Cerpen : Melupakan Karena Allah

Hana kembali mengingat tentang kenangan indah bersama lima orang yang pernah hidup bersusah dan senang bersamanya. Banyak momentum indah yang pernah ia lalui bersama, mereka adalah sahabat-sahabat terbaik yang pernah singgah dalam hidup Hana. Itu kenangan Hana, ia menatap foto bersama lima sahabatnya itu sambil tersenyum, dan kadang haru ketika mengingat masa lalu bersamanya.

“Udahlah, buang, bakar sekalian foto itu, Han! Bakar semua kenangan tentang mereka!” gusar Liani.

Hana tampak murung, ia mengingat lagi satu moment yang menghancurkan persahabatannya itu. Saat ia di bawa dalam gelap gulita kehidupan. Tak disangka, kala itu Hana hendak di bawa untuk ikut terjerembab ke dalam lumpur hidup. Beruntung prinsip imannya kuat, ia berhasil lolos menyelamatkan dirinya dari tipu daya duniawi yang merajai siapapun.

Kala itu Hana dan lima orang sahabatnya ikut serta dalam sebuah program bisnis miliyaran. Sama seperti lima orang sahabatnya, Hana pun gadis yang memiliki impian besar menjadi sosok orang yang sukses dalam karir, dan itu hal wajar. Karena persaingan bisnis yang sangat kuat dan ketat, terpaksa lima sahabatnya itu mengambil sebuah jalan pintas agar menang.

Mereka melibatkan Allah, Tuhannya. Namun, di sisi lain, mereka juga melibatkan mahluk Allah. Dukun. Saat itu Hana tak mengetahui, bahwa temannya meminta pertolongan pada seorang dukun agar bisa sukses dalam karirnya, dengan cara-cara yang tidak islami tentunya.

“Tapi hebat ya, Li …, sekarang mereka sudah jadi miliyader …” ujar Hana.

“Yaaah, iya sih. Tapi kesuksesan mereka itu justru yang akan menghancurkan mereka, Han …, lihat aja, mereka masih percaya dengan bantuan dukun. Harus bakar menyanlah, harus mandi kembang, harus naik gunung nyembah pohon! Apa itu bisa disebut waras, Han?! Nggak kan! Itu musyrik, Han!” gusar Liani. Hana terdiam sambil mengangguk-angguk.

Sempat Hana berupaya menyelamatkan lima sahabatnya itu untuk kembali ke jalan Allah yang benar. Ia mengingatkan dengan cara pendekatan yang baik-baik pada lima sahabatnya itu, hmm …, tetap saja, gemerlap dunia sudah membutakan hati mereka. Hana memilih untuk meninggalkan mereka, sebab itu menurutnya yang terbaik bagi Hana. Hana terus belajar untuk tetap kokoh dan teguh dalam prinsip hidupnya, hidup dan matinya ia serahkan pada Allah.

Hana dianggap sok alim, sok saliha, munafik, dan lain sebagainya pada lima sahabatnya yang telah terjerembab itu. Namun ia sadar, mereka bisa bilang seperti itu padanya, karena hati mereka sudah dikuasai oleh nafsu duniawi yang tak bisa mereka kendalikan lagi.

Jika hidup di dunia ini hanya bicara soal kemewahan, kekayaan, dan kesejahteraan hidup, maka semua orang pasti akan terjerembab dalam kebodohan. Beruntung Allah menyediakan tempat singgah yang bahagianya kekal, di sana akan kumpul manusia-manusia yang bertawakal dan sabar saat di dunia ini. Hana belum merasa menjadi orang yang sepenuhnya bisa menjadi baik, tapi ia selalu berusaha menjadi baik.

“Jika menurut Allah itu baik, maka ikutilah. Dan jika menurut Allah itu tidak baik, maka tinggalkanlah …” Hana menuliskan isi hatinya di dalam buku diary sahabatnya. Ia lebih bersemangat menjalani hidup sesuai koridor agamanya. Dan Hana melupakan lima sahabatnya itu yang telah melupakan Allah sebagai Tuhannya.

Hana menjalani hidup seperti biasanya, ia masih semangat untuk berusaha keras meraih impian suksesnya. Ia pun punya impian untuk sukses karena ia ingin buktikan pada lima sahabatnya itu, bahwa dengan cara Allah, manusia manapun bisa sukses, tanpa harus menanggung resiko di kemudian harinya.

***
Oleh: Eddy Pepe

Cerita ini hanya fiktif belaka, semoga ada hikmah yang bisa dipetik. Tinggalkan apa yang harus kita tinggalkan karena Allah.