” Jodoh yang Tak Dirindukan ” Part 1 ( Diangkat dari kisah nyata )

“Eh, maaf …, saya kira kamu teman saya,” ujarku dengan wajah nyengir. Malu dibilang malu karena salah sapa orang.

Aku kira dia Reina. Kerudung warna biru langit, tas pinggang kulit warna kecokelatan, dan pakaian gamisnya persis dari belakang seperti sosok Reina. Bahkan tubuhnya yang mungil nyaris persis. Aku bingung, kemana perginya Reina? Gadis yang tadi ngobrol denganku di kantin kampus sebelum aku tinggal salat Djuhur. Aku perantau di kota ini, aku pun tergolong seorang introvert, tapi entah kenapa aku nyaman dengan sosok gadis teman baruku di kampus itu yang bernama Reina. Dia yang pertama kali menyapaku, hingga mengalir panjang mengobrol banyak hal.

Huuuh, melihat para mahasiswa baru di kampus itu yang asyik ngobrol dan diskusi bersama, jujur membuatku iri. Ingin rasanya bergabung dengan mereka, tapi apa daya, aku tidak bisa menyingkirkan sikap minder ini. Sebagai mahasiswa baru, seharusnya aku menjadi pribadi yang ekstrovert agar bisa beradaptasi dengan teman-teman baru.

Sudahlah, aku ikuti saja alurnya. Jika aku bosan, aku akan kembali pulang ke kampung halaman, Jogjakarta. Orang-orang di sini kebanyakan asli tinggal di kota Jakarta, entah kenapa aku agak malas berhubungan dengan orang Jakarta. Ah, mungkin memang karena sikapku saja yang terlalu dingin. Siang itu aku memutuskan untuk kembali ke kosan, jaraknya tak jauh dari kampus baruku itu.

“Maaf, Mas, numpang tanya …” seorang pemuda menyapaku. Aku tersenyum lugu kepadanya.

“Iya, Mas ….,”

“Kalau mau cari kosan di mana ya?” tanya pemuda itu. Ia memakai almater merah kampus itu. Ya, aku bisa tebak kalau dia adalah mahasiswa baru, sama sepertiku.

“Kosan kosong, Mas mahasiswa baru ya?” aku berdiri dan tersenyum padanya.

“Iya, Mas …, saya mau cari kosan, baru datang dari kampung …”

Aku sedikit mengamati dirinya, ia membawa tas ransel yang berisi banyak barang bawaan. Kuajak ia bersalaman. Tumben aku berani, biasanya aku pura-pura tak tahu kalau ditanya orang seperti itu. Kami sedikit berbincang, nama pemuda itu Umar. Dia mahasiswa baru di kampus itu, perantau asal kota Semarang. Sesekali kami bercakap dengan bahasa jawa halus.

Beberapa menit kemudian, kuajak dia ke kosanku, sekalian aku ingin pulang untuk istirahat. Dalam perjalanan, Umar yang lebih sering membuka obrolan. Aku agak masih canggung, tapi kupaksakan untuk berbincang dengannya. Umar kuantar ke lokasi kosan kosong, tak jauh dari kosanku, jaraknya hanya beberapa ratus meter. Aku tahu karena kulihat tulisan terpampang di depan bangunan itu.

“Mas fakultas apa?” tanyaku.

“Fakultas tehnik mesin, Mas …” jawabnya, “Lha, Mas-nya dari fakultas opo?” ia merangkul pundakku.

“Saya fakultas, Sastra Indonesia …” ujarku agak canggung. Ia hanya mengangguk-angguk.

Sama seperti gadisn manis berkulit putih natural yang tadi baru kukenal, Reina. Dia pun dari fakultas sastra Indonesia, tapi aku tidak satu kelas dengannya. Lain waktu, aku yakin pasti kami bisa bertemu lagi. Ada rasa yang masih bergelayut di batinku tentang sosok Reina, mendengar ceritanya saat di kantin kampus tadi …, ia tampaknya orang cerdas. Dari tutur katanya, dan pengetahuannya tentang kesusatraan, kuakui dia pintar. Sayang sekali aku tidak sempat minta nomor kontaknya.

Aku dan Umar sampai di kosan itu, langsung saja Umar memanggil empunya dari luar. Seorang perempuan yang sedang melintas menyapa kami, ia menanayakan maksud kami. Lalu setelah Umar menjelaskan, perempuan muda itu mengantar kami ke sebuah rumah yang dekat dari kosan kosong itu. Ternyata pemiliknya ada di sana.

Perempuan itu memanggil empunya kosan. Keluarlah seorang sosok perempuan muda, aku sedikit terkejut saat melihatnya. Dia Reina! Perempuan yang tadi ngobrol denganku di kampus. Aku tak menyangka, ternyata rumahnya dekat dari kampus. Setelah berbincang sedikit dengan Reina, ia kemudian mengajakku dan Umar untuk melihat ruang kamar kosan itu. Bersih, wangi, dan sejuk tempatnya, sangat terawat. Padahal di Jakarta, oiya …, sepertinya aku salah sangka dengan orang Jakarta yang kukira kasar, mereka ramah-ramah kepada pendatang baru. Umar tak banyak pikir, ia langsung membayar uang sewa untuk bulan pertama kepada Reina dan menempati kamar itu.

Aku berbincang lagi pada Reina dan Umar, kami saling buka suara, mungkin aku bisa akrab karena satu kampus dengan mereka. Ah, sudahlah, kubiarkan jiwaku ini mengalir semaunya.

Reina pemilik kosan itu, ia tinggal sebatangkara. Bangunan bertingkat dua lantai dengan sepuluh kamar adalah peninggalan dari almarhum ayahnya yang sudah lima tahun wafat karena sakit. Ibunya Reina menikah lagi di negeri jiran dengan pria lain, dan tak ada kabar lagi. Tapi aku salut pada Reina, di usianya yang masih dua puluh tahun itu ia sanggup hidup sendiri. Aku dan Umar menyimak cerita Reina, dia sangat terbuka meskipun ada beberapa hal yang seharusnya tak perlu diceritakan pada orang lain.

Kulihat di dalam rumah Reina ada satu anak lelaki kecil, kira-kira usianya masih balita. Aku tak sempat menanyakan anak itu pada Reina, karena ketika itu aku pamit pulang. Dan Umar pun kembali ke kosan barunya untuk istirahat. Kulihat bocah itu mendekati Reina, dengan manjanya ia minta di gendong dengan Reina. Aku masih penasaran, siapa bocah itu. Sedangkan Reina mengakui dirinya anak sematawayang. Tetangga tak mungkin, sebab wajah bocah itu tampak agak mirip dengan Reina.
****

" Jodoh yang Tak Dirindukan "

Oleh: Eddy Pepe