Tidak Cukup Sekedar Berbicara dan Mendengar

Keterampilan berbahasa itu ada empat. Yang paling mudah adalah berbicara. Anak saya yang baru berusia dua tahun, mulai bisa berbicara. Apalagi asal bicara, tidak perlu sekolah. Di pesantren-pesantren atau kursus-kursus yang mengajarkan bahasa Inggris dan Arab, misalnya, sekitar tiga bulan masuk, santri atau pelajar dijamin sudah bisa berbicara dengan dua bahasa asing tersebut.Berbicara memang keterampilan yang paling awal. Relatif lebih mudah. Yang kedua adalah keterampilan mendengar. Ini lebih sulit dari berbicara. Banyak orang mampu berbicara dengan bahasa Inggris, misalnya, tetapi begitu mendengar dialog Inggris, apalagi diucapkan oleh orang Barat asli, masih belum paham sempurna. Dalam kehidupan nyata, mendengar juga lebih sulit ketimbang berbicara. Terbukti banyak orang susah disuruh mendengar, dan hanya mau berbicara saja. Pernah lihat, bukan?Keterampilan di atasnya lagi adalah membaca. Coba Anda teliti, dari sekian juta umat Islam di Indonesia, berapa gelintir yang terampil membaca. Jangankan sampai tingkat terampil, sekadar terbiasa membaca saja belum. Membaca, kata sebagian kita, adalah pengantar tidur. Sedih sekali kalau mendengar pemikiran semacam itu. Tetapi, uniknya, tidak sedikit dari orang yang berpikiran demikian ternyata terbilang tokoh di masyarakat. Ironis.

Setelah berbicara, mendengar, dan membaca, keterampilan puncak adalah menulis. Orang yang terampil di bidang ini, lebih sedikit lagi jumlahnya. Dari seratus orang Islam, belum tentu ada satu yang terampil menulis. Yang menjamur adalah orang yang pintar ngomong, terampil berbicara. Lihat saja, jumlah penceramah di setiap tempat, pasti lebih banyak ketimbang jumlah penulis.

Di antara orang sekampung, tidak sulit menemukan penceramah untuk khotbah Jum’at, misalnya. Apalagi, sekarang ini, baru mondok tiga tahun saja, sudah pintar berceramah. Malah ada diklat ceramah segala, sehingga anak kecil pun sudah diundang berceramah ke mana-mana, dan laris. Tetapi, coba cari berapa banyak penulis di suatu kampung. Dalam satu kecamatan sekalipun, belum tentu ada dua.

Menulis itu identik dengan kegiatan berpikir. Setiap karya tulis, bisa dibilang, pasti lahir dari pemikiran cerdas. Kecuali memang tulisan sampah dan fitnah yang cenderung awur-awuran. Selain itu, penulis yang baik biasanya juga pendengar dan pembaca yang baik. Sebab inspirasi utama menulis adalah dari mendengar dan membaca. Adapun soal berbicara, memang ada penulis yang kurang terampil berbicara. Namun, kebanyakan penulis yang bagus, biasanya juga mampu berbicara secara bagus. Minimal yang disampaikan itu runtut dan sistematis.

Apa sebenarnya yang hendak saya sampaikan ini?

Tiada lain adalah mari kita menjalani hidup ini secara cerdas. Berislam juga harus dengan ilmu. Dan jalan ke arah itu sudah jelas, yaitu membaca. Syukur-syukur dapat dilanjutkan dengan menulis. Membaca dan menulis ini sudah lama menjadi sunah yang diabaikan. Padahal, perintah Islam sudah jelas. Wahyu yang pertama kali turun adalah perintah membaca.

Sederhana sekali membuktikan rendahnya tradisi membaca masyarakat kita, termasuk umat Islam. Yaitu seringnya kita bertanya tentang suatu informasi di Facebook atau WhatsApp yang sebenarnya sudah sangat jelas. Jadi, kalau Anda mengumumkan suatu informasi lewat Facebook atau WhatsApp, biarpun sudah Anda jelaskan secara sangat detail, tetap bersiap-siaplah kebanjiran pertanyaan. Tidak cukup lewat inboks, email, WhatsApp, dan SMS, orang bahkan bertanya lewat telepon.

Saya sendiri sering sekali mengalami. Herannya, kadang yang bertanya-tanya tentang suatu informasi yang sudah jelas begitu—tandanya dia tidak membaca—adalah juga orang-orang yang terdidik. Jadi, bukan sekadar tamatan SMP atau SMA. Kemudian, satu bukti lagi bahwa tradisi membaca kita memang rendah ialah banyaknya komentar di Facebook yang tidak nyambung dengan statusnya. Kalau ini mah bukan hanya tidak membaca, tetapi bahkan tidak berpikir.

Kapan umat Islam ini maju kalau begini terus?

Membaca itu gerbang ilmu. Dan menulis adalah pengikat ilmu. Kalau mau jujur, sebab utama pertikaian dan perdebatan yang tidak ada ujung pangkalnya di kalangan orang Islam ini adalah minimnya tradisi membaca dan menulis. Sebab, konon, yang berbahaya dari menurunnya minat membaca adalah meningkatnya gairah berkomentar.

Adapun bagaimana kedahsyatan menulis, mari kita simak ungkapan pembaru Islam Sayyid Quthb (1906-1966): “Satu peluru hanya mampu menembus satu kepala. Tapi satu tulisan mampu menembus ribuan, bahkan jutaan kepala.”

Itulah kenapa mukjizat Nabi Muhammad bukan tongkat, dibakar tidak mempan, bisa menghidupkan orang mati, mampu meluluhkan besi, dan semacamnya. Nabi agung yang memungkasi para nabi sebelumnya tidak diberikan mukjizat berupa kedigdayaan fisikal dan kesaktian material, melainkan Al-Qur’an. Itulah kitab bacaan yang mengungguli segalanya. Yang mengabadi sepanjang sejarah karena mampu meletupkan api kemajuan bagi umat Islam hingga meraih peradaban cemerlang. Semua dari inspirasi bacaan dan pengamatan terhadap Al-Qur’an.

Aneka ilmu pengetahuan dan penemuan-penemuan yang dahsyat itu pasti lahir dari bacaan. Dan yang dibaca adalah pemikiran yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Kalau tidak muncul tulisan, apa gerangan yang dibaca? Andai tidak diturunkan Al-Qur’an, dari mana kiranya pencerahan dan peradaban cemerlang ini kita dapatkan dan rasakan?

Ayo segera tingkatkan keterampilan orang Islam secara keseluruhan. Tidak hanya berhenti sekadar pada keterampilan berbicara dan mendengar, namun harus kita lanjutkan menjadi terampil membaca dan menulis. Dengan dua keterampilan itulah, insya Allah, tradisi berpikir akan tumbuh dan terkikislah budaya merasa paling benar dan paling pintar sendiri, sembari gemar menyalah-nyalahkan orang lain.

Patut kita renungkan nasihat Imam Al-Ghazali: “Saya tidak cemas dengan orang yang terus berpikir sekalipun ia sesat. Karena ia akan kembali kepada kebenaran. Tetapi saya cemas dengan orang yang tidak pernah berpikir sekalipun dalam posisi mendapatkan petunjuk. Karena ia akan menjadi bagai daun kering ditiup angin.”

 

TIDAK CUKUP SEKADAR BERBICARA DAN MENDENGAR

 

Oleh: M Husnaini