Cerpen : Sakitnya di PHP_IN

Kuedarkan pandanganku pada ruangan pengap ini. Ranjang-ranjang berkarat, bangku panjang, meja rias juga gordin yang berdebu, masih sama seperti beberapa tahun lalu. Dan potret itu, masih tergantung di dekat pintu, dengan muka batu dan sedikit senyum pilu.

Pelan ku raih benda itu, mengusap debu yang menempel pada bingkainya, sesosok flamboyan menatap tajam. Kuedarkan pandangan ke pojok ruangan, sebuah bayangan mulai menebal, membentuk sebuah muka yang pernah aku kenal.
“Eddy” kubisikkan pelan nama itu. Terasa gigil menelusup dalam nadi, saat sekelebat kenangan kembali mengerang. Memaksaku untuk kembali saksikan sebuah luka yang amat menyenangkan.

**

“Kemarin ibu mengenalkanku dengan seorang perempuan” ucapnya sore itu,
Mata elangnya menatap matahari yang mulai lelah dari pendakiannya, hingga bersiap untuk rebah di kaki langit, tempat jingga mulai membayang.

“Dia cantik?”

“Entahlah, aku belum melihat wajahnya”

“Kau belum bertemu dengannya?” tanyaku penasaran

“Sudah, tapi dia memakai cadar”

“Dia pasti cantik sekali” gumamku pelan.

Kulihat resah bergelayut pada mata elang itu, berkali-kali ia mengacak rambutnya yang gondrong.

“Tak penting ia cantik atau tidak, lagian aku tak berminat dengannya” ucapnya sambil menatap lurus kearahku.

“Kenapa?” tanyaku sambil membuang muka, menyembunyikan sebuah rasa senang yang menyusup pelan-pelan

“Entahlah” untuk kedua kalinya ia menjawab pertanyaanku dengan kata itu. Sebuah kata yang paling aku benci.

Hening,
Tak ada percakapan lagi sesudah itu. Hanya suara jemari yang mengetuk-ngetuk pingiran meja, seolah menjadi sebuah simfoni resah pada senja yang gerah.

“Ell”

“Iya” jawabku sambil memalingkan muka saat mata elangnya nanar menatapku, berusaha mencari sesuatu

“Taukah kamu, tentang rasa ini?”

Aku tak menjawab, kutunggu ia meneruskan kalimatnya

“Rasa yang sudah lama sekali terpendam, sejak kita mulai bersahabat” lanjutnya

“Untukku?”

“Ya”

“Rasa seperti apa itu?”

“Rasa yang di miliki seorang laki-laki dewasa, tentang sebuah kebersamaan, juga masa depan” nadanya terdengar tegas.

“Kalau begitu, temuilah abangku” jawabku gemetar, sebuah rasa haru menyeruak di dada

“Secepatnya” ucapnya sambil berdiri, setelah mengacak rambut ikalku.

“Aku menunggu saat itu” teriakku sebelum ia menghilang.

**

Ternyata malam cukup gelap untuk menyebunyikan sebuah resah, gamang kupencet angka-angka di layar hpku, Ah, tidak! jangan dulu, jika dia serius pasti ia akan secepatnya menghubungiku dan Bang Jony tentang ucapannya kemarin.

“Kau kenapa Ell? ngelamun mulu” tanya Bang Jony mengagetkanku

“Edd….enggg anu Bang” gelagapan kujawab pertanyaanya

“Edd siapa? kau tengah memikirkan seseorang?”tanyanya lagi, membuat pipiku serasa memanas

“Ah, enggak kok Bang”

“Kau tak bisa membohongi abangmu, cieeeeee….” godanya lagi dengan nada menyebalkan.

“Ah abang ngeselin!”

“Ciee pura-pura ngambek!”

“Biarin!” bergegas aku kekamar, meninggalkan Bang Jony yang masih cengar-cengir sendirian.

Kubanting tubuhku ke kasur, menumpahkan segundah resah yang mengusikku beberapa hari ini. Entah kenapa sudah seminggu ia tak mengabariku lagi sejak pertemuan hari itu. Tak biasanya dia seperti itu, ada apa ini?

Apakah ia hanya main-main dengan ucapanya hari itu? mungkinkah itu hanya sebuah candaan yang menurutnya lucu? ahh entahlah. Yang pasti hati ini berbunga-bunga saat ia mengatakan ingin menemui Bang Jony dan akan membicarakam sebuah rasa yang ia miliki.

Brttttttt…..Hpku bergetar, sebuah panggilan masuk, dari Eddy!

“Hallo”

“Ell, besok bisa ketemu denganku?” jawab suara di ujung sana tanpa basa-basi

“Di mana?”

“Di tempat biasa”

“Baiklah” jawabku, sebelum menutup telfon beberapa saat kemudian.

***

Sore itu ia datang dengan wajah layu, ada suatu hal yang tal bisa kueja dari matanya. Mungkinkah itu bahagia, atau luka, aku tak tahu. dia selalu tampak misterius di depanku. Suatu hal yang kukagumi darinya.

Gerimis mengiringi pertemuan kami sore itu, sesekali angin berhembus, menerpa anak-anak rambutku. Dingin cukup menjelaskan, bahwa ada rasa sakit yang merintik, membasahi tanah-tanah resah, meski basah cukup menyenangkan bagi rumput dan pepohonan.

Kuhanya menatapnya yang masih mematung, sebuah beban tampak bergelayut pada mata elangnya.

“Ell”

Hening, kutak menjawab

“Maafkan aku, aku tau ini menyakitkan bagiku, juga bagimu, tapi aku tak punya pilihan” ucapnya tertahan, sambil menatapku tajam

“Maksudmu?”

“Aku tak bisa menolak kemauan ibu untuk menjodohkanku dengan perempuan itu” lanjutnya

Aku ternganga mendengarnya, antara gamang dan tak percaya, bagaiman mungkin ini semua terjadi, bukankah kemaren ia baru saja ingin menemui bang Jony untuk menyampaikan semua ini

“Lalu?”

“Maafkan aku, aku memilih dia”

“Baiklah” jawabku dengan bibir gemetar

“Kau tak apa-apa?”

“Hahahahaha kau pikir aku akan terluka?” tanyaku sambil tertawa, sementara tangis mulai pecah dari sudut mata

“Maafkan aku Ell, aku tak bermaksud menyakitimu”

“Kau lucu sekali!”

“Maafkan aku”

Plakkkk! plakk!

“Baiklah, aku memafkanmu, dan lupakan aku!” jawabku setelah mencium pipinya dengan bakiak yang kukenakan. Sebuah tapak kaki membekas pada wajah flamboyan yang semalam sempat singgah dan bercumbu denganku pada sebuah harap yang kusemogakan di sepertiga malam.

“Bye!” aku berpamitan

“Ell, maafkan aku!” serunya sekali lagi.

Aku menoleh sebentar, lalu menatap mata elang itu dalam-dalam.

“Kau memafkan aku kan?”

“Tak, aku hanya mengambil bakiakku yang ketinggalan!” jawabku sambil berlalu pergi

 

Penulis : Ell El