Tentang Dia ” Bag 2 ” – Ruwajurai.com

Jika kau menyuruhku untuk menceritakan tentang ‘Tha’ mungkin takkan pernah ada habisnya. Selalu ada sisi mempesona yang membuatku semakin tergila gila. Selalu ada memoar tentang dia yang membuatku nyaris kaku terbelit rindu.

Seperti pagi itu, saat matahari masih sipit. Kelopak belum sepenuhnya mekar pun kelam belum lagi pulang. Tha datang, bukan sebagai tamu. Sebab kedatanganya tanpa menggetuk pintu, dan aku hanya tergagap. Mendapati wajah puisinya kaku dalam diam. Sepasang mata elang lengkap dengan alis bertautan. Juga senyum tipis nyaris membuat seluruh aliran darahku berhenti beredar. Semuanya terkumpul ke arah bahu, membentuk sepasang sayap. Dan aku melayang, sejenak pandanganku memudar, tubuhku bengkak memenuhi ruangan. Lalu perlahan melandai, tanganku menggapai tepi tepi mimpi. Berharap sakau ini secepatnya selesai.

Sekali lagi, masih tentang ‘Tha’. Lelaki pendiam dengan gurat keseriusan memenuhi setiap inchi jidat yang tak sepenuhnya lebar. Aku sering membayangkannya sebagai hujan. Turun tipis tipis pada kamis paling romantis. Dengan sekelebat petir, juga mendung yang pada rahimnya menyimpan ribuan anak anak puisi. Ya, aku sering membayangkanya sebagai hujan. Yang mengajarkanku pada kehangatan. Pada batas antara gersang dan dingin yang melelapkan.

Lain waktu, aku membayangkanya sebagai embun yang luruh pada pintu kaca. Dengan bulatan bulatan bening yang darinya memantul bayangnku tengah bersedekap dengan mulut separuh terbuka. Jemariku gemas ingin meraihnya, mereguk setiap tetesnya. Dan aku lupa;tengah berada di balik pintu kaca.

Masih tentang ‘Tha’. Lelaki yang datang sebagai cemara. Dan aku;adalah burung gereja yang hinggap dan mendekam dalam rimbun hijaunya. Mengintip dari celah celah dahan, menghitung setiap ruas daun daun rindu yang berguguran setiap harinya. Tha, lelaki dengan kidung kidung sunyi yang membelai setiap kedatanganya.

Kadang kala, tanganku menangkup dagu kala teringat semua tentangnya. Tentang samudra yang menghalang, pelukan pelukan yang tertunda, rencana demi rencana, kursi pelaminan lengkap dengan hiasan pita, sebuah rumah mungil dengan banyak jendela juga jurang perbedaan yang amat sangat sulit untuk terjembatani. Juga tentang ketakutan yang setiap hari membuatku meringkuk pada gelap. Menggigil pada pojok sunyi. Dan semua itu menciptakan ambivelansi ambivelansi pada persimpangan hati. Antara membenci dan sangat mencintai.

“Aku ingin pergi, Tha.” pamitku sore itu. Sebuah koper merah berisi catatan tentang rencana rencana pada sobekan kertas koran menyumpal di dalamnya.

“Kenapa? apa aku menyakitimu? apa aku tak setia? apa tanganku melukai?”

Aku menggeleng cepat, bersiap membuka pintu.

“Berikan sebuah alasan.”

“Rasa ini menghukumku, Tha!” jeritku

“Baiklah. Silakan. Aku tak bisa menghalangi,” jawabnya dengan sebuah senyum manis yang kuartikan sebagai luka.

Aku tercengang mendengar jawaban yang begitu enteng keluar dari mulutnya.

“Kau tak menghalangiku?”tanyaku setengah tak percaya

“Aku akan menghalangimu jika ada alasan lain. Tapi…,jika cinta hanya membuatmu terluka;aku tak bisa memaksa.”

Baiklah, sekali lagi kuurungkan langkah. Kembali tenggelam dalam pelukan hangatnya

***

“Sebenarnya kau ini nyata apa nggak sih?” tanyaku suatu hari.

“Kita hanya terpisahkan?”

“Aku menganggapnya demikian.”

Kita terdiam. Merenungi setiap detik yang terhabiskan. Setiap fantasi yang membuat terbang, setiap sloki vodka yang tersuguhkan di antara dinding maya yang serupa nyata. Baiklah, kita lanjutkan percintaan. Ranjang penuh mawar berserakan juga lilin yang bersinar temaram. Mari sejenak memikirkan kebodohan yang menyenangkan. Tapi, bukankah dalam setiap hukum ada pengecualian?

Penulis : Elinta Nuraini