Hidupku Adalah Bahagia dan Derita

Deskripsi manusia sebagai mahluk yang memiliki kesadaran dalam tindakannya selalu meletakkan tahap-tahap untuk sampai pada tujuan. Tahapan –tahapan melahirkan konsekuensi pada diri manusia yang melakukan perjalanan. Perjalanan kehidupan manusia secara gradual jatuh bangun tapi berada pada optimisme hidup. Hidup ini bukan absurditas dan nihil sebagaimana tersartir pada benak manusia modernis dibarat dan pengagum modernisme hatta yang nyata maupun terselubung. Absurditas pada manusia modern tidak lain ialah suatu ambiguisitas pada jiwa bahwa keinginan manusia secara fitrah untuk bahagia tidak sejalan dengan kenyataan yang dialami manusia. Disatu sisi manusia pada dirinya ingin bahagia, pada sisi lain dirinya mengalami penderitaan, antara bahagia dan derita sama – sama eksistensi pada jiwa manusia. Kita mau memilih yang mana bahagiakah atau derita? Apa nikmatnya jika hidup itu bahagia terus, apa juga deritanya derita jika hidup itu menderita terus. Nilai dari kehidupan dalam perjalanan manusia memiliki tingkatan dan kenikmatan apabila sekali kali bahagia dan sekali – kali menderita. Apabila hidup ini bahagia terus, apa arti bahagia? Apabila hidup ini menderita terus apa arti menderita? Tidak berarti sama sekali. Hal tersebut masyarakat modern terjerembab dan menginginkan kebahagiaan saja begitu juga sufisme sebaliknya. Jika begitu apa masalah dalam kebahagiaan ini sehingga manusia menginginkannya? Dan apa pula penderitaan ini sehingga manusia takut padanya? Dan ada apa pada transisi kebahagian dan penderitaan?

Analisis
Semua manusia pasti menginginkan kabahagiaan sebagai sesuatu yang esensial pada diri manusia. Artinya kebahagiaan ialah sesuatu yang dimiliki manusia dan sesuatu tersebut tidak mau dilepaskan. Jika dilihat bahwa kebahagiaan ialah pencapaian jiwa manusia karena dorongan hal yang fitri. Apa yang ada dalam kebahagiaan sehingga manusia menginginkannya? Dalam kebahagiaan terdapat kebersamaan antara subjek dan objek, tak terbedakan serta mengalami kesatuan. Sehingga melepaskannya sama hal dengan membunuh diri subjek.

Jika pada proses intelektual subjek menghadirkan objek pada dirinya dengan kekuatan imajinasi sehingga yang hadir hanyalah bentuk – bentuk dari dirinya sendiri. Proses tersebut terjadi keterpisahan antara subjek yang mensifati dan objek yang disifati seraya memunculkan dualitas pada jiwa. Begitu banyaknya bentuk imajinasi yang hadir pada manusia membuat jiwa manusia bingung mengarahkan pada satu bentuk imajinasi, artinya dominasi material sangatlah kuat untuk mendorong jiwa untuk tidak menyatu dengan sifat pada objek yang disifati oleh pensifatan.

Maka pelepasan material ialah syarat untuk menyatu pada orientasi jiwa yang satu. Pelepasan material bukan berarti kita tidak makan, minum dll melainkan pelepasan material ialah makan dan minum sudah tidak berdasarkan kesukaan manusia, sederhananya apa yang ada didepannya dia makan atau minum seadanya. Bahwa pelepasan material ialah bentuk tak terdominasi manusia dengan ide primernya.

Keterlepasan imajinasi material membawa pada suatu pandangan jiwa segala sesuatu dalam kesamaan, artinya telah terwujud kesatuan realitas pada dirinya. jiwa manusia tidak lagi mampu membedakan mana yang dipilih sesuai kecenderungan manusia melainkan semua tak terbedakan bahwa antara keittibarian menjadi hakiki. Inilah kebahagiaan yang didapat oleh jiwa manusia, yang pertamanya terpisah menjadi menyatu. Apa yang menyatu dalam jiwa itu? Penyatuan makna dengan makna atau bathin dari sesuatu tersifati pada diri subjek secara eksistensial.

Sehingga satu tersakiti maka tersakiti semuanya, satu menangis maka menangis semuanya. Begitu tingginya terjagaan dan penyatuaan tersebut menyebabkan diri manusia sensitif terhadap apa-apa yang hadir yang mengganggu penyatuan. Misalnya kalau subjek sudah mencintai sama sesuatu yang dicintai jika terjadi perubahan sekecil apapun pada objek, subjek dengan mudah mendeteksinya. Sehingga kefanaan pada subjek mewujud secara totalitas.

Tapi ada yang bertahan dalam tingkatan kefanaan bahkan manusia senang bertahan dan berdiam selamanya dalam keadaan ini. Jika memang begitu, apa lagi makna kebahagiaan itu? Bagaimana manusia bisa mengetahui kualitas kebahagiaan yang dia dapatkan jika bertahan dalam kebahagiaan secara stagnan? Dimana makna kerinduan? Dalam kebahagiaan dengan kefanaan, kerinduan tidak hadir pada jiwanya bahwa apa yang mau dirindukan pada posisi penyatuan tersebut.

Pengukuran kualitas kebahagiaan ialah melewati proses kerinduan yang dalam yang terjadi karena keterpisahan. Kebersamaan subjek objek dalam kualitas tingkatan selanjutnya melahirkan keterpisahan inilah penderitaan, bahwa pada penderitaan tersebut manusia menemukan kebahagiaan dan kebersamaan memiliki arti sehingga pertemuaan menjadi sesuatu yang dirindukan. \

Jadi keterpisahan/penderitaan tidak menyebabkan pertemuan maka bukanlah tujuan penderitaan, jika kerinduan berakhir pada penderitaan dan keterpisahan total maka kerinduan ialah harapan palsu tujuan metafisika. melainkan penderitaan ialah kedekatan yang bernilai yang akan terealisasi atau bahasa sederhananya penderitaan akan berakhir pada pertemuan.

Maka penderitaan ialah kesadaran pada jiwa manusia untuk menemukan kualitas kebahagiaan. Dimana kualitas kebahagiaan tersebut? Bagaimana pertemuan kembali pasca penderitaan itu?. Kualitas kebahagiaan terdapat pada penderitaan dan kerinduan yang terjadi pada jiwanya sehingga Kebahagiaan pasca penderitaan ialah penyaksiaan mengenai apa telah tersatukan sejak dulu, bukan lagi menyatu dengan cinta melainkan bertemu efek cinta yang nyata. Sehingga perpaduan pada tindakan dan jiwa akan berefek pada yang lain.

Jika kebahagiaan awal hanya milik diri subjek sendiri tapi kebahagiaan pasca penderitaan ialah kebahagiaan yang berefek pada semua. Artinya kebahagiaan individu mentrsnformsikan pada kebahagiaan sosial, sehingga yang ada ialah bukti kebahagiaan bukan makna kebahagiaan (rahmatal lil alamin).

Disinilah kebahagiaan yang hakiki, yang tak terlepas antara subjek cinta, objek cinta dan cinta itu sendiri. Dengan demikian kerinduan diakibatkan keterlepasan/penderitaan mengarahkan pada kebersamaan akan pertemuan sesama mahluk bersama tuhan. Sehingga kekuatan kerinduan melahirkan suatu daya juang dan kehati-hatian, artinya dalam kerinduan untuk bertemu teruji kesetiaan antara pencinta dan yang dicinta. Apakah pada perpisahan tersebut manusia masih merindukan yang dicintai, jika tidak maka dia tidak akan mengalami pertemuan bahwa apa yang dirindukan dia akan bertemu dengan yang dirindukan tidak selain itu.

Jadi kerinduan akan menarik satu sama lain yang saling merindukan dan menolak yang lain yang tidak dalam garis kerinduan. Apabila engkau bertemu dengan manusia kelak, dalam pemisalan ini orang tersebut harus disadari dialah orang engkau rindukan. Dengan begitu merindukan yang sengaja untuk dirindukan agar ketidak mampuan karena kerinduan dalam keterpisahan melahirkan antusias yang kuat untuk bertemu.

Pertemua dari kerinduan itulah awal manusia melakukan transformasi sosial sebagai wadah penyebaran cinta dan kebahagian. Dari hal tersebut gerakan sosial tidak menyengsarakan dan menzalimi masyarakat. Stop mengatas namakan rakyat apabila dalam dirimu masih mencari dan belum bertemu terhadap yang engkau rindukan. Berbahaya jika yang dirindukan ialah kepentingan.
Wallahu alam.

Fadlun Sangaji

Penulis :  Fadlun Sangaji