” Hongkong With The Rain ” Part 1

Hujan masih deras mengguyur bumi. Terlihat kilatan kilatan marah di langit yang sendu. Satu dua kulihat orang-orang berjalan terburu -buru. Jam masih menunjukkan pukul 5 sore, saat aku berdiri ditepi jembatan ini, terdiam mengutuk diri.

Brrtttt ! hp disakuku bergetar, menyentakkan lamunanku. Sebuah pesan masuk dari nomer yang tak ku kenal.

“Ell”

“Siapa?” aku penasaran

“Apa kabarmu?”dia tak mengacuhkan pertanyaanku, membuatku semakin penasaran.

“Aku baik-baik saja, kau siapa sih?” aku semakin penasaran,
mencoba mengingat-ingat ini gaya tulisan siapa.

“Aku Han” Deg! hatiku mendadak menguap. Ingatanku tentang cerita lama kembali menguak pagar-pagar hati yang slalu kujaga agar tak terbuka lagi.

“Ada apa?” aku bertanya acuh

“Bisa bertemu besok? aku besok ke Tsim Tsa Sui”

“Dalam acara apa?” aku heran

“Besok kau akan tau sendiri”
***

Lagi-lagi hujan turun mengguyur, saat kulangkahkan kaki menuju bus stop. Tak nampak satupun bus yang berhenti disana. Tapi aku tetap menunggu, rasa penasaran akan bertemu Han semakin bergejolak didada.

Akhirnya bus yang aku tunggu datang juga. Buru buru aku menerobos masuk kedalam bus yang pintunya belum sepenuhnya terbuka.
Sepanjang perjalanan aku hanya menghitung titik hujan, berusaha membuang kenangan-kenangan lama bersamanya. Sangat sulit kurasa.

Bus yang aku tumpangi akhirnya sampai juga. Udara terasa menggigit. Musim dingin baru memasuki bulan bulan pertama, membekukan setiap persendian, menggigilkan rindu yang semakin terpendam.

Kulihat sosok jangkung itu berdiri canggung. Memakai jeans biru dengan baju senada memberikan kesan cool pada laki laki yang pernah berlabuh dihatiku 5 tahun yang lalu itu.

“Hay?” aku menyapanya kaku, seakan ada yang tercekat ditenggorokanku

“Hay…,kau tampak berbeda” pujinya, membuat pipiku terasa memanas.

“Ada perlu apa?” tanyaku berbasa-basi menutupi grogi

“Aku rindu” bisiknya lirih, tapi terdengar jelas ditelingaku.

“Bukankah kau akan menikah bulan depan?” tanyaku, sambil memandangnya dalam dalam.
Sekali lagi aku melihat mata teduh yang slalu aku rindukan.
Dia mengangguk mengiyakan.

Jawabannya benar-benar membuatku nelangsa. Dadaku terasa sesak, hatiku mulai lembab, dan kurasa hatiku mulai sembab.

Tuhan, aku terluka mendengarnya, hatiku yang sudah kutata sedemikian rupa kembali porak poranda.

Namun kuharus.sembunyikan luka. Aku tak ingin mengusik kebahagianya, meskipun perpisahan kami dulu sangat menyedihkan. Bukan karena orang ketiga, tapi karna tak mengantongi restu orang tua, membuat kami harus menelan getirnya perpisahan.
Cinta memang tak seindah dalam mimpi semalam, bisikku meratapi keadaan.

Obrolan berlangsung kaku. Maklum hampir 5 tahun kami tak pernah bertemu. Sejak aku merantau ke Hongkong aku tak lagi mendengar kabar tentangnya, baru setahun yang lalu kudengar dia telah menjadi Tki Korea dan sekarang dia tengah menikmati libur musim dinginnya di Hongkong, hal yang biasa dilakukan oleh pekerja pekerja migran asal Indonesia yang bekerja di Negeri gingseng tersebut.

“kau terlihat lebih bahagia” ujarku menahan sesak didada.

Han tak menjawabku, dia malah menatapku lama, membuat bulir bulir airmata yang sejak tadi kupendam akhirnya terjatuh juga, Tuhan aku tak kuasa!
Dia tersenyum, tapi aku melihat senyum itu tak sepenuhnya bahagia, entahlah mungkin hanya perkiraanku saja.

“Aku tak tahu, Ell”

Dia tampak mengambil nafas panjang. Sejurus kemudian meneruskan ucapannya.

“Aku mengharapkan doamu, Ell”

Aku terdiam cukup lama, membiarkan hatiku bergemuruh menahan luka.

“Aku akan slalu mendoakanmu” jawabku berusaha kelihatan ikhlas, aku tak mau terlihat begitu cengeng didepannya.
**Hujan masih belum mau berhenti, ketika kami memutuskan untuk berjalan jalan menyusuri taman. Sore itu dua anak manusia kembali mengulang kisah-kisah lama. Dan kami seperti anjing buduk yang mengais ngais lembaran cerita lama yang sudah terkubur diantara puing puing perbedaan.

Kami banyak bercerita,tentang masa lalu yang indah,tentang taman, losmen_losmen murahan, tentang pantai dan berakhir dltentang perpisahan…Akhh sungguh menyakitkan!

Senja terus berlalu,malam mulai datang. Hatiku kembali bergetar, perasaan aneh mulai menyelimuti hati kami. Dan akupun tersadar ini tak boleh terjadi lagi. Jam menunjukkln pukul 8malam. Aku harus segera pulang karena jam liburku hanya sampai jam 9.

Akhirnya aku berpamitan pada Han, melepaskan setiap kenangan,dan merelakannya menikah bulan depan.Ku lihat Han hanya melongo saat lancang ku peluk tubuh jangkungnya sebelum aku menghilang diantara kerumunan orang yang tengah mengantri menunggu bus malam.
Akhh! kutekan dadaku,kurasakan rasa sakit itu, sama dan sekali lagi !

Hongkong With The Rain

Hongkong With The Rain

Oleh : Ell El