Jodoh yang Tak Dirindukan ( part 4 ) – Ruwajurai.com

Pagi hari, saat aku sedang membaca buku pelajaran kuliah. Datang seorang tamu yang mengetuk pintu kamar kos-ku sambil mengucap salam dengan santunnya. Suara seorang ibu, kukira dia pemilik kosan, ketika kubuka ternyata bukan. Dia adalah ibunya Sinta, ibu yang kemarin merawatku saat aku habis dipukuli massa karena kejadian salah tangkap kemarin sore. Ia membawa bingkisan, itu sarapan untukku. Aku menyambut hangat kedatangannya.

“Aduh, jadi nggak enak nih saya Bu … pakai repot bawain sarapan segala …” ujarku yang salah tingkah.

“Udah, nggak apa-apa, ibu sekalian mau lihat kondisi kamu juga …,

udah mendingan tapi kan?” tanya ibu itu sambil melihat luka-luka di tubuhku.

“Alhamdulillah, Bu …, pegal-pegalnya udah hilang sih ini …

” aku tersenyum lugu kepadanya. Aku berbincang sebentar pada ibunya Sinta.

“Ya udah, ibu pamit ya …, masih banyak kerjaan di rumah …” ujarnya.

Ucapan terima kasih berkali-kali kulontarkan kepadanya. Ia sangat baik, hmm, entah bagaimana caraku membalas kebaikannya itu. Bahkan ia mengundangku untuk hadir ke rumahnya besok, katanya ada acara pengajian mingguan. Aku pun dengan sigap mengiyakan. Begini rasanya hidup di tanah rantau, aku tahu berbagai tipikal banyak orang, ada yang baik dan ada yang jahat, setidaknya aku punya banyak pengalaman untuk kupelajari.

Sinta, aku terbayang lagi oleh wajah manis gadis itu. Mengingat saat ia tersenyum kepadaku, hmm, apakah ini pertanda kalau aku …, ah, sudahlah. Aku bersiap diri untuk berangkat ke kampus hari itu, setelah selesai makan sarapan dari ibunya Sinta, aku berangkat ke kampus dengan berjalan kaki. Meskipun kondisi kesehatan kurang baik, bukan jadi alasan bagiku untuk bermalas-malasan menuntut ilmu. Ya, aku tetap semangat hari itu.

***

Dalam perjalanan menuju kampus, aku menemukan selembar kertas yang ada di trotoar jalan. Aku tertarik memungut dan membacanya ketika melihat ada tulisan beasiswa kuliah. Dan, benar …, itu adalah brosur informasi kesempatan bagi mahasiswa berprestasi untuk bisa kuliah ke luar negeri. Program dari pemerintah, hmm. Sepertinya aku tertarik ketika melihat ada negara Hongkong yang menjadi salah satu daftar negara pilihan beasiswa itu. Ya, aku mau ke Hongkong untuk melanjutkan kuliahku, lewat beasiswa itu. Kusimpan brosur itu ke dalam tas ransel.

Dengan penuh tekad dan semangat, aku yakin pasti bisa terbang ke Hongkong. Tentang kemampuan, tentang kualitas otakku? Aku tak hiraukan itu, karena kata ayahku, “Keyakinan dan tekad yang kuat mampu mengalahkan segala segala halangan!” Dan aku percaya itu.

Saat sampai di depan gerbang kampus, Reina memanggilku dari kejauhan. Ia menghampiriku sambil tersenyum riang. Manisnya Reina, hari itu ia memakai busana gamis serba warna merah yang mencolok. Kami berjalan menuju kelas, ia menanyakan kondisiku. Dengan akrabnya kami berbincang banyak hal.

Reina mendapat kabar baik, dan ia menyampaikannya kepadaku. Katanya, kampus itu akan mengadakan program beasiswa ke Hongkong untuk para mahasiswa baru, nanti ketika semester genap ke-empat, bagi mahasiswa yang terpilih bisa masuk seleksi untuk mendapatkan beasiswa ke Hongkong. Yah! Aku semakin bersemangat, hehehe. Tapi kenapa selalu Hongkong yang jadi kesempatan itu ya? Hmm, semoga saja pertanda baik untukku, agar aku bisa membuat orang tuaku di kampung halaman bangga kepadaku. Berharap dalam hati kecil, aku bisa berangkat bersama Reina. Hehehe, entahlah.

***

Oleh: Eddy Pepe