Raja Salman Dan Pergeseran Geopolitik Arab Saudi -Ruwajurai.com

Banyak yang menghubungkan kedatangan raja Salman ke Indonesia dengan agenda misi suci (mission sacre). Kegelisahan sebagian umat islam di Indonesia terkait kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Ahok, yang berbuntut dilakukannya berbagai aksi seperti aksi 212, 411, dll. dianggap mau tidak mau membuat raja Salman harus turun tangan. Bagi sebagian orang yang fanatik, raja Salman dianggap utusan Tuhan untuk menyelesaikan kasus Penistaan agama oleh Ahok di Indonesia yang sampai saat ini tidak kunjung selesai.

Ada juga yang menganggap bahwa kehadiran raja Salman di Indonesia, yang membawa cukup banyak dana untuk di-investasi-kan, merupakan pukulan telak kepada pemerintah Indonesia yang selama ini telah bekerjasama dengan China yang komunis, Iran yang Syiah, dan Amerika yang kafir, dll. Saya pikir, anggapan-anggapan yang demikian itu perlu sejenak ditunda terlebih dahulu untuk dikoreksi, dan mari kita dudukkan posisi raja Salman yang membawa misi negaranya di tengah situasi dunia yang berubah.

Tidak bisa kita pungkiri, bahwa saat ini wajah dunia sedang berubah. Berkembangnya teknologi disegala bidang, yang juga mendorong perkembangan arus informasi dan transportasi, membuat tatanan dunia berubah bentuk. Koreksi dunia juga telah menyentuh wilayah energi. Kedepan, energi fosil sepertinya tidak akan mendapatkan tempat yang istimewa lagi di hati para produsen dan konsumen, dan perhatian akan ditujukan kepada energi alternatif. Itu yang membuat mengapa energi fosil dalam persoalan harga selalu menunjukkan trend-nya yang selalu menurun.

Arab Saudi, yang selama ini pendapatan negara-nya begitu bergantung pada energi fosil (lebih dari 75 persen pendapatan negara dari minyak, sedangkan ketergantungan ekspor dari minyak sebesar 90 persen) akhirnya membanting kemudi. Penurunan harga minyak dunia yang begitu tajam membuat Arab Saudi memikirkan kembali strategi ekonominya. Pada tahun 2015, defisit anggaran Arab Saudi mencapai 366 miliar riyal atau 98 miliar US dollar, dan pada tahun 2016 mencapai 297 miliar US dollar. Untuk menutupi anggaran yang bolong, Arab Saudi akhirnya terpaksa berutang, dan akhirnya memperoleh pinjaman dana sebesar 17,5 miliar US dollar.

Arab Saudi juga memangkas subsidi energi, memotong gaji pegawai pemerintah, dan memperingatkan akan dilakukannya penghematan selama empat tahun kedepan. Arab Saudi-pun dikabarkan mengajukan utang sejumlah 10 miliar US dollar ke perbankan internasional (awalnya mengajukan utang sebesar 8 miliar US dollar, karena tingginya kebutuhan, pinjaman dinaikkan). Pengajuan utang kepada lembaga internasional ini merupakan yang pertama dalam 25 tahun, atau kali pertama sejak era 1990-an.

Rencana transformasi ekonomi Arab Saudi antara lain mencakup kenaikan pajak, pemotongan subsidi, penjualan aset negara, efisiensi pemerintahan, dan menaikkan investasi asing. Bagian lain yang dijadikan sebagai Visi 2030 yaitu akan dilakukannya privatisasi sebagian saham perusahaan minyak negara, Saudi Aramco, termasuk akan dilakukannya diversifikasi.

Pada tahun 2017 ini, diperkirakan perekonomian Arab Saudi masih tetap terpuruk. Harga minyak saat ini memang merangkak naik menyusul adanya kesepakatan organisasi negara-negara peng-ekspor minyak (OPEC) untuk memangkas produksi sebesar 1,8 juta barrel per-hari. Saat ini, harga minyak dunia berada pada level 53,6 US dollar per-barrel. Namun, kondisi yang demikian itu tidak banyak mendongkrak pendapatan negara yang ber-ibukota Riyadh itu. Pasal-nya, berdasarkan kesepakatan OPEC, negeri kerajaan itu harus memangkas produksi minyak mentah-nya dari 10,5 juta barrel per-hari menjadi 9,7 juta barrel per-hari.

Harga minyak dunia juga diprediksikan sulit kembali ke level 100 US dollar per-barrel, sebab, kini ada Shale Oil yang pasokannya begitu melimpah dan harganya lebih murah dibandingkan minyak fosil. Shale Oil merupakan minyak yang terkandung di dalam sejenis bebatuan lunak, dan banyak ditemukan di Amerika Serikat. Minyak dalam bebatuan ini diekstrak dengan proses pemanasan yang tidak rumit dan dengan biaya yang tidak mahal. Meningkatnya konsumsi Shale Oil di Amerika dan Eropa tentu saja berdampak pada pengurangan ekspor minyak Arab Saudi ke wilayah-wilayah tersebut. Padahal, selama ini, Amerika dan Eropa merupakan pangsa terbesar dari Ekspor minyak Arab Saudi. Kondisi tersebut akhirnya membuat Arab Saudi mau tidak mau harus mencari pasar baru di negara-negara lain sebagai tujuan ekspor minyak-nya.

Kian menipisnya cadangan minyak dan meningkat-nya kesadaran penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan membuat tiap-tiap negara kini berlomba mengembangkan energi panas bumi, tenaga surya, tenaga angin, arus air, dan proses biologi. Di tengah himpitan ekonomi itulah Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, beserta rombongan-nya yang mencapai 1.500 orang, berkunjung ke Indonesia dan tiga negara Asia lain-nya yakni Malaysia, Jepang, dan China.

Dan perlu kita perjelas di sini. Kunjungan raja Salman ke Indonesia lagi-lagi bukan karena raja Salman memiliki misi suci dalam merespon tuntutan sebagian umat islam untuk menekan pemerintah Indonesia dalam rangka sesegera mungkin memenjarakan si penista Agama yakni Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, tetapi kunjungan yang dilakukan ke Indonesia dan beberapa negara lain semata-mata menyangkut persoal “lebensraum”, persoalan ruang hidup suatu negara bangsa yang saat ini sedang tercekik di tengah himpitan kirisis.

——-

Penulis : Edi S