana janjimu? Belum satu-pun buah hati kauberi untukku.” Aliya sesenggukan.
.
“Dik ….”
.
Perut Hanum nampak tergoncang. Ia memeganginya. Dirasakan kontraksi dan pinggangnya panas.
Ia berdiri kemudian membungkuk mencoba melemaskan.
.
“Kenapa, Kak?”
.
Aliya panik mendapati Hanum meringis menahan nyeri kontraksi.
.
“Sik, Dik. Aku ke kamar kecil dulu. Mules.”
.
Hanum berasa mau melahirkan, segera ia menelepon bidan Retno. Tidak lama mobil jemputan dari klinik datang.
.
-*-
Kyai Basir dan istrinya, Aliya, Bu Karso, Cik Mei, juga mami-papi Koko Lee ikut menunggui persalinan Hanum. Tidak lama, kurang lebih dua jam tangis bayi terdengar. Bayi lelaki kembali yang terlahir.
.
Kadang Allah memaksa untuk membuka erat genggaman, dengan maksud menggantinya. Kelahiran, kematian, perpisahan sesuatu yang alami. Tak perlu terlalu bersedih. Semua milik Allah dan akan kembali pada-Nya.

Penulis : Emak SW