Kepraktisan Modernisme Sebuah Peneguh Filsafat

Pada tulisan sebelum-sebelumnya pernah saya menulis dengan judul tulisan “modernisme sebagai ruang spritualitas” dalam penjelasannya melahirkan hipotesis bahwa modernisme membuka wadah baru untuk spritualitas dengan identitas individualisnya/kesendirian. Ditulisan ini saya mencoba meninjau dari segi pemikiran terhadap manusia yang anti pati pada pemikiran dengan rayuan modernisme. Keadaan sekarang pengaruh yang pesat oleh modernisme telah memasuki ruang yang lebih luas baik sosial, politik, pendidikan hingga agama. Ekspansi ruang gerak modernisme paling terasa ialah menciptakan manusia baik yang beragama maupun ateis jatuh pada satu penafsiran tunggal tentang kehidupan yakni praktis dan instan. Keprakatisan sebagai ikon dunia dan kelembagaan menjadikan manusia penyembah dan pecinta instan, apa-apa harus cepat. Apakah salah hal yang praktis dan instan itu? Apa dasar kepraktisan? Bagaimana agar kepraktisan tindakan terwujud?

Secara insting alami manusia segala yang cepat ialah cara dan metode yang terbaik bahwa segala tujuan dengan cepat tercapai. Tapi lihat kecenderungan tersebut dalam tindakan manusia sekiranya modernisme ialah mazhab tindakan yang utuh maka sebenarnya problem kehidupan sejak dini terminimalisir pada arah tujuan yang reel. Banyak manusia yang saking senangnya praktis sehingga segala yang dihadapannya selalu direduksi serta disederhanakan. Keinginan untuk menyederhanakan Tindakan manusia dalam praktek berbuah suatu kebuntuan, artinya identitas kesederhanaan realitas secara fitrah terhadirkan secara spontanitas namun modernis lupa bahwa kesederhanaan tersebut ketika di realisasikan menjadi sebuah tindakan berkonsekuensi relasi antara sesama manusia, sehingga upaya kepraktisan dalam semangat modernisme tergadaikan. Jadi dari hal ini ternyata modernis tidak membawa cita-cita alamiah/fitrah manusia dalam kehidupan untuk mencapai tujuan – tujuan kemanusiaannya maka yang hadir, pemaksaan serta radikalisme. Suatu kebingungan ternyata kepraktisan membawa mereka pada lokus absurditas.

Manusia dalam dirinya tidak menginginkan tindakan individu terhalang sebagaimana yang dia kehendaki dalam waktu yang terencana dan terpetakan. Pada modernisme kegagalan tindakan manusia karena adanya relasi yang sama-sama ingin merealisasikan keinginannya. Fakta spontanitas fitrah terhadap kesederhanaan realitas harus dirumuskan secara baik untuk mengejawantahkan, artinya satu sisi kesederhanaan pada diri manusia, disisi lain kerumitan yang ada pada relasi manusia. Kerumitan relasi sesama manusia yang sama-sama ingin merealisasi tindakan untuk tujuan tertentu harus dipahami secara totalitas sebagai sebuah penyelesaiaan akan relasi. Dalam hal ini maka tuntutan teoritis mengenai tindakan dan hal – hal metodik untuk merealisasi fitrah membutuhkan bimbingan teoritis. Struktur teoritis tindakan tidak terbangun secara spontanitas melainkan kerumitan persepsi bahwa Kesusahan terletak pada teoritis.

Hari sekarang orang mengatakan bertindak itu sulit, apa yang sulit dalam tindakan? Tinggal melakukannya dan mendapat hasilnya. Kegagalan yang terjadi pada praktis tindakan bukan disebabkan dari tindakan melainkan kejelimetan teoritis tidak terpenuhi secara utuh. Artinya banyak orang yang gagal dalam tindakan karena manusia gagal secara teoritis. Kerumitan menganalisis satu per satu problem yang berkaitan dengan tindakan, melahirkan tindakan praktis manusia pada kemandekan. jadi kepraktisan modernis sebenarnya bukanlah praktis sebenarnya melainkan kerangka menyusun teori kembali seperti doktrin pengalaman, dipraktekan dulu baru ditemukan teorinya. Bahwa praktis mereka kosong dari teori sehingga yang menghadang ialah kehancuran Justru hal tersebut sebaliknya dalam doktrin filsafat khususnya filsafat islam ialah praktis sebenarnya terdapat pada selesainya teoritis. Jadi kalau bertindak tidak lagi banyak bertanya, atau bertanya sambil
kerja.

Dengan demikian pada akhirnya manusia akan mencari satu acuan teori dan metodologi untuk mewujudkan tujuan kehidupan mereka bahwa modernisme yang melahirkan manusia yang instan dan pragmatis dengan sendirinya menyuruh para pengikutnya mempelajari kembali yunani dan islam, untuk apa? Untuk merealisasi tujuan modernisme. Sederhananya kesempurnaan modernisme terletak pada kebutuhan mereka terhadap filsafat. Jadi zaman sekarang bukan matinya pemikiran dan berbondong-bondong pada praktis tapi sebaliknya bahwa etape peradaban mulai muncul kembali. Artinya kesempurnaan modernisme terdapat pada filsafat maka filsafat ialah modalitas peradaban.
Wallahu alam

 

Penulis : Fadlun Sangaji