Membangun Desa Bukan Hanya Tentang Uang – Ruwajurai.com

Mungkin kata wong deso lebih cocok. Toh Sejak kecil sudah tumbuh di desa pedalaman Maluku utara. Saking pelosoknya, bahkan mbah GOOGLE dan om JIPIES sekalipun sampai pusing melacaknya. Maklum saja jaringan pun tidak sampai kesana. Pindah hanya Ketika hendak melanjutkan pendidikan SLTP pindah ke Sulawesi tenggara. itupun juga tinggal di desa yang merupakan salah satu desa terpencil dikota itu. Saat kuliah pun sama, melanjutkan kuliah di tanah jawa, walaupun nama kotanya semarang, tetap saja tinggal disebuah desa juga. Rasa-rasanya bak nasib yang tak kunjung berubah, desa sudah seperti awal dan akhir hidup saya.

Hari ini saya agak legah, pemerintah saat ini sudah memberikan perhatian lebih pada desa. Lewat jargonnya “Pembangunan Dari Desa” pemerintahan Jokowi mengelontorkan dana sebesar 1 milyar tiap tahunnya untuk membangun desa. Agaknya sekarang sudah meningkat lagi menjadi 1,2 milyar. Kebijakan ini sangat diapresiasi oleh hampir seluruh lapisan masyarakat termasuk saya sendiri. Walaupun beliau sering saya demo berkali-kali karna kebijakannya yang agak miring, namun kalau masalah desa ini bilehlah saya acungi jempol. Bahkah saya sempat bercita-cita menjadi kepala desa. Namun kendor karena saat ini KPK sampai turun tangan ke desa untuk mengawal anggaran 1,2 miliyar itu.
Lebaran kemarin saya pulang ke kampung halaman di daerah Maluku utara. Menjenguk keluarga dan desa yang telah saya tinggalkan 10 tahun lamanya. Sepintas jalan-jalan sudah mulai diperbaiki. Kolam-kolam comberan yang dahulu menjadi tempat bermain waktu kecil kini telah ditimbun dan dibuat jalan untuk akses masyarakat. Namun sayangnya kampung itu mulai sepi. Banyak masyarakat yang merantau ke negeri orang demi mencari kehidupan yang layak. Sesekali pulang hanya sekedar berziarah ke makam sanak family. Kemudian pergi lagi untuk beberapa tahun lamanya. Jika dihitung-hitung, lebih banyak yang pergi daripada yang datang. Kampung menjadi sepi bahkan banyak rumah-rumah yang kosong. Padahal anggaran yang dikeluarkan pemerintah begitu besar demi membangun desa tiap tahunnya.
Sesekali saya mengunjungi rumah-rumah warga. Menanyakan apa yang salah dengan situasi disana. Ternyata pembangunan jalan dan infrastruktur tidak menjamin masyarakat akan puas. Karena pada akhirnya mereka tetap akan berusaha untuk sesuap nasi. Ketika berbicara mengenai sesuap nasi, maka yang menjadi tujuan adalah kota. Karena disana terdapat banyak lapangan pekerjaan. Kampung pun ditinggalkan. Jalan dan infrastruktur kini menjadi sia-sia.
Pembangunan desa tidak hanya berbicara tentang seberapa besar dana yang dikeluarkan untuk desa, juga tidak berbicara tentang seberapa banyak infrastruktur yang akan dibangun. Karna pada akhirnya akan sia-sia jika masyarakat masih mencari kehidupan yang layak didaerah perkotaan. Bahkan banyak dari kita yang telah merasakan nikmatnya kehidupan di kota enggan pulang kembali ke desa. Banyak mahasiswa-mahasiswa yang telah lulus dari perguruan tinggi rela mencari pekerjaan serendah-rendahnya di kota hanya untuk menyambung hidup, daripada kembali kedesa namun hanya menjadi pengengguran dan petani kecil. “Pulang malu tak pulang rindu” itulah jargon yang cocok bagi mereka.
Beberapa waktu yang lalu sempat bersilaturahim dengan mantan rektor sekaligus senior saya di HMI. Soal pembangunan melalui desa beliau adalah orang yang ahli. Bahkan beliau mempunyai konsep yang menyeluruh. Jika diaplikasikan bukannya tidak mungkin Indonesia menjadi maju karena desanya juga maju. Beliau mengatakan bahwa pembangunan harus dimulai dari desa. Akumulasi desa-desa yang maju akan membuat kota menjadi maju. Kota yang maju akan menjadikan provinsi dan Negara menjadi maju.
Disini konsep pembangunan desa sangat diperlukan. Konsep ini berdasarkan potensi desa yang ada. Bisa jadi pertanian dan bisa jadi perikanan. setelah ada konsep dan potensi desanya maka yang berperan untuk mengelolah semua itu adalah sumber daya manusia yang terampil. Mereka adalah para sarjana-sarjana hebat karena mereka lebih produktif dan kreatif. Mereka akan datang ke desa karena jika ada potensi desa maka sama saja ada lapangan pekerjaan untuk mereka. yang memegang peranan paling penting disini adalah pemimpinnya. Baik ditingkat desa maupun kota hingga provinsi. Tingkatan yang lebih tinggi akan semakin baik. Karena kebijakan akan semakin luas aplikasinya. Dengan begitu maka pembangunan dari desa baru akan benar-benar terwujud. Tidak hanya menjadi slogan tanpa isi, juga tdak hanya sekedar menjadi cita-cita kosong belaka.
Penulis : Hasran