Rinai Sore

Masih kubaca pesan itu di balik aroma kopi sore yang menggoda.
Kabutnya menari membentuk lambaian,
hangatnya membunuh dingin saat rinai sedang bercanda.
.
Masih kubaca itu sebagai sebuah spiritual rasa, yang tak terpungkiri oleh keengganan fisik.

Ada diskusi-diskusi kecil yang tersaji dari nampan. Ada celoteh-celoteh di ruang gelap.

Mungkin secangkir kopi kali ini teramat peka, hingga setiap tetesnya ada nikmat yang bercerita, walau pahit berkelakar.

Ah, sore yang abu-abu, sketsa-sketsa bayang berhamburan. Riuh menyatu bersama rerintik, mengalir menuju muara yang entah aku sendiri pun tidaklah tahu kemana kan singgah.
.
Setidaknya kopiku masih terus ada. ( Tyo )