Jodoh yang Tak Dirindukan (Part 2)

Hemm, sendirian di dalam kamar kosan rasanya bosan juga. Aku coba buka buku bacaanku, buku novel karya Eddy Pepe. Judul bukunya menarik, aku dapat buku novel itu dari seorang teman sekolah saat di Jogjakarta. Mengalir hingga aku terhanyut oleh satu tokoh pria yang ada di cerita cinta tersebut. Hhh, kisahnya menggambarkan kondisi hidupku saat ini, kisah tentang seorang pria yang hidup merantau sendirian, lalu ia menemukan jodoh dan impiannya di tanah ibu kota negara. Jodoh? Impian? Dua hal itu sedang kuperjuangkan memang, ah …, tak sadar aku hampir membaca habis buku novel itu.

Aku melaksanakan salat Asar di masjid terdekat. Pesan dari ayahku, dengan jurus kalamulloh, insya Allah di manapun aku berada aku akan tenang dan aman. “Ittaqillaha haytsumaa kunta …,” aku pegang kalimat tauhid itu sebagai pedoman anak rantau. Bertakwalah kepada Allah di manapun berada. Ya, artinya aku harus tetap beribadah di manapun aku berada, karena saat jauh dari orang tua, yang bisa menolongku dari kesusahan hanya Allah.

Baru sampai di depan gang, aku lihat ada keramaian. Oh! Kulihat seorang jambret sedang dikejar massa, gelagatku cemas melihat kejadiaan itu. Seorang jambret yang bertubuh tegap dan kekar lari dengan kencangnya sambil membawa tas, ia melintasiku, aku mundur beberapa langkah. Tak ingin ikut campur soal seperti itu. Hah!! Apa-apaan ini! Jambret itu melempar tas curiannya kepadaku.

“Lari!!! Lari!!” teriak jambret sialan itu kepadaku dengan suaranya yang terdengar kencang.

Aku panik bukan kepalang, sebagian massa yang mengejar jambret dengan geramnya malah justru menyergapku. Mereka mengamuk padaku, lalu aku dipukuli tiada ampun. Saat dipukuli massa aku berteriak minta tolong dihentikan, tapi mereka malah semakin menjadi-jadi kemarahannya. Ya! Aku dituduh komplotan jambret itu. Pakaianku sobek-sobek, kotor, wajahku lebam, beberapa bagian tubuhku bersimbah darah. Beruntung ada seorang bapak tua melerai massa yang menghujamiku dengan pukulan.

Saat membuka sepasang mata, aku sudah ada di pembaringan rumah seorang warga, aku pingsan. Kulihat ada seorang ibu yang sedang mengompres luka-luka memar di tubuhku.

“Sinta …, ke mari, Nak …, bawa minum teh hangatnya,” ibu itu tersenyum kepadaku. Aku pun membalas senyumannya.

“Maaf, Bu …, ini saya di rumah siapa ya?” tanyaku yang masih keheranan.

“Ini rumah pak ketua RT, Dik …,” ujarnya, “Tadi suami saya yang bawa kamu ke sini …,” tambah ibu itu.

Seorang gadis datang membawa minuman teh hangat dan beberapa potong kue, ia tersenyum melihatku. Setelah menaruh suguhan untukku, gadis bernama Sinta itu pergi lagi. Aku menatapnya, cantik, berhijab rapi, dan wajahnya tenang. Hhh, ibunya malah meledekku.

“Itu anak ibu … namanya Sinta,” cetus ibu sambil tersenyum kepadaku.

Aku berbincang pada ibu itu, menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya. Aku adalah korban salah tangkap, aku dituduh komplotan jambret. Ibu itu mengatakan padaku, bahwa pak RT yang menolongku tadi sedang menjelaskan pada warga tentang identitas diriku. Ya, aku memang sempat melapor pada ketua RT sebelum tinggal di kosan, tapi aku lupa wajahnya. Sinta masuk kembali ke dalam kamar, ia memberikan pakaian bersih untukku. Senyumannya aku suka. Hehehe.

Aku pun salat Asar, karena sebab tadi aku belum sempat menunaikannya. Ayah, anakmu ini, Yah. Sepintas pikiranku ingat ayahku di kampung halaman.

***

Oleh: Eddy Pepe