Sisi Lain Dono Warkop, Seorang Dosen dan Aktivis

Selama ini masyarakat Indonesia lebih mengenal Dono Warkop sebagai komedian, anggota dari grup lawak legendaris Warkop DKI. Namun jarang yang mengetahi sisi lain dari pria kelahiran Solo, 30 September 1951 ini. Berikut sisi lain dari Dono Warkop yang mungkin masih jarang diketahui publik.

>> Dono Warkop adalah seorang dosen

Siapa sangka, dibalik tingkah konyol dan jenaka sang komedian, almarhum Dono adalah seorang dosen. Dono adalah lulusan Universitas Indonesia (UI), mengambil jurusan Sosiologi Fakultas Imu Sosial, sekarang menjadi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP). Drs. H. Wahyu Sardono adalah nama lengkap beserta gelar beliau. Sebelum menjabat sebagai dosen di jurusan Sosisologi, FISIP UI, almarhum pernah menjadi asisten dosen di Sosiologi UI.

Menurut Hanna, putri sulung dari almarhum Kasino, Dono adalah sosok seniman yang cerdas. Tidak heran jika kecerdasan almarhum menurun ke anak kedua Dono, yakni Damar Canggih Wicaksono. Damar menyelesaikan studi S2 di Swiss, dan saat ini sedang menempuh S3 untuk ahli Teknik Nuklir di École Polytechnique Fédérale de Lausanne (EPFL), Swiss.

Jejak almarhum sebagai kaum intelektual terlihat di beberapa film Warkop. Tidak hanya membawakan selera komedi biasa, Warkop juga dikenal dengan humor satire yang menyentil kondisi politik di Indonesia. Bahkan Dono beserta ketiga personil Warkop lainnya kerap turun ke jalan menyuarakan kekecewaan mereka terhadap pemerintahan saat itu.

>> Dono Warkop sebagai aktivis

Ketika masih berstatus mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial (FIS) Universitas Indonesia , Dono bersama anggota Warkop lainnya, Kasino dan Nanu, turut serta dalam aksi 1974. Peristiwa tersebut dikenal dengan Malapetaka 17 Januari atau Malari.

Dalam aksi demontrasi tersebut, Dono beserta mahasiswa lain menolak dominasi ekonomi Jepang di Indonesia. Aksi tersebut berakhir dengan ditangkapnya sejumlah mahasiswa UI oleh pihak keamanan Orde Baru, salah satunya Ketua Dewan Mahasiswa (Dema) UI Hariman Siregar.

Almarhum Dono kembali memperlihatkan kepeduliannya saat ikut serta berdemonstrasi dengan mahasiswa meskipun telah menjabat sebagai dosen UI. Menurut wartawan senior Budiarto Shambazy, beliau mengingat bagaimana Dono dengan berani menghadang serbuan tentara yang saat itu menyerbu kampus Universitas Katolik Atmajaya, Semanggi, Jakarta.

Saat itu, Dono tak gentar melawan para tentara dengan menggunakan selang hydrant demi menyelematkan ribuan mahasiswa yang lari tunggang langgan masuk ke dalam kampus. Begitu juga saat Dono mengarahkan selang hydrant ke barisan tentara yang berada di jalur kanan Jalan Jenderal Sudirman.

Menurut Budiarto yang menjadi saksi mata pada peristiwa Trisakti itu terjadi, ratusan mahasiswa yang berlindung di UAJ saat diberondong senjata api selama satu jam. Rentetan tembakan tersebut berlangsung sejak pukul 20.30 WIB. Dan Dono adalah salah satu sosok yang berani terlibat dalam peristiwa berdarah tersebut untuk menyelamatkan para mahasiswa yang turun aksi.