Tentang Dia – Ruwajurai.com

Dialah lelaki yang kukenal di persimpangan Dhuha. Beralis tebal dan saling bertautan. Bermata bulat dengan jenggot tipis menghiasi dagunya. Lelaki pendiam yang darinya kureguk bergelas gelas keteduhan.

Aku memanggilnya ‘Tha’. Tanpa arti atau tafsiran tertentu, terserah kau mengartikannya bagaimana, yang jelas kumenyukai panggilan itu. Hari itu, ia datang menyapa dengan sebuah teka teki memberondong kota biruku. Gelembung bertitik tiga menari nari di sana, seutas tanya ia kirimkan dan aku hanya terkikik menjawabnya.

Dialah ‘Tha’ laki laki yang kelak kuharap duduk di sebelahku, tepat setelah ijab Qabul terlaksana. Bertubuh ramping dengan kulit kuning kecoklatan.

Tha bukan lelaki penggombal. Meski dari jarinya ribuan aksara terlahir dan selalu membuatku terkesima. Tapi, tak pernah sekalipun ia tuliskan puisi puisi berdiksi indah serupa pelangi. Pun, tak pernah seucap rayu ia kirimkan lewat pesan pesan sederhana yang darinya membuat pipiku memanas. Lalu rona merah akan tersembul di sana.

Ialah Tha, lelaki yang mencintaiku secara sederhana. Lelaki yang selalu setia mendengar setiap celotehku tanpa jeda. Meski sering membuat bibirku mengerucut manyun karena ia selalu sukses menebak setiap kata kata yang tersimpan dalam kepala. Lelaki yang membuatku tak pernah bisa berbohong.

“Aku ingin menjadi merpati. Dengan bulu indah, menari riang dan hinggap dengan lincah di antara ranting ranting itu,” ucapku suatu hari.

“Dan akulah pohon beringin, tempat kau pulang dan pulas dalam rimbun dahanku.”

“Kau selalu mengajariku bagaimana lelap dalam dekapmu, membuatku terjebak. Dan lupa bagaimana bangun dari mimpi mimpi itu.”

“Aku yang akan membangunkanmu seperti Putri Aurora,”jawabnya sambil mendaratkan sebuah kecupan mesra di bibirku. Dan, sekali lagi kami berciuman dalam dingin pagi. Di antara dinding dinging maya, bibir bibir kami saling memagut.

Pernah suatu kali, saat senja hampir tenggelam. Kumenemuinya dalam temaram. Pendar lampu taman yang mulai dihidupkan, biaskan cahaya orange menyirami tubuh kami yang saling bersandar. Darinya kuhirup sisa parfum yang tertinggal di leher. Membuatku berdesir, saat mata saling bersitatap. Dan, sisa latte terasa lengket di sudut bibirnya saat kami saling memagut. Hangat. Empuk, dan kami tenggelam.

“Seorang pesulap akan kehabisan trik sulapnya. Apakah kau masih akan memandangku dengan melongo, dan pelukan hangat saat mengetahui semua kebiasaanku. Bahkan ketika kau menemuiku saat pertama kali membuka mata?” tanyaku sambil menepuk nepuk telapak tanganya yang melingkari pinggangku.

“Aku yang akan membangunkanmu dengan kecupan hangat, lalu merapikan bajumu yang masih acak acakan.”

“Meski mulutku masih bau jigong?”

“Bukankah yang tertinggal di bibirmu adalah ludahku semalam?”

Aku tak menjawab, melainkan terus membenamkan kepalaku di dadanya yang bidang. Dengarkan sebuah degup dengan irama beraturan. Menyesap aromanya, menghafali lalu menyimpanya dalam ingatan.

Membayangkan itu semua membuatku gemetar. Mengingat semua percintaan kami. Juga dekapan dekapan yang berlangsung dalam khayal. Dan, aku hampir terlupa tentang novel yang kupegang. Baru lembaran pertama, saat wajah Tha menyungging senyum di antara kata kata yang berubah menjadi sebuah puisi cinta. Menarikku untuk mereguknya dalam sebuah ruang yang kusebut maya.

Penulis : Ellinta Nuraini