Haruskah Cinta Bersama Rangga ..? – Ruwajurai.com

Alhamdulillah, yes! Mendarat juga di Bandara Ahmad Yani. Aku di sini hanya lima hari jadi harus sesuai dengan jadwal yang direncanakan. Biasanya aku tidak mau membuat jadwal seperti ini. Tapi apa boleh buat. Uang juga sudah terkuras untuk membeli tiket. Belum lagi biaya lain selama di sini.

Pertama, aku ingin jumpa saudara. Sepupu dan istrinya. Mereka kos. Jadi mana mungkin merepotkan mereka. Beruntung aku memiliki kenalan dari dunia maya yang berasal dari kota tempat tinggalku, Medan. Dia biasa dipanggil dengan sebutan Mak Cik Nila. Wanita yang telah melewati ulang tahun emas itu menawari aku untuk tinggal di rumahnya selama di Semarang.

Tujuan lain ke Semarang, aku mau lihat kedai Bang Rangga. Dia baru-baru ini membuat kedai makanan di sini. Nama kedainya, Kwetiau Sudirman. Memang, Bang Rangga mengidolakan Jenderal Sudirman makanya nama tempat itu Kwetiaw Sudirman. Sengaja aku tidak mengabarinya ke sini. Dia sudah benci sekali samaku jadi segan untuk sekadar memberi kabar. Kalau bisa pun aku tak mau jumpa dia. Hanya mau duduk di kedainya itu.

Setelah urusanku dengan sepupu sudah selesai, aku langsung jalan-jalan sendiri di Semarang. Sebenarnya Mak Cik menawari untuk jalan-jalan bersamanya. Tapi aku segan. Dia kan harus kerja. Diizini menginap di rumahnya saja sudah syukur. Belum lagi setiap malam aku membentuk sebuah ‘pulau’ di bantal tidur di rumah Mak Cik. Sudah menjadi kebiasaanku kalau tidur ileran. Terus aku makannya banyak. Sarapan pagi sampai tiga piring. Kasihan Mak Cik. 🙁

***

Setelah sampai di kedai Bang Rangga, aku melihat dia sedang mengobrol bersama temannya. Dia melihatku seolah-olah seperti hantu. Aku hanya menyengir saja. Terus langsung pesan makanan dan minuman kepada pelayan. Tiba-tiba dia mendatangiku,

“Kok bisa sampek sini kau, Cinta?”

“Awak beli tiket, teros naek kapal terbang. Sampeklah di sini, Bang.”

“Is, kok nggak ngabari?”

“Datar kali Abang. Abang kan benci kali ma awak.”

Sambil makan kwetiaw, aku bilang sama dia,

“Bang, ini cam mie balap dekat rumah awaklah.”

“Mati kita! Mie balap pulak katanya. Bukan Medan ini, Cinta. Eh, sama nggak rasanya?”

“Awak nggak ngerti soal rasa, Bang. Bagi awak semua makanan asal halal itu enak.”

“Datar kalilah kau..”

Setelah selesai makan aku diajak Bang Rangga jalan-jalan. Hanya sebentar. Seperti biasa, kami membicarakan musik. Bang Rangga ini mantan guru pianoku dulu waktu SMA. Hanya tiga bulan saja les sama dia, eh, tepatnya les piano. Aku bosan belajar piano walau sampai sekarang masih suka mendengarkan suara alat musik yang diciptakan oleh Bartolomeo Cristofori pada awal abad ke 18.

Jujur saja, Bang Rangga ini cinta pertamaku. Aku jatuh cinta sama dia bukan waktu SMA dulu. Ya, sekarang ini. Ketika umurku ah… Sudahlah. Malas ya bahas umur. 😀

Tapi ya begitu, cinta kami sulit untuk bersatu. Karena apa? Nah, kalau ini juga susah untuk dijelaskan. 😀

***

Satu tahun kemudian…

Satu tahun sudah berlalu sejak aku ke Semarang dulu. Aktivitas di Medan masih sama. Masih menghitung uang orang dengan antrian nasabah yang cukup seperti kereta api panjangnya. Kalau perasaan terhadap Bang Rangga? Ah, aku sudah tak tahu bagaimana bentuk rasa itu.

Aku bukan tidak mau membuka hati untuk ‘Rangga’ lain. Tapi, apa harus ‘Rangga’ lagi? Apa tidak bisa nama lain saja?

***

Pagi ini suasana bank terasa datar. Heran. Padahal ini Jumat. Seharusnya sejak pagi nasabah sudah antre. Ini hanya ada kurang lebih lima belas orang saja yang berdiri di antrean. Salah satu dari lima belas orang itu bukan wajah yang asing bagiku. Pria dengan hidung minimalis yang aku sebut pak guru itu pagi ini menjadi nasabah yang aku layani.

“Selamat pagi, Pak. Dengan Cinta ada yang bisa dibantu?”

“Pagi, Cin. Abang mau setor.”

Sambil aku hitung uangnya, aku dan dia saling bertatapan. Tatapanku tak lagi seperti dulu. Kali ini aku menatapnya dengan datar dan kaku.

“Cin, ini tiket konser mantan murid-murid abang dulu di Santika Hotel Sabtu ini.” Dia menyodorkan sebuah tiket konser.

“Makasih, Bang. Sabtu ini awak ada acara keluarga.”

“Acara apa?”

“Lamaran, Bang?”

“Cin? Sama siapa?”

“Bukan awak, Bang. Si Fatma, sepupu awak lamaran.”

“Oh….!”

“Tapi, Bang. Mungkin saja setelah itu awak.”

“Udah ada calonnya?”

“Belum, Bang.”

Dia kembali tersenyum.

“Tapi, itu gampang, Bang. Awak rasa yang suka ma awak adalah itu pasti.”

“Iya, Cin.”

Setelah itu aku melayani nasabah lain.

“Antrian selanjutnya, silakan.”

“Selamat siang, Pak. Dengan Cinta ada yang bisa dibantu?”

“Saya mau setor.”

Sambil melihat bapak itu, Cinta berkata pelan,

“Sepertinya bapak baru pertama kali ke sini, ya?”

“Ya, saya bukan orang Medan, Dek.”

***

Haruskah Cinta bersama Rangga? Aku rasa tidak ada yang pasti di dunia ini sebelum manusia bertemu dengan takdirnya. Ya, Cinta tak harus bersama Rangga.

-Selesai-

Penulis : Raihana Kumbara