Rinai Hujan – Ruwajurai.com

Sudah 15 hari aku berada di pulau ini. Pulau Oyama, begitu para penduduk lokal menyebutnya. Sebuah pulau terpencil di utara Kabupaten Banggai Laut yang letaknya sangat jauh dari kotaku tinggal. Bahkan aku baru tahu bahwa pulau ini menjadi bagian dari Negara Kepulauan Indonesia. Aku pun baru sekali ini ke Provinsi Sulawesi Tengah. Aku jadi malu bukankah ini menandakan betapa buruknya pengetahuan geografiku? Aku sepertinya harus banyak membaca lagi.

Sudah hari ke 15 pula sejak kedatanganku ke tempat ini sebagai Peneliti Terumbu Karang, nyaris setiap hari aku melihat pemandangan yang cukup “aneh”. Bahkan tadinya aku berpikir ini adalah perkara “gaib”. Bila sudah saatnya matahari akan terbit, akan selalu ada seorang gadis duduk termenung di bawah pohon di tepi pantai pulau ini seraya memandang jauh ke lautan lepas dengan tatapan kosong. Bahkan hingga matahari sampai setinggi tombak pun ia belum jua beranjak. Aku sempat berpikir apa mungkin dia itu… Jangan-jangan dia… ah, kenapa tiba-tiba aku berpikir dia salah satu “penjaga” pantai ini seperti cerita-cerita di Jawa tentang “Ratu Pantai Selatan”. Tetiba bulu kudukku berdiri membayangkan itu. Oh, tidak! Aku salah seorang yang tak begitu mudah percaya dengan hal-hal seperti itu.

Sampai suatu hari, ketika aku tak tahan lagi menahan rasa penasaran tentangnya selama ini, aku bertanya kepada salah seorang nelayan yang sudah cukup akrab denganku, Pak Aco namanya, beliaulah yang selalu menemaniku saat diving.

“Namanya Rinai, Mas. Puteri dari Bu Nurya, adik dari Pak Kades. Dia sudah seperti itu sejak kepergian Hujan sebulan lalu.” Terang Pak Aco saat aku bertanya tentang siapa gadis itu.

“Hujan? Apa maksudnya?” Tanyaku tambah bingung. Memang benar jika hujan tak lagi pernah turun semenjak aku disini. Kata Pak Aco, disini jarang sekali turun hujan bahkan ketika di daerah lain sudah kebanjiran, desa ini tetap tak turun hujan. Apa mungkin dia sangat menyukai hujan hingga sampai membuatnya seperti kehilangan kekasih hati? Sampai saat aku berpikir demikian, aku menebak, mungkin, Hujan adalah nama seseorang.

“Hujan itu teman kecil sekaligus calon suaminya..” Pak Aco mulai menjelaskan. Sudah kuduga, batinku.

“Ia dinyatakan hilang saat pergi melaut bersama pamannya sebulan lalu, Mas. Nama aslinya Fahri Fauzan, ia lahir saat hujan turun makanya sejak kecil dipanggil Hujan. Seharusnya gadis itu dan Hujan telah menikah dua minggu lalu. Mereka seperti pasangan yang sudah ditakdirkan berjodoh sejak lahir. Sehingga Rinai yang lahir beberapa hari setelah Hujan, selalu dilindungi Hujan saat keduanya masih kecil. Bahkan nama mereka berdua menjadi sangat indah jika disandingkan.”

Benar kata Pak Aco keduanya memiliki nama yang indah jika disatukan, Rinai Hujan.

Sejak pembicaraan itu, aku semakin memperhatikan gadis itu. Meski hanya dari kejauhan. Entahlah sebab apa. Mungkin aku kasihan atau aku mulai bisa melupakan kisah pahit di masa lalu dengan seseorang. Seseorang yang ingin aku nikahi namun.. ah sudahlah.

Sesekali tanpa sepengatahuannya aku bersilaturahmi ke rumahnya. Menanyakan apa saja tentangnya pada orang tuanya. Aku semakin dekat dengan keluarganya bukan dengannya. Karena beberapa kali aku mencoba mengajak berbicara saat ia bersama kakak laki-lakinya ia terlihat enggan menanggapi. Lagipula aku memang tak berniat memacarinya, aku yang dibesarkan dengan pemahaman agama, cukup tahu bagaimana agamaku mengajarkan tentang adab pergaulan dengan seorang wanita.

Tanpa sadar aku merasa bahwa kedatanganku ke pulau ini ternyata tak hanya sekedar meneliti. Tapi, Allah punya cara lain untuk mempertemukanku dengan gadis itu.

Rinai adalah gadis muslimah yang baik. Ia tumbuh dan besar ditengah keluarga yang pemahaman agamanya juga baik. Harus aku akui Rinai sangat pendiam. Introvert. Bahkan keluarganya juga mengatakan demikian.

Sejak dilamar oleh Hujan, temannya waktu kecil, ia sedikit berubah. Ia lebih ceria dan selalu tersenyum. Nampak terlihat dari wajahnya betapa bahagianya Rinai dilamar Hujan setelah mereka terpisah selama 18 tahun sejak keduanya sama-sama berusia 8 tahun.

Hujan yang merupakan anak dari seorang saudagar kaya harus menuruti kemauan orang tuanya untuk bersekolah di luar kota. Bahkan saat ia lulus Sekolah Menengah, ia kembali dikirim orang tuanya untuk mengikuti Pendidikan Pelayaran di Pulau Jawa. Sejak itu Rinai dan Hujan terpisah begitu lama. Mereka tak tahu bahwa takdir membawa mereka untuk kembali bertemu, kemudian nyaris menikah.

Namun, sayang Hujan dinyatakan hilang saat menemani sang Paman melaut. Pamannya ditemukan tewas mengapung di ujung pantai sebelah selatan pulau ini sementara Hujan hingga berbulan-bulan berlalu tak jua ditemukan. Padahal keluarga telah melibatkan aparat keamaanan desa serta kepolisian setempat. Tim SAR pun dikerahkan demi menemukan putera sang saudagar kaya. Setidaknya itu sedikit informasi yang kudapatkan dari keluarga Rinai.

Kejadian itu membuat kebahagiaan dan kemeriahan pesta pernikahan berubah jadi kesedihaan dan duka lara serta luka dihati Rinai dan keluarga keduanya. Aku bisa membayangkan betapa terpukulnya Rinai saat itu. Membuatku ingin melindungi gadis itu, menjadi teman hidupnya meski mungkin cukup sulit untuk segera menggantikan nama Hujan dihatinya.

***

Waktu berlalu begitu cepat. Tak terasa aku sudah hampir selesai dengan penelitianku. Tinggal sebulan lagi. Delapan bulan di pulau ini membuatku banyak belajar. Tentang hidup yang kontras antara Jakarta kota metropolitan dan Pulau Oyama, pulau kecil diujung utara Kab. Banggai Laut. Tentang kesetiaan dan kepercayaan kepada seseorang yang diyakini akan menjadi pasangan hidup kita. Juga. Tentang kepasrahan dan ketundukkan kita sebagai seorang hamba atas takdir-Nya. Bahwa pasrah adalah bagian dari ketakwaan dan bentuk dari tawakkal kepada-Nya. Bahwa pasrah bukanlah sikap menyerah lagi putus asa tanpa melakukan ikhtiar sama sekali. Melainkan ia bagian dari rasa sabar yang selalu kita inginkan selalu ada dalam hati ini.

Sudah saatnya aku berani bangkit dari kelamnya masa lalu. Begitu pun Rinai yang beberapa minggu terakhir sudah mulai membuka hatinya untuk menerima takdir. Mungkin Hujan telah tiada dan Rinai tak seharusnya sedih terlalu berlebihan. Keluarga keduanya pun telah memutuskan ikatan Rinai dan Hujan. Keluarga Hujan tak ingin membebani Rinai. Bagi orangtua Hujan, Rinai sudah seperti puteri mereka. Mereka sangat menyayanginya sehingga dengan memutuskan hubungan Rinai dan Hujan adalah yang terbaik. Mengingat bahwa Hujan telah meninggal. Aku bukannya egois. Aku sadar bahwa Hujan sangat berarti bagi Rinai. Meski begitu, aku akan berusaha untuk menjadi imam yang baik baginya.

***

“Titip Rinai, nak Elang.” Kata Ayah Rinai.

“Insyaa Allah, Pak.” Jawabku mantap.

Hari ini aku dengan mantap mendatangi rumah orang tua gadis itu. Berniat baik akan melamarnya. Rinai terlihat sangat cantik dengan balutan jilbab merah jambunya.

“Biarkan Hujan pergi, Rinai. Kelak kan datang Pelangi mewarnaimu lebih indah.” Ucap Ayah Rinai mengakhiri pertemuan hari itu. Diseberang meja di ruang tamu itu terlihat Rinai tertunduk sambil tersipu malu. Aku tersenyum bahagia.

Ah, ia mungkin bidadari dunia yang dikirim-Nya untuk menemani hidupku. Rinai terlihat lebih ceria, sebahagia ia saat akan menikah dengan Hujan bahkan mungkin lebih bahagia. Aku tak tahu, mungkin Pelangi telah terbit dihatinya.

 

Penulis :  Meytri S. Gonda