Kecewa Dengan Tuhan – Ruwajurai.com

Saya betul-betul geram. Kini ia meninggalkan salat lima waktu karena kecewa dengan Tuhan. Setelah dikeluarkan dari pendidikan ikatan dinas kini berbagai bisnis yang dicobanya pun selalu merugi. Masalah jodoh pun berulang kali kandas. Ia merasa Allah tidak adil, dirinya yang selalu “lurus” dan beribadah malah berkali-kali gagal. Sedangkan mereka yang tak pernah menginjak tempat ibadah, curang bermain uang, wanita dan dunia malam malah berkelimpahan.

Hampir saja saya berkata kepadanya, “Mendingan orang atheis, ia tak pernah menyalahkan Tuhan atas nasib buruk dan kegagalan yang dialaminya. Mereka hanya meyalahkan diri sendiri.”

Memang orang atheis tak mempercayai Tuhan dan itu kekufuran. Tapi bagaimana dengan orang yang meninggalkan salat. Bukankah ia kufur setelah iman? Lebih mengerikan.

Satu lagi, seorang sopir rekan di tempat kerja. Hampir tiap bertemu selalu mengeluh tentang hidupnya. Tentang masalah ekonomi, keluarga, penyakit yang diderita istrinya lalu menghubungkan dengan keadilan Tuhan. Hampir sama dengan kasus pertama hanya saja ia masih rajin melaksanakan salat lima waktu. Berulang kali ia bertanya kepada saya dengan nada hampir sama, “Mengapa ada orang yang jauh dari-Nya, malah hidupnya mudah-mudah saja.”

Ia sudah bosan dengan jawaban klise.
“Oh itu ujian, itu istidraj yang diberikan kepada orang yang jauh dari Tuhan.”
“Allah menguji kamu apakah bisa bersabar. Jika bersabar pahalanya besar”

“Itu kasih sayang agar kamu lebih mendekat kepada-Nya.”
Kalimat semacam itu sudah tak mempan lagi marasuk di hati. Nasehat memang mudah diterima telinga. Terdiam kepala pun mangut-manggut seakan semua baik-baik saja. Tetapi jauh di palung kalbu ia merasa kecewa, doa-doanya seperti tak didengar oleh-Nya.

“Mengapa kamu tidak mensukuri yang bisa disukuri. Padahal itu lebih banyak dari yang selalu kamu keluhkan. Bisa bangun pagi sehat, anak istri masih ada, bisa sarapan, lalu berangkat itu sudah nikmat luar biasa. Coba bagaimana dengan mereka yang tidur di pengungsian, kedinginan tanpa pekerjaan, makan pun harus menunggu bantuan, “ ucapku saat kalimat manis sudah buntu.

“Jika mau berubah secara ekonomi ya keluar dari pekerjaanmu sekarang. Cari yang lebih baik atau berwira usaha. Hitung-hitungannya jelas kok. Kita juga diberi akal sama Allah. Masa iya minta kepada Allah menyelesaikan hal-hal yang bisa kita kerjakan. Bukankah Allah sudah memberi perangkat jiwa dan raga yang cukup? Berdoa bukan agar jadi manja. Memang Allah Maha Kuasa. Tetapi apa bisa dibenarkan kita kenyang tanpa usaha? Lha wong agar makanan bisa sampai ke mulut juga perlu usaha,” omelku panjang kali lebar.

Kesalahan pola pikir yang berlapis berganda. Penyimpangan cara berpikir material plus spiritual beginilah jadinya. Bukan berarti saya paling benar, tidak. Setidaknya saya selalu berusaha menyalahkan diri sendiri.atas nasib yang “kurang baik” menimpa diri. Memang saya pemalas, kurang usaha, tidak bernyali dan segudang kebiasaan serta sifat buruk yang lain. Sehingga cuma seperti ini “out put” aktifitas hidup saya sehari-hari.

Jika anda pernah menonton film WANTED pasti tergelitik dengan pesan yang disampaikan. Wesley sang tokoh utama yang hanya karyawan lugu, hidupnya kacau, dan serba terbatas. Padahal sebenarnya ia memliki bakat terpendam yang hebat sebagai ahli menembak sebagaimana sang ayah. Namun bakat genetika itu tak disadari karena ia memang tak pernah bertemu sang ayah. Tak mudah mengubah karakter seseorang yang sudah terlanjur merasa dirinya “sampah” menjadi manusia “super”. Tahukah anda cara anggota markas persaudaraan (anak buah Sloan) memberi terapi awal agar pola pikirnya terbuka? Dipukuli. Ya, dipukuli dalam keadaan terikat di kursi. Saya betul-betul tergelitik, hingga merasa perlu dipukuli agar bisa “mikir bener”. Tetapi takut juga jika Allah yang memukul dengan cara-Nya melalui ujian kehidupan.

Saya termasuk orang yang percaya bahwa tiap orang punya bakat dan keahlian terpendam. Seperti kutu anjing yang mampu melompat 300 kali panjang tubuhnya. Namun ketika ia dikurung dalam kotak korek api selama dua minggu, lompatannya tak sejauh dulu. Bukan kehilangan kekuatan, hanya kehilangan kebiasaan. Seringkali kemampuan kita pun masih terkurung seperti kutu anjing yang dikurung. Lingkungan, komunitas, kawan, pimpinan, perusahaan atau apa pun bisa menjadi penjara bagi kemampuan ajaib kita. Tugas kita bukan untuk memaki tetapi menyadari lalu beraksi. Jadi teringat kisah POO, si kungfu panda. Ia hanya memerlukan ijin sehari untuk tidak ikut membantu ayahnya berjualan mie. Ia keluar dari “kurungan” demi hasratnya terhadap kungfu. Namun ternyata satu hari itu mengubah hidup Poo menjadi The Dragon Warrior.

Saya pun bukan orang yang pandai beraksi, hanya mahir berteori. Paling tidak hal itu membuat pikiran tidak mudah menyalahkan Tuhan. Karena kita sering kali tidak bisa membedakan mana keinginan mana pilihan. Keinginan masih berupa angan, sedang pilihan sudah mulai dilakukan. Kebanyakan orang sih inginnya masuk surga, tapi tak semua yang benar-benar memilih untuk beramal surga. Apakah pantas seseorang yang karena dosa-dosanya masuk neraka menyalahkan Tuhan, kenapa saya masuk neraka, padahal saya tiap hari berdoa agar masuk surga?

Penulis : Om koko