Tari Sigeh Pengunten, Tari Menyambut Tamu Agung

Tabik pun, nyo kabar minak muaghei.
kali ini kita akan berbagi tetang salah satu dari sekian banyak seni budaya lampung yaitu tari sigeh penguten.
Seni tari sigeh penguten ini dari beberapa sumber menyebutkan bahwa merupakan tari kreasi yang bersumber dari tari sembah yang mewakili dari dua jurai yang ada di lampung pepadun dan saibatin. Tari sigeh penguten dari segi bahasa maka penulis lebih cenderung mengartikan sebagai tari persembahan, atas dasar apa penulis mengartikan demikian.
Sigeh dalam adat kebudayaan jurai atau masyarakat adat pepadun dapat diartikan sebagai wadah sirih pinang (penulis tidak tahu dalam bahasa indonesia tetapi dalam bahasa jawa orang menyebutnya nginang), sedangkan penguten dapat diartikan sebagai kegiatan berbagi, dalam hal ini berbagi isi sigeh tersebut. Salah satu adegan dalam tari sigeh penguten memperkuat penafsiran penulis ini, yakni ketika salah seorang penari yang berjalan menghapiri tamu membawa sebuah kotak dan membagikan permen kepada para tamu tersebut (dalam kebudayaan asli dan acara adat asli maka yang dibawa ini merupakan cambai, ugai, atau malui).

Pada penerapanya tari sigeh penguten atau tari sembah sendiri dalam adat masyarakat lampun ditampilkan pada saat upacara penyambutan tamu agung.
Pakaian penari biasanya baju kurung bewarna putih (sesapur) yang pada sisi bagian bawahnya terdapat hiasan berbentuk koin berwarna perak atau emas yang digantung secara berangkai (rumbai ringgit). Untuk bagian bawah, penari mengenakan kain tapis, yaitu kain tradisional khas Lampung berupa sarung yang bersulam benang emas dengan ragam motif yang juga khas Lampung.

Sementara itu, atribut lain yang dikenakan penari adalah ikat pinggang dari uang ringgit Belanda bergambar Ratu Wihelmina, disebut dengan pending. Di atas pending, dikenakan lagi bulu serti, yaitu ikat pinggang yang terbuat dari kain beludru berlapis kain merah. Pada bagian atas ikat pinggang ini tampak kuningan yang dijahit sebagai penghias ikat piggang.

Tanggai adalah hiasan yang berbentuk seperti kuku berwarna keemasan yang dikenakan di jari penari. Tanggai dalam Bahasa Indonesia diartikan sebagai kuku. Tanggai inilah yang makin memberi kesan lentik pada jari-jari penari saat mereka melakukan gerakan yang memang banyak mengaplikasikan gerak tangan dan jari.

Mulan temanggal dan buah jukum adalah hiasan yang dikenakan di leher seperti halnya kalung. Mulan temanggal terbuat dari lempeng kuningan, sementara buah jukum berbentuk serupa buah-buah kecil di atas kain yang dirangkai dengan benang menjadi untaian bunga.

Gelang burung adalah gelang yang dikenakan pada lengan kiri dan kanan, tepatnya di bawah bahu. Berbentuk seperti burung bersayap, gelang ini juga terbuat dari bahan kuningan. Gelang lain yang juga menjadi aksesoris penari Tari Sembah Sigeh Penguten adalah gelang kana dan gelang arab. Gelang kana ini pun terbuat dari kuningan berukir yang dikenakan bersama-sama gelang arab pada lengan atas dan bawah.