Kenangan di Pulau Butung

Keramaian Pelabuhan sungai salak membuat ku semakin tegang,gusar tak karuan.ya..aku sangat cemas karena ini kali pertama aku naik kapal.bukan kapal besar yg terbuat dari besi tapi dari kayu.
Ternyata kursi yg kudapat bersama nenekku berada tepat dibawah dari tiga lantai kapal..suara berisik mesin begitu keras, memekakkan telingaku, membuatku semakin takut.ya..aku takut.. Aku tak bisa berenang..
Sepanjang sungai salak, mata ku tak bisa dipejamkan.Dinginnya malam menusuk tulangku, suara ombak air sungai mengganggu ku.kebayang hal hal yang menakutkan ditambah suara derit kapal yang mulai rapuh,seolah olah kapal ini merangkak menerjang anak sungai yang sepi dan gelap.
“Mau Makan Mie nisa?..”tiba tiba gengaman hangat tangan nenek merasuki tubuhku yang mulai kaku kedinginan.
“Mau nek.. Nisa mau.. ”
Nenek memanggil ibu yang jualan mie dikapal. Dan mereka berbincang..seperti biasa nenek gampang sekali berkenalan, nenek ku nenek gaul.
Aroma mie membuat perutku bernyanyi..ternyata aku lapar dari tadi siang aku tidak mau ngapa ngapain karna ketakutanku terlalu besar ketika menginjakkan kaki dikapal ini.
“makan yang banyak ya nisa..tenang ya cu.. Sebentar lagi kita sampai di selat petuah.. “nenek berusaha menghiburku.
Tetttt.. Tettt.. Tettt..
Suara yg begitu nyaring keluar dari toa yg ada dikapal.
Kapal mulai menepi ke tepian pelabuhan kecil yang hanya diterangi lampu neon kecil..
“yg turun selat petuah udah sampai ya.. ”
Orang orang mulai berebut keluar,tak terkecuali kami jg.
“ayo nisa..nanti kita ketinggalan speedboat menuju ke pulau butung.. ” dengan lincahnya nenekku melewati kerumunan orang orang itu sambil memegang erat tanganku..
“nek.. Tangan nisa sakit..tunggu nek.. ”
Didepan kapal kayu tadi ternyata ada speedboat yg ikut berlabuh. Kami pindah ke speedboat itu.. Alhamdulillah..meskipun kecil namun speedboat itu bisa dibilang layak untuk ditumpangi.
Mentari mulai menyinari pagi,hangat..mataku pun mulai terbuka,setelah bisa terlelap beberapa jam..takjub.. Lautan biru membentang luas sejauh mata memandang.indahnya..ini pertama kali nya ku berada ditengah lautan,terombang ambing oleh ombak membuat hatiku pun semakin bahagia..ini laut.. Aku senang dengan laut. angin kencang menyapu wajahku.sekali kali air lautpun bercanda dan membelaiku.. Alhamdulillah..
Dari kejauhan pelabuhan yang cukup besar mulai terlihat.. Itulah pulau butung..
“kita sudah sampai dipulau butung nisa.. ”
Wajah nenek begitu bahagia,sebahagia hatinya yang akan bertemu anaknya yang sudah lama tak bertemu.
“ya nek.. Nisa senang.. ”
Padahal ada sedikit kecewa dihatiku, ternyata pulau butung tak seperti yang kubayangkan selama ini..masih banyak hutan.. Mana gedung mewah.. Mana kota yang megah seperti yang diceritakan oleh bibiku dulu pas pulang dari pulau butung.
Sepanjang jalan,hanya hutan yang kami lalui. Ternyata pelabuhan berada diujung pulau butung. Perlahan taxi yang kami tumpangi sampai dipusat kota.. Hah.. Ini mah kotanya sama dengan kota ku..akhirnya setelah beberapa jam sampai juga dirumah bibi.
Banyak cerita yang disampaikan bibi kepada ku tentang pulau butung.
“nisa.. Coba dech kamu cari kerja aja disini.. Gajinya besar lho.. ”
“nantilah bi.. Nisa jalan jalan dulu lah.. Lihat kota butung ini.. ”
“ya.. Sambil jalan jalan, nisa lamar kerjaan.mana tau dapat..”
“baik lah bibi..”
Dua minggu sudah ke berada dipulau butung ini..tapi ku masih aja jadi pengangguran.
Setiap hari ku berjalan kaki menuju simpang jalan untuk naik angkot menuju pusat industri. Kata tetangga bibiku, lagi banyak buka lowongan.
Pagi ini berbeda dari pagi biasanya.ada tiga orang pemuda yang sedari tadi melihat ku. Mereka slalu memandangku bergantian, Sepertinya mereka membicarakan ku.
Ups.. Salah satu dari mereka mulai mendekatiku.
“hallo.. Boleh kenalan?..namaku bian.. “sambil mengulurkan tangannya. Pemuda itu tersenyum ramah padaku.
Ku tak langsung menyambut tangannya.karna aku masih takut.kata bibiku jangan mudah kenalan dengan orang asing.
“kamu ponakannya tante evi ya? Kita satu blok kok.. ”
Lho dia tau nama bibiku.
Tau tau pemuda yang lainnya ikut bergabung dengan kami..
“hallo.. Kita satu blok kok.. Jangan takut.. Kami kenal kok sama tante kamu.. Tante kamu juga kenal kami.. ”
“aku candra.. ”
“aku iron.. ”
Akhirnya aku terima perkenalan mereka..angkot yang kami tunggupun datang..
“oya nama kamu siapa ya? ” sepertinya candra orangnya gokil dech n banyak ngomong. Klo bian agak pendiam dan iron agak pemalu.
“nisa.. “singkat dan padat.
“ihh nisa ni pelit ngomongnya ya.. Hahha”
Candra ini suka sekali tertawa padahal tidak ada yang lucu.
“Nisa mau kemana?.. ” bian mulai buka suara
“mau ke pusat industri muka merah.. Mau cari kerja..”
“kebetulan kami bertiga kerja disana lho.. “suara iron terdengar sayup
“iya..lagi banyak buka lowongan lho nisa..” candra dengan semangatnya bercerita.
“iya.. Nisa mau coba dulu keliling..”
“smoga sukses ya.. ” mereka kompak bertiga semangati aku.
Ternyata hari itu menjadi hari kelanjutan persahabatan kami..
Setiap pagi kami slalu berjalan berempat, bercanda, tertawa bersama. Kian hari hubungan kami semakin erat.. Terkadang para pemudi lainnya suka melirik ke aku yang dikeliling oleh pemuda yang tampan tampan.sepertinya mereka iri.
Alhamdulillah.. Setelah perjuangan yang panjang dan berliku,akhirnya aku diterima di PT. Techno.
Sepulang kerja dihari pertamaku, Sahabatku bian, candra dan iron mengajak buat acara selamatan.
Mereka mengajakku ke tempat permainan.seru sekali.. Rasanya tempat permainan itu milik kami berempat.canda tawa selalu pecah.bian yang pendiampun terpingkal pingkal tertawa ketika candra berlagak seperti badut. Iron jg begitu.. Seru.. Benar benar seru..kenangan ini tak akan terlupa olehku.
Setahun ke berada di pulau butung ini.. Banyak cerita yg ku rangkai di memoriku.namun cerita kasih yang tak boleh kurangkai pun tertuang disini.
Ternyata bian menyukaiku.bian mengungkapkan perasaannya padaku.Namun tak bisa.Kami tak bisa bersatu karna perbedaan.sebenarnya rasa ini ada untuk nya tapi tetap tidak bisa.harus kukubur..
Namun bian terus memberikan yang terbaik untukku, berada terus disamping ku dan slalu ada untukku.
Ku coba untuk menjalin kasih dengannya namun ternyata tetap tak bisa ada tembok besar diantara kami.tak bisa.kami tak bisa bersama.
Akhirnya rasa ini membuat kami saling menyakiti dan akupun tak tahan lagi.ku tutup hati untuk laki laki.. Ku pergi tinggalkan pulau butung…walaupun bian tlah mencabut sampai ke akar akarnya.. Kenangan itu kan slalu ada.bukan untuk dikenang tapi hanya tinggal cerita hidup..

Penulis : Dewi S