Secuil Kisah Masa Lalu – Ruwajurai.com

Sayu, badan berasa lelah — lunglai. Suasana hati buruk. Merebah, mencoba terlelap, malah angan melayang ke masa lalu, hidupkan kenangan yang makin menambah kuyu. Iya, aku rindu. Saat ini, makin ke sini rasa itu nyata. Merindu sosok terbaik yang hadir dihidupku. Mengapa mesti ada perhitungan njlimet di Jawa? Cintaku mentok kejedhot primbon. Padahal kami sudah ditakdirkan bersama sedari kecil. Bertetangga, setiap hari bertemu, meski jarang ngobrol berduaan. Tatapan kami tak bisa berbohong, getaran itu makin kencang kala kami tumbuh dewasa.
.
“Mas, orang tua kok pada tidak genah ya? Nggak bisa jadi contoh anak-anaknya.” Aku mengadu pada Mas Prayit, waktu kami bareng mencuci baju di sumurnya Lek Semi.
.
Memang dulu dusun kami pernah mengalami kemarau panjang, kami mandi dan mencuci menumpang ke sumur tetangga yang masih ada airnya.
.
“Sama aja-lah, Ning. Bapakku juga kurang ajar itu. Ini menghamili genggek deket pasar.”
Mas Prayit wajahnya nampak murung. Kami sama-sama korban broken home.
.
“Kamu kapan balik ke kost-an?”
.
“Nanti sore, Mas. Kalau besok pagi takut telat. Kemarin aku dihukum menghormat tiang bendera kok. Sampai lemes kepanasan.”
.
“Nanti tak anter ya sampai bis-bisan.”
.
“Jangan! Apa kata tetangga nanti. Biar diantar Pak Lek aja. Kita cuma ngobrol begini saja orang-orang pada ribut, ‘Nining pacaran sama Prayit tuh di sumurnya Lek Semi’. Liat aja nanti pasti ada yang ngomongin kita.”
.
Mas Prayit nampak maklum dan mengangguk-angguk. Lelaki itu pulang duluan karena cuciannya sudah kelar. Hanya seember kecil, baju-bajunya sendiri. Sementara aku mencuci baju orang serumah. Sebelum beranjak, dia sudah menimba air, mengisikan penuh dua bak untuk aku membilas.
.
“Aku mulih sik,” pamitnya.
.
“He-em, suwun, Mas.”
.
***
Ketika aku pulang, ada Dik Utik, adiknya Mas Prayit di rumahku. Dia terlihat membuka-buka bukuku di meja tamu yang menyatu dengan meja belajarku.
.
“Mbak Ning, aku ntar nitip beliin kotak pensil kayak punyamu ini ya.”
.
“Oh, iya. Minggu depan Mbak pulang tak belikan. Udah pakai duitku aja dulu.”
.
“Makasih, Mbak,” kata gadis manis bermata lentik itu.
.
Aku juga sangat menyukai mata Mas Prayit. Meski cowok, bulu matanya panjang-panjang dan lebat. Bagus sekali. Posturnya tinggi besar, berkulit bersih dan berjambang. Kadang kalau pulang kampung aku tidak ketemu dia. Kabarnya mondok di Temboro.
.
Sering sekali aku mendapati surat darinya dalam lipatan buku. Entah kapan dia menyelipkannya. Triknya ada saja. Kadang menyuruh Utik, adiknya. Lain waktu menyuruh adikku. Malah pernah pula minta bantuan tetangga. Dalam surat itu selain surat cintanya, pasti ada uangnya.
.
“Ning, buat beli bakso ya,” atau dia bilang begini, “Hanya sedikit, sekedar buat ongkos jalan.”
.
Belum pernah sekalipun aku membalas suratnya. Lebih suka menemuinya langsung, ngobrol di sumur atau di teras rumahnya. Aku suka membantunya menjemur kedelai atau gabah.
.
“Mas, makasih,” kataku dari jarak semeter di depannya.
.
“Stttt …,” dia memberi isyarat untukku tidak melanjutkannya.
.
***
Puluhan tahun berlalu, aku makin menyadari, dialah lelaki terbaik yang tulus mencintaiku. Tak pernah dia menyentuhku, selalu menjaga adab. Kalau mau, dia pasti dengan mudah bisa memeluk apalagi menciumku, wong dasarnya ada rasa diantara kami. Begitu orang tua kami tahu dan melarang hubunganku dengan Mas Prayit, kami sebagai anak-anak yang patuh, mengikutinya.
.
Aku sekarang sendiri, Mas. Kamu sekarang di mana? Meski rumah kami di kampung berhadapan, sangat jarang kami bertemu. Nomer kontak masing-masing juga tidak punya. Dia menikah dengan orang Jombang, dengar-dengar sekarang di Arab.
.
Cinta terbaikku hanya selangkah di depan mataku, namun aku tiada daya menggapainya. Hanya mampu memendamnya, mungkin sampai mata ini terpejam, tubuh kaku terbujur di dalam bumi.

Hanya ingin sekali saja menyentuhmu, meminta kau memelukku, karena sejatinya kamu milikku — iya milikku. Semua orang kampung tahu, kita saling menyukai sedari kecil kan? Biar saja istrimu marah dan cemburu, aku sudah mengalah, rela melepasmu untuknya. Kurang baik apa aku?
.
*****

Tamat

Penulis : Sulastri Widji