Kepada Bekas Kepala Daerah

Menjadi penguasa itu tidak mudah. Kawan saya membuktikannya. Sekarang, setelah Pilkada, kawan saya itu berhenti jadi penguasa. Dia kalah dalam pertarungan. Dia adalah satu dari sedikit petahana yang kalah dalam 108 pilkada serentak di negeri ini beberapa hari lalu.

Hidup akan lebih tidak mudah lagi ketika menjadi bekas penguasa.

Saya pernah punya saudara, seorang Bupati di Kabupaten Tapanuli Selatan. Sebelum jadi Bupati, dia sering ke rumah untuk urusan mengeratkan silaturahmi. Setelah jadi Bupati, dia tetap sering ke rumah.

Dia ramah, gemar silaturahmi. Dia teman siapa saja. Dia disukai siapa saja. Dia merakyat dan tahu persoalan rakyat. Dia selalu punya solusi untuk masalah siapa saja.

Saat dia jadi Bupati, semua orang menghormatinya. Semakin menghormatinya. Banyak yang memuji. Banyak yang menyanjung. Kemana pun dia pergi, orang akan mendatanginya, Menyalaminya. Mengurnya.

Dia tidak pernah menolak. Sikapnya selalu ramah. Waktunya selalu ada buat siapa saja.

Tapi, suatu hari, saat pemilihan Bupati Tapanuli Selatan yang masih menjadi urusan legislatif, dia kalah. Dia tak lagi jadi Bupati Tapanuli Selatan. Dia berpikir semua itu biasa saja. Dia memang tak terlalu merisaukannya. Sejak itu, dia putuskan untuk pensiun dari profesinya sebagai pegawai negeri sipil (PNS).

Tapi, hidup ternyata tidak mudah bagi bekas Bupati Tapanuli Selatan. Sejak dia pensiun dan tak lagi menjadi Bupati, nyaris tidak ada orang yang mendekatinya.

Dia masih sering datang ke rumah, rutin sekali sepekan, untuk bersilaturahmi, Dia masih ramah kepada siapa pun. Dia masih seperti dulu. Cuma, orang-orang tidak lagi seperti dulu.

Suatu hari di masa pensiunnya, dia datang ke sebuah acara peresmian MCK umum di lingkungan tempat tinggalnya. MCK Umum itu diresmikan oleh Bupati, orang yang menggantikannya. Dia sengaja datang ke acara itu untuk menyaksikan bagaimana Bupati berhadapan dengan rakyat.

Ketika dia datang, tak ada seorang pun yang menyambutnya. Dia mengambil tempat duduk di belakang. Orang yang ada di dekatnya tidak mengajaknya bicara. Orang itu berpakaian PNS, dan seakan-akan tak mengenalnya. Padahal dia tahu, orang itu pernah bekerja untuknya.

Dia diam saja. Dia ikuti acara peresmian MCK Umum sebagai warga biasa. Dia tetap seperti dulu.

Saya ingat kawan saya, yang akan jadi bekas penguasa. Kawan saya berbeda dengan saudara saya yang ramah. Saya membayangkan saudara saya yang ramah saja tak mendapat perlakuan baik dari warga saat menjadi bekas penguasa, bagaimana halnya dengan kawan saya.

Entahlah!

Oleh : Budi Hutasuhut