Sidang

Pukul delapan tiga puluh menit….

Bangku panjang kayu yang berjejer di ruang terbuka dan menghadap taman di halaman belakang itu hampir penuh. Ada sekitar dua puluh orang duduk. Sebagian mengobrol dengan orang di sebelahnya. Sebagian lagi hanya mematung. Namun rata-rata mereka sibuk berkutat dengan gadget. Tak terkecuali seorang pria berperawakan sedang dengan rambut setengah ikal berkaos ungu yang juga sebentar-sebentar mengusap layar ponsel.

Hari ini sidang atas tilang kendaraan bermotor yang dilakukan dua minggu lalu. Apes. Pria dengan rambut setengah ikal itu berhasil dicokok polisi saat melewati jalan arteri dekat bandara. Padahal beberapa puluh meter sebelum sampai di kerumunan petugas yang sedang menghentikan setiap laju kendaraan, ia sudah menepikan sepeda motor. Berharap ada celah untuk menghindar. Namun sial. Jalan hanya satu arah. Putar balik melawan arus jelas tak mungkin. Sementara di sepanjang sisi jalan terbentang pagar kokoh tak berpintu milik orang-orang kaya. Ah, pintar sekali pasukan berseragam itu mengatur strategi. Karena setiap kendaraan yang lewat jalan ini dipastikan masuk perangkap. Tak bisa menghindar. Mau tak mau akhirnya harus berurusan dengan pemeriksaan polisi!

Semakin lama ruang tunggu itu semakin penuh. Semakin ramai. Duh, betapa banyak berarti orang yang melanggar peraturan. Tapi, kenapa hampir semua ibu-ibu? Tahu sendiri jika beberapa manusia gemuk itu dikumpulkan dalam satu ruangan. Meski tak saling kenal, meski baru pertama kali bertemu, pasti yang terjadi adalah saling curhat. Mula-mula hanya cerita kronologis sampai mereka ditilang. Ujung-ujungnya lari ke urusan dapur. Urusan anak. Suami. Bah, mungkin jika bukan hal tabu, persoalan ranjang pun ikut dibawa-bawa. Tapi kenapa mereka tak sedikit pun menyinggung soal lampu sein yang sering sekali disalah-gunakan?

Pukul sembilan tepat. Seorang petugas berjubah hitam dan berbadan tegap memanggil. Wajahnya tegas. Posturnya tinggi. Maka sekali seru, orang-orang yang berkumpul di ruang tunggu itu langsung bergerak masuk ke ruangan yang telah disediakan.

Ruangan itu cukup luas. Tapi sedikit gelap. Jendela kaca tinggi di kedua sisi tak cukup memberikan penerangan. Apalagi lampu menyala redup. Di sanalah para terdakwa itu mengambil tempat duduk di beberapa jejer kursi. Ada empat barisan panjang-panjang. Persis seperti ruang tunggu di stasiun kereta api.

Di sana telah hadir seorang hakim ketua. Dua orang hakim anggota. Dan satu administrator yang tadi menyeru orang-orang untuk masuk.

Sang hakim ketua membuka sidang. Bahasanya tegas. Nadanya tinggi dan penuh penekanan. Seolah-olah apa yang ia ucapkan ingin menyihir hadirin. Mungkin supaya tahu juga, bahwa sang penegak hukum itu punya wibawa yang bisa melumpuhkan nyali lawan bicara.

Ia mulai ke pokok permasalahan. Satu persatu hadirin dipanggil. Dibacakan dakwaan. Lalu ujung-ujungnya tetap. Pasti. Apalagi kalau bukan disuruh membayar?

“Febriani Wulandari…!” panggil sang hakim itu kepada salah satu hadirin.

Seorang perempuan muda maju. Ia dipersilakan duduk di kursi persidangan yang berada di tengah-tengah ruangan. Kemudian sang hakim membuka-buka buku tebal di hadapannya.

“Apa kesalahan Anda?” Sang hakim itu memberikan pertanyaan retoris.

“Gak bawa SIM, Pak,” jawab perempuan itu sedikit gugup.

“Anda melanggar pasal 281. Tolong bacakan undang-undangnya. Menghadap para hadirin,” pinta hakim itu sambil menyodorkan buku yang tadi dipegang.

Perempuan itu menurut. Ia berbalik. Lalu dengan suara cukup lantang mulai membaca :

“Setiap pengendara kendaraan bermotor yang tidak memiliki SIM dipidana dengan pidana kurungan paling lama 4 bulan atau denda paling banyak Rp 1 juta (pasal 281).”

“Jelas?” tanya pria berjubah hitam itu meyakinkan. Matanya kemudian menyapu para hadirin. Suasana yang tadi cukup gaduh kini hening seperti ruangan tanpa penghuni.

Perempuan itu hanya menunduk. Untuk beberapa saat ia tak mampu berkata-kata. Dakwaan yang baru saja dibaca baginya cukup menyeramkan. Satu juta? Penjara empat bulan? Keduanya sama-sama pilihan buruk.

“Bagaimana? Mau dikurung atau bayar denda?”

“Bayar saja, Pak?”

“Sanggup bayar satu juta?”

“Enggak….” Perempuan itu menggeleng.

“Kenapa?”

“Saya masih mahasiswa, Pak.”

“Loh, emang kenapa kalau mahasiswa?” Pak Hakim memandang perempuan di hadapannya lekat. “Yang namanya pelanggaran berlaku bagi siapa saja. Mau mahasiswa, pejabat, tukang kebun, pedagang, hukum tetap diterapkan.”

“Tapi saya gak punya uang sebanyak itu.” Perempuan itu berkilah.

“Jadi punyanya berapa? Kalau tiga ratus sanggup?”

“Sanggup, Pak.”

“Ya sudah. Bayar tiga ratus ribu sana!”

Sidang terdakwa pertama selesai. Orang yang dijerat pasal pelanggaran harus membayar sejumlah uang yang yang disebutkan sang hakim. Terdengar cukup ringan jika mengacu pada nominal yang disyaratkan undang-undang. Bayangkan saja. Dari denda satu juta, bisa dibayar hanya kurang dari setengahnya.

Dilanjut dengan terdakwa berikutnya. Rata-rata mereka disuruh membaca isi pasal yang dilanggar sambil menghadap para hadirin. Lalu setelahnya bayar denda. Urusan beres. Pulang.

“Juned Zainudin!” panggil hakim kepada terdakwa selanjutnya.

Seorang pria berdiri dan berjalan menuju meja hakim. Ia mengulurkan tangan mengajak bersalaman. Pria berjubah itu hanya menyambut dingin sambil memaksakan sepotong senyum.

“Apa kesalahan Anda?” tanya sang hakim. Lagi-lagi mengajukan kalimat retoris. Padahal di surat tilang sudah tercantum jenis pasal berapa yang dilanggar terdakwa. Pria berkaos ungu itu hanya senyum-senyum.

“Tolong bacakan!” pinta hakim kemudian sambil menyodorkan buku KUHP.

Pria itu berdehem. Membetulkan kerah kaos. Menggerak-gerakkan leher sebentar. Lalu pandangannya menatap lurus ke para hadirin yang tinggal tersisa setengahnya.

“Mohon perhatian saudara-saudara. Dengarkan baik-baik apa yang saya baca.” Ia mulai menatap tulisan di buku yang dipegang.

“Itu yang paling pojok tolong duduk,” tunjuknya pada lelaki berkulit gelap yang dari tadi kelihatan tak sabar.

“Ibu yang di tengah juga mohon untuk tidak memainkan hape.”

“Bapak baju putih tolong duduknya tegak ya!”

“Hey, Mas. Jangan berdiri di pintu!”

“Bapak Juned tolong segera bacakan!” seru hakim tak sabar saat pria yang disuruhnya malah mengatur suasana ruangan.

“Bapak hakim yang terhormat dimohon sabar.” Pria itu balas menyeru. Akhirnya sang hakim menurut. Sementara para hakim anggota hanya menggeleng-geleng. Ada juga yang tersenyum geli.

“Setiap pengendara yang tidak dilengkapi Surat Tanda Nomor Kendaraan Bermotor atau Surat Tanda Coba Kendaraan Bermotor dipidana dengan pidana kurungan paling lama 2 bulan atau denda paling banyak Rp 500 ribu (Pasal 288 ayat 1).”

“Jadi gimana, Pak Juned? Mau dikurung atau denda?”

Pria berkaos ungu itu sejenak berpikir. Lalu menimbang-nimbang. “Menurut Bapak gimana?”

“Ya terserah! Ko malah tanya saya?” ujar sang hakim dengan nada setengah kesal.

“Terus saya harus tanya siapa?”

“Ya gak harus tanya siapa-siapa. Tinggal pilih mau bayar lima ratus ribu apa diringkus?”

“Waduh!” Pria itu melongo. “Kurung apa bayar ya?”

“Cepetan, Bapak Juned! Yang lainnya masih banyak menunggu.”

“Saya bayar aja kalo gitu.”

“Ya sudah. Siapkan uang lima ratus ribu.”

“Wah, Bapak ini gak pandai ngitung rupanya.”

“Gak pandai ngitung bagaimana? Kalau bayar denda kan memang lima ratus ribu!”

Pria berkaos ungu itu mengambil buku di atas meja hakim. Ia kemudian membuka-buka halamannya. Lalu, “Nih saya bacakan ulang. Melanggar pasal 281 dendanya satu juta. Tapi cukup bayar 300 ribu.”

Setelah buku itu ditaruh kembali ia melanjutkan. “Jadi kalau denda lima ratus ribu, saya hanya bayar seratus lima puluh.”

“Gak bisa, Pak Juned! Yang lain pun kalau melanggar pasal itu bayarnya 250 ribu.”

“Bapak bisa hitungan persentase?”

“Maksud kau ini bagaimana, hah?” ujar sang hakim mulai sengit. Dari tadi terdakwa satu ini ngeyel sekali. Tak cukup diberi penjelasan. Apa-apanya selalu membantah. Apa dia tak takut sama penegak hukum? Apa jubah hitam yang dipakainya belum terlihat menyeramkan?

“Tiga ratus ribu dari satu juta itu 0,3 persen, Pak! Jadi 0,3 persen dari lima ratus ribu ya seratus lima puluh ribu.”

“Kau ini mau main-main ya di pengadilan? Saya ini hakim!”

“Tapi ko hakim bodoh? Gak bisa ngitung! Saya ini orang keuangan!” balas pria berkaos ungu tak kalah keras.

“Astaga!” Pria berjubah itu menyandarkan punggung ke kursi. “Sekali lagi saya tegaskan. Kau ini mau bayar apa dikurung?”

“Kalau gitu saya mending dikurung aja deh, Pak.”

“Yakin?”

“Ko hakim gak percayaan sih sama orang?”

“Bukan begitu maksudnya!” ucap pria itu menahan geram. “Kau ini benar-benar mau dikerangkeng?”

“Tar dulu. Emang beda ya?”

“Ya ampun!” Sekali lagi pria berjubah itu mendesah kesal dan menghempaskan tubuh ke sandaran kursi. “Kau ini ngeyel banget ya dari tadi!”

“Bapak yang gak jelas!”

“Ya sudah. Sekarang siap-siap. Pak Hakim Anggota, tolong urus orang ini. Siapkan tempat untuknya. Dia memilih dikurung saja!”

Sang hakim ketua itu sudah begitu gerah. Sementara orang-orang yang hadir tak bisa dicegah ikut-ikutan ribut. Gara-gara satu orang ini acara jadi berantakan. Jalannya pengadilan yang harusnya khidmat dan tenang jadi riuh rendah seperti pasar ikan!

“Mohon maaf Pak Hakim Ketua. Bapak ini minta dikurungnya setengah bulan saja,” seru salah satu hakim anggota.

“Kasih!”

“Tapi, Pak. Apa nanti gak merepotkan?”

“Iya loh, Pak. Makan saya banyak. Terus kalo malam saya harus nyanyi-nyanyi. Terus kalo mandi lama,” ujar pria berkaos ungu itu kepada hakim anggota.

Para hakim itu kemudian saling pandang. Mereka sama-sama bingung. Entah kenapa menghadapi orang satu ini taring para penegak hukum itu menumpul. Bahkan sang hakim ketua lupa kalau ia punya satu kekuatan yang tak bisa dibantah. Ketuk palunya terluput. Benar-benar luput. Sedangkan para hadirin bergerak semakin gaduh. Ada yang teriak. Ada yang tertawa-tawa. Banyak juga yang keluar masuk ruangan sidang. Suasana sudah tak bisa dikontrol.

“Sudah deh, Pak Juned. Bayar semampu kau saja!” Akhirnya sang hakim ketua menyerah.

“Seratus lima puluh ribu?”

“Terserah!”

“Seratus?”

“Terserah!”

“Lima puluh?”

“Terserah!”

Bagi mereka yang penting manusia pengacau ini sesegera mungkin enyah dari ruang sidang.