Mari (Ber) onani

Mataku terpekur, pada sudut waktu yang tergusur
Diantara bangku dan mejameja
Dalam gedung dewan di tengah kota
Tikustikus berkemeja, beberapa diantara
singasinga perkasa
Asyik berdebat tentang huruhara
Beberapa diantara tidur purapura
Beberapa diantara sibuk berkaca
Melihat rambut telah kusut rupanya
Hei, dia lupa
Kereta besinya telah butut kiranya
Hingga angin menerpa muka dan gaungaun sutra
Mungkin juga rupiah yang ia punya tak cukup untuk menengok dunia.
Maka…
Di tulisnya sepucuk layang cinta
Pada sang pemimpin yang mereka bilang dermawan dan bijaksana
Pak…berilah kami kereta juga liburan ke luar negara, biar otak kami tak lagi nelangsa, memikirkan rakyatmu yang terus mengadu domba, tulisnya
Kiranya dia lupa…
Bermasamasa rakyat kehilangan beberapa kotak tawa
Lihatlah!
Di sudut kota, mang Udin menghapus airmata, karena sang istri mati terlindas kereta.
Di dekat salemba, Kang Mimin menaruh seroja, pada kekasihnya yang mati menjadi tumbal devisa.
Di Kampung seberang, gadisgadis kehilangan masa depan, sebab hidunghidung belang telah mengendusnya sejak setengah matang.
Di dekat perigi, Budi kecil sibuk mencuci keladi, sebab Mamak tak lagi memasak nasi
Ah…sudahlah!
Jangan mengeluh lagi
Mari beronani
Saat puas tak terpenuhi
Juga bahagia tak terbeli
Ah….sudahlah!
Mari beronani, tak payah debat saling hujat, ciptakan bahagia diri, tak payah menunggu lagi.
Ah…sudahlah!
Mari beronani, tak payah tuding sana sini
Sebab serapahmu hanya sampah yang melimbah ruah
Ah…sudahlah!
Mari beronani, tak usah hujat menghujat, sakit menyakiti.
Ah…sudahlah!
Rupanya aku telah banyak bermimpi, menengok berita di televisi, membuatku lupa akan tugas diri.
Sibuk menggeram yang tak pasti, mendendam pada pertiwi yang tak lagi asri.
“Nak, lekas berdiri! nasimu telah basi, gandummu tak panen lagi!” seru Bapak menyadarkan diri.
Lekas kuusap basah pada sudut mulut yang mendesah, ambil langkah dan goyangkan cangkul pada tanah resah.

Ell El

oleh : Ell El