Hongkong with the rain part 3

Pergantian musim ini terasa menyiksa. Suhu terus menurun sampai 9°celcius. Tulang terasa membeku, tubuh menggigil setiap waktu. Tak ada tempat paling nikmat selain ranjang dan selimut tebal. Tapi, apalah daya, aku hanya seorang tkw, meski cuaca tak mendukung, tangan harus tetap bekerja. Alhamdulillah aku masih selalu mensyukurinya.

Siang ini udara terasa semakin dingin, anak yang kujaga masih disekolah merayakan chrystmas party, begitupun dengan majikanku.
Jadi ada sedikit waktu bagiku untuk sekedar duduk santai setelah lelah bekerja.

Chrystmas tahun ini slalu berlalu seperti tahun tahun lalu, keluarga majikanku yang beragama kristen selalu merayakanya. Meski begitu mereka adalah manusia manusia yang penuh toleransi, tak sedikitpun mereka menyuruhku makan daging babi setelah tahu bahwa agama melarangku, begitupun dengan hijabku,tak sedikitpun mereka keberatan terhadap apa yang aku kenakan.

Aku jadi teringat natal tahun lalu, mereka heran ketika aku tak mengucapkan “merry chryshmas” kepada mereka, saat natal tiba.
Lalu kujelaskan bahwa agamaku melarang merayakan hari hari besar yang tak pernah diajarkan oleh Nabiku. Majikanku masih keheranan, sebab temanku yang bertugas menjaga ibunya juga slalu mengucapkannya setiap perayaan natal tiba. Sekali lagi aku harus berfikir sebelum menjawabnya, mengapa aku tak mengucapkannya? bukan ajaranya yang berbeda tapi, karena memang kadar iman setiap orang berbeda,tak boleh kau pukul sama rata, dan alkhamdulillah majikanku memahamiku sekali lagi.

**

Waktu terus berjalan, hari terus berganti, ini sudah hari ke 21 sejak pertemuanku dengan Han hari itu.
Terasa sepi, kembali kujalanani hari yang menyiksa hati. Kau jahat Han! seandainya kemaren kau tak datang lagi, mungkin hatiku tak akan kacau seperti saat ini.

Apa maksudmu menemuiku lagi, Han? untuk apa? apa kau sengaja ingin kembali membuka luka?.

Hari hari yang kujalani terasa berjalan lamban. Tak ada semangat, tak ada keceriaan. Disudut sudut ruang hampa ini aku kembali menata hati, kembali membangun pagar pagar jiwa. Mungkin inilah takdir yang tak memihak, biarlah Han!
Semoga engkau bahagia selalu, denganya! Semoga!

Ell El

Penulis : Ell El