Tangan Ke Dua – Ruwajurai.com

“Bagaimana kabarmu, nak?” sapa perempuan itu sambil tersenyum manis yang dalam penglihatanku seperti nenek sihir tengah terkekeh dengan sederet gigi berlumur darah.
‘Nak?’ aku mengeja panggilan itu berkali-kali. Memastikan pendengaranku cukup baik dan jelas. Dan sepertinya, memang tak salah dengar.

Tapi, bukan wanita berambut sebahu itu yang membuatku tercengang. Melainkan gadis kecil bermata bulat dengan alis tebal saling bertautan berdiri di sampingnya. Boneka Tedy Bear berwarna pink lelap dalam dekapan mungilnya, sementara rambut yang ikal bergelombang tampak terjuntai jatuh di antara kening dan pipi yang gembung.

Kupaksakan menarik sebuah lengkung pada bibir. Menahan sebuah gejolak serupa debur ombak di pantai Perigi saat tengah malam. Juga gemetar yang nyaris membuat kaki-kakiku limbung. Gemetar kuulurkan tangan menyentuh pipi bulat dengan sebuah bintil kecil memerah di ujungnya bekas gigitan nyamuk. Namun, tersentak saat gadis itu beringsut mundur dan menjauhiku.

“Ini Kak Aini, ayo salim dulu!”
Namun, gadis kecil itu tak beringsut. Perlahan ia bersembunyi di balik pantat sang Nenek. ‘Kak Aini?’ lagi-lagi aku tercengang mendengar panggilan yang ia sebutkan untukku. Serupa pedang tajam, mencabik habis ulu hati. Perih, atau apa entah aku tak bisa mengungkapkannya.

“Sibuk apa sekarang?” tanyanya lagi sambil beringsut duduk di dekatku yang masih mematung. Mempertahankan sebuah gemuruh yang siap meledak. Juga sebuah mendung yang siap mengubah dirinya menjadi hujan, membentuk sealir sungai.

“Di rumah aja, sambil usaha kecil-kecilan.”

“Kau lama tak main kerumah” gumamnya lirih. Namun cukup jelas terdengar di telingaku.

Apa aku tak salah dengar? dia menanyakanku tentang ‘main ke rumah?’
Apakah ia tengah amnesia? serentetan drama kembali terputar jelas dalam benakku. Semua berjalan mundur. Semua. Ya semuanya. Pertengakaran, perpisahan, bayi itu, airmata, cacian dan…,aku lupa untuk mengingatknya lagi. Kutekan dada, dan ngilu itu masih ada. Perih, di sini. Sekali lagi.

Dan gadis kecil itu, ingin sekali kumenghambur memeluk tubuh mungilnya. Menciumi pipi bulat juga membelai rambut ikalnya. Menjelaskan, bahwa kita memiliki mata yang sama, rambut yang sama, bibir yang sama, dan darahku mengalir pada darahnya. Ingin kubisikkan, di perutku dulu kau lelap selama sembilan bulan. Tendangan lincahmu sering membuatku kejang. Lalu berfantasi, bahwa kau tengah main bola tendang, mungkin juga berenang atau kau memang sengaja menunjukan;bahwa kau aktif dan periang.

Dan…, entah. Untuk beberapa saat lamanya aku bungkam. Abai terhadap semua pertanyaan yang perempuan itu lontarkan. Waktu seperti berhenti berputar, seakan ada suatu hal yang mengganjal perputarannya. Menjadikan semua berhenti, dan hati ini;entah aku tak tahu untuk menjelaskannya.

“Agak sibuk sekarang.”

“Si Faiz kemarin menanyakanmu,” ucapnya lirih. Lirih sekali, seperti menekan sesuatu.

“Menanyakan tentang apa?”

“Kau masih sendiri, kan?” dia balik bertanya

“Seperti yang kau lihat. Tapi, sepertinya aku lebih nyaman seperti ini.”

“Kau tak ingin rujuk? kembali ke rumah. Bersatu lagi, bersama-sama membesarkan Jei.”

“Semudah itu?” tukasku gemetar.

“Lantas untuk apa kau mempertahankan ego?”

“Aku?” kuarahkan telunjuk ke mukaku. Mencari cari kebenaran dari setiap kata yang diucapkan wanita itu. Tak ada, jawabnya.

Saat ini memang bukan saatnya lagi menyalahkan siapa yang bersalah atas semua perpisahan. Sudah terlalu kadaluarsa tepatnya. Bukankah penyelesaiaan atas segala yang terjadi tak selalu tertumpu pada siapa yang salah? Melainkan mencari tahu di mana titik kesalahan itu dan mencoba memeperbaikinya. Bukankah tak ada perbedaan mendasar antara memulai dan memperbaiki? kecuali terbatas pada dimensi waktu, antara yang dulu dan sekarang terjadi.

Jika kau bertanya tentang pilihan. Mungkin ini pilihan tersulit dalam hidupku. Seperti kau berdiri di ujung jurang, sementara di belakang seekor singa yang mencakarmu tempo hari tengah berbaring menatap dalam dalam. Kukunya terbungkus rapi, tak menonjol hanya jari jari mungil yang keluar. Tapi, bukankah kau tak tahu jika sewaktu waktu bisa saja ia kembali keluarkan kuku yang tersimpan. Sementara, jika kau melompat mungkin saja di bawah sana ada seseorang yang menangkap dan menidurkanmu di dadanya yang bidang. Namun, bisa juga kau akan terjatuh pada bebatuan terjal. Sungguh, tak dapat dipungkiri. Memang ada dan selalu ada di setiap pilihan;beberapa kemungkinan yang harus kau hadapi.

Tapi, apa yang jauh menyakitkan dari dipanggil ‘Kak’ oleh manusia yang pernah kau tampung dalam rahim dengan kedaan payah dan menyakitkan. Apa yang lebih sakit ketika air susumu terasa meluap, payudaramu mengeras, putingmu kejang seperti tersengat listrik, badanmu menggigil, demam, pusing dan kau tak berhak memberikan asimu pada bayi yang pernah kau kecup anyir darahnya lepas persalinan. Apa yang lebih menyakitkan selain…, ah aku lupa berapa banyak lagi kalimat tanya tentang sakit yang pernah terasakan. Dan sepertinya ku tak ingin mengulang tanya sekaligus sakit itu. Bukan perihal dendam, melainkan berjaga jaga terhadap segala kemungkinan.

Penulis : Elinta Nuraini