Pilkada Itu Bebas Memilih – Ruwajurai.com

Pilkada adalah semacam “pesta demokrasi”. Kata “pesta” disini tidak harus diartikan “hura-hura” karena memang tidak semua pesta itu hura-hura. Kata “pesta” disini lebih tepat dimaknai sebagai “perayaan kebebasan” untuk memilih calon kepala daerah alias pelayan rakyat” (bukan calon pemimpin rakyat lo ya? Ingat kita itu memilih “pelayan” bukan “majikan” apalagi “pemimpin” he he).

Sebagai sebuah “pesta demokrasi”, maka rakyat bebas untuk memilih dan bebas untuk memilih tidak memilih. Bingung Mat? Kalau bingung pegangan Mimin aja Mat he he. Meski begitu, gunakanlah hak pilih Anda sebaik-baiknya untuk memilih “paslon idolamu”, paslon “pujaan hatimu”. Jangan sampai nyesel lo ya tidak memilih paslon pujaanmu karena ini momen penting pesta lima tahunan.

Meskipun demikian, tetap saja Anda bebas-merdeka kalau memutuskan untuk memilih tidak memilih karena alasan tertentu. Inilah enaknya demokrasi bok, meskipun sayangnya jamaah Mamat dan Mimin tidak mau mengakuinya walaupun mereka keenakan hidup dan tinggal di dalamnya he he.

Karena dalam Pilkada rakyat bebas memilih dan tidak memilih, maka kalau Anda mau memilih Ahok silakan, tidak memilih Anies juga silakan. Mau memilih Djarot silakan, tidak memilih Sandi juga silakan. Kalau Anda kesengsem dengan kerja-kerja Koh Ahok yang aduhai, terus memutuskan untuk memilihnya lagi juga silakan. Begitu pula, kalau Anda frustasi dengan kinerja Pak Anies yang amburadul, terus memutuskan untuk tidak memilihnya juga silakan saja.

Jika Anda menilai program-program Koh Ahok dalam “menata kota” Jakarta itu berhasil, ya silakan pilih lagi. Begitu pula, jika Anda kecewa dengan program-program Mas Anies yang hanya pandai “menata kata”, Anda bebas juga untuk tidak memilihnya.

Jika Anda menganggap program-program Ahok-Djarot lebih membumi dan realistik, kemudian Anda memutuskan untuk memilih paslon ini, ya silakan saja. Begitu juga, jika Anda menganggap program-program Anies-Sandi itu melangit, mempluto, mengjupiter penuh khayalan di dunia fantasi, lalu Anda memutuskan untuk tidak memilih paslon ini juga tidak apa-apa juga. Bebas bok. Namanya juga demokrasi.

Jika Anda yang Muslim khususnya masih ragu memilih Ahok yang bukan Muslim karena alasan “teologi” tertentu, kemudian memutuskan untuk menyoblos Djarot saja yang jelas-jelas Muslim, NU, dan Haji lagi, ya silakan saja. Begitu pula, jika Anda yang Kristen, jika karena alasan teologi tertentu tidak mau pilih Djarot, ya tinggal pilih Ahok saja.

Demikian juga sebaliknya. Jika Anda ragu dengan kemampuan Anies yang hanya “pandai bicara” bukan “pandai kerja” kemudian memutuskan tidak memilihnya juga silakan. Kalau Anda ragu dengan kemampuan Sandi yang tidak tahu KUA itu, kemudian memutuskan untuk tidak memilihnya juga silakan saja.

Kalau Anda khawatir dengan paslon Anies-Sandi yang mungkin menurutmu dikerumuni oleh kaum ekstrimis, preman, koruptor, garong, dan germo, kemudian memutuskan untuk tidak memilih paslon ini juga silakan.

Terus kalian khususnya warga Tionghoa, kalau merasa tidak sreg dengan Anies yang Arab lalu memutuskan untuk tidak memilihnya juga tidak apa-apa. Begitu pula sebaliknya, kalian yang warga Arab kalau merasa tidak sreg dengan Anies meskipun “berdarah Arab” dan merasa lebih sreg dengan Ahok yang meskipun Tionghoa, juga silakan saja kalau memutuskan untuk memilih Ahok dan tidak memilih Anies.

Terus, kalau Anda benciii sekali sama Ahok (pokoknya benci, benci, benci deh) terus memutuskan untuk memilih Pak Basuki juga silakan saja. Begitu pula, jika Anda benciii sekali sama Anies, terus memutuskan untuk memilih Pak Basuki juga silakan saja.

Penulis : Sumanto Al Qurtuby