Rumput Januari

Masih basah oleh hujan, tentang kisah yang tersisa di Bulan Cemara. Padang rumput Januari menatap langit abu-abu. Sejumput ikrar, seikat petuah, sejengkal langkah impian, secercah harap dan sehelai perjalanan masihlah panjang.
.
Anak-anak sungai menampung gerimis, berlarian berlomba menuju hulu masa depan. Kecipak canda berdiskusi, saling menerjemahkan rahasia-rahasia langit. Sebagian meyakini, sebagian meraba dan sebagian pula menulis lewat puisi-puisi doa.
.
Ini tentang perjalanan pada musim penghujan dengan sepoi angin barat menandai siklus alam yang terkadang tidak senada dengan ramalan cuaca.

Tetapi begitulah ritual dedaunan dengan lembar demi lembar doa, berharap hijau akan selalu bersinergi, agar ranting keyakinan selalu kokoh, bahwa akar terus menyesap banyak energi kebaikan demi pohon kehidupan. Mari kita Amini dengan segenap jiwa, semoga Januari penanda damai, bila pun bersilang warna, tetap satu wadah “Pertiwi.” Amin.
.