Teoritikus dan Praktisi : Dua sisi mata uang yang sama

Ada sebagian orang punya pendapat bahwa Indonesia tidak memerlukan teoretikus, lebih baik mencetak banyak praktisi. Kalimat ini ada benarnya, jika kita merasa frustrasi dengan jumlah ide yang terbuang sia sia tanpa wujud di laboratorium ataupun di pusat pusat riset. Kalimat ini bisa keliru jika kita mengamati situasi dilapangan. Industri garam misalnya atau industri gula atau juga pertanian cabe, timun kentang dan padi.

Di lapangan pertanian kita menemukan banyak praktisi, bekerja siang malam menanti panen, tanpa teori dan peralatan modern. Hasilnya juga keluhan yang sama. Tiap musim hujan produk kerendam air, tiap musim panas panen puso. Praktisi memerlukan benih unggul tahan perubahan cuaca. Praktisi memerlukan teori dan strategi menghadapi fluktuasi harga yang berubah ubah karena permainan tengkulak.

Jadi disegala bidang praktisi memerlukan teoritikus. Dan teoritikus memerlukan praktisi. Dua duanya adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Visi tanpa kerja adalah halusinasi. Kerja tanpa visi berujung frustrasi. Begitu kata para ahli.

Ada contoh menarik dimasa lalu yang mungkin baik dikemukakan sebagai ilustrasi. Tahun 1937 seorang mahasiswa pasca sarjana MIT bernama Claude Shanon bekerja di Bell Laboratorium. Pada masa itu Bell Labs disebut sebagai “factory of ideas”. Pabrik gagasan. Disini teoretikus eksentrik berbaur dengan insinyur pragmatis , praktisi cerdas bertangan dingin.

Peter Galison dalam bukunya berjudul Image and logic terbit tahun 1997 menyatakan :”Tiap kemajuan suatu bangsa memerlukan zona melting pot”. Zona yang memungkinkan terjadinya persilangan gagasan. Zona dimana para teoritikus dan praktisi dengan latar belakang pengetahuan dan pengalaman berbeda berkumpul menjadi satu. Dua “species” praktisi dan teoritikus ini dapat berdialog, belajar bersama berbagi ide bertukar informasi. Lahir inovasi.

Di Bell Laboratory Claude Shannon mendapatkan ide tentang proses penggabungan teori dan sistem logika yang dikembangkan oleh George Boole matematikawan Inggris. Boole mendeskripsikan secara teoritis alur logika berbeda dari teoritikus lainnya. Ia menggunakan simbol angka 1(satu) untuk proposisi yang benar dan menggunakan angka 0 (nol) untuk proposisi yang salah. Dengan simbol 0 dan 1 , Boole dapat menyusun logika dasar — seperti kata dan, atau, jika dan maka — dalam persamaan matematika. George Boole seorang teoritikus.

Shannon dari pengalaman sedari kecil. Ia memiliki hobby merakit model pesawat dan radio amatir. Ia kuliah di Jurusan Matematika dan Teknik Elektro Universitas Michigan. Selesai kuliah ia beverja sebagai asisten Vannevar Bush untuk menjadi operator mesin Differential Analyzer di MIT. Dari pekerjaan tersebut ia terpesona dengan mesin itu bukan karena mesin itu sekedar beroperasi dengan sistem analog tuas dan katrol, melainkan memiliki sakelar sirkuit untuk relay elektromagnetik.Sinyal listirk menggerakkan sakelar terbuka dan tertutup. Awal mekanisme digital. Shanon adalah seorang praktisi cerdas berlatar belakang iptek.

Ide tentang switch and relay ini kemudian menjadi thesis magister shannon berjudul :”A Symbolic Analysis of Relay and Switching Circuits” yang memaparkan tatacara operasi matematika fungsi aljabar Boolean pada circuit listrik. Shannon berhasil membuka jalan bagi ilmuwan lain George Siblitz untuk menemukan kalkulator bilangan kompleks pada tahun 1939.

Contoh diatas saya kemukakan untuk menggambarkan bahwa praktisi dan teoritikus itu jangan dipecah belah dan dipisah menjadi kubu berbeda. Istilah teoretikus dan praktisi itu tidak identik dengan partai politik yang bisa berbeda camp pemikiran dan menjadi blok blok dengan benteng yang terisolasi. Praktisi dan Teoretikus itu merupakan dua sisi dari mata uang yang sama.

Indonesia memerlukan banyak Teoretikus dan sekaligus Praktisi. Dunia semakin kompleks. Thinker atau Pemikir memerlukan Tinker atau Praktisi Cerdas bertangan dingin berbasis iptek.

Apa benar begitu ? Mudah Mudahan bermanfaat.
Salam

Oleh : Ib Ilham Malik