Cerpen : Jodoh yang Tak Dirindukan ( Part 3 ) Karya ” Eddy Pepe “

Menjelang adzan maghrib masuk, aku kembali ke kosan. Pamit kepada ibu dan keluarganya yang sudah berbaik hati untuk menolongku. Tak apalah, ini pelajaran hidup untukku, meskipun aku sudah berusaha berbuat baik di tanah rantau ini, namun aku tetap perlu berhati-hati untuk ke depannya. Aku anak rantau yang hidup sendirian di ibu kota ini, kewaspadaan pun penting bagiku. Ayahku sempat menelepon, menanyakan keadaanku.

Rasanya aku ingin sekali cerita tentang kondisiku yang kurang baik hari itu, namun lisan terasa diganjal oleh hati, aku tak tega jika ayah dan ibuku ikut sedih karena nasib yang kurang baik sedang menimpah diriku. Aku berusaha bicara dengan santai, seolah aku baik-baik saja dan merasa bahagia. Yah, apalagi aku ini seorang laki-laki. Aku harus tangguh. Setelah melaksanakan salat maghrib di atas sajadah sudut ruang kosan, rasanya hati ini rindu membaca al-Quran. Kubaca dengan tartil kitab suci yang jadi pedoman hidupku itu, air mata menetes, hatiku menjerit. Aku bertanya-tanya pada Allah, Tuhanku.

Bukankah setiap kejadian ada hikmahnya? Apa hikmah dari musibah yang menimpaku ini …, aku mengeluh di hadapan Tuhanku. Jarang sekali bisa kunikmati ketenangan seperti itu, sering kali hati ini keras. Sedikit aku pahami, ini cara Allah agar aku semakin mendekati diri kepada-Nya. Saat masih dalam kondisi duduk di atas sajadah, terdengar seorang pria memanggil dan mengetuk pintu kamar kosan-ku dari luar. Suara orang itu tak asing lagi di telingaku. Aku beranjak untuk membukakan pintu, dengan kedua telapak tangan, kuusap bekas tangisan di mataku. Benar, tamu itu adalah Umar. Ia tak sendirian, ia datang bersama Reina.

Aku agak canggung saat menyambut mereka, namun aku senang. Reina yang mengajak Umar untuk menemuiku malam itu, ia tahu kalau aku baru saja tertimpah musibah. Mereka prihatin melihat kondisiku yang penuh luka. Kedatangannya sedikit menghibur diri yang sedang galau ini, aku menjelaskan kejadiaan buruk yang baru saja kualami. Tapi kenapa ya …, hemm.

Kenapa hatiku merasa cemburu pada Umar, melihat mereka jalan berdua menjengukku, hati ini terasa ada yang janggal. Ah, sudahlah, mereka itu kan hanya sekadar teman, bahkan baru kenal. Tapi kulihat mereka begitu akrab, seperti pertama kali aku dan Reina kenal. Reina memberikan bingkisan hitam kepadaku. Masya Allah, ia memberikan aku bubur ayam. Sejak itu kami bertiga menjadi sering berkomunikasi, bahkan aku lupa dengan sifat introvert-ku. ****

Setelah mereka pulang, aku melamun. Bisa yah, orang rantau sepertiku ini mendapatkan teman baik seperti mereka? Peduli kepadaku tanpa ada rasa curiga. Aku ambil pelajaran dari mereka, jika berteman ya berteman saja, tak perlu ada rasa saling curiga. Biarkan saja mengalir, soal baik dan buruk itu akan tampak dengan sendirinya nanti.

Kuingat, dalam obrolanku dengan Reina tadi, ia menawarkan aku dan Umar untuk mengejar beasiswa lanjut kuliah gratis ke Hongkong yang diadakan oleh pihak kampus baruku itu. Itu jadi pemacu diri kami agar lebih semangat lagi belajar dan berusaha keras untuk bisa menjadi mahasiswa berprestasi di kampus. Hhh, aku tidak terlalu pintar memang, tapi dengan usaha keras dan doa kuyakin pasti bisa. Hongkong, aku akan datang. Tubuhku kelelahan, setelah salat Isya langsung saja aku berbaring di atas kasur tipis, dan tidur.

Mataku terpejam, entah mengapa terbayang olehku dua sosok wanita. Perlahan kondisi kesadaranku masuk dalam tidur yang lelap, wanita itu Sinta dan Reina, dua gadis yang baru kukenal. Hmm, entahlah kenapa hatiku jadi salah tingkah membayangkan mereka, rasanya ada kesan yang mendalam saat mengenalnya, hehehe. Ingat! Tujuanku ini adalah untuk menuntut ilmu, lupakan dulu soal cinta. Cinta? Hhh, bahkan aku tidak mengerti apa itu cinta. Selamat tidur. ****

" Jodoh yang Tak Dirindukan "

” Jodoh yang Tak Dirindukan part 3″

Oleh: Eddy Pepe