SPPG Bantah Isu Makanan Tak Layak, 11 Siswa SDN 03 Sindang Sari Diduga Keracunan
Lampung Utara – Pemilik dapur SPPG Hajjah Lis memberikan klarifikasi atas ramainya video Kepala SDN 03 Sindang Sari, Kecamatan Kotabumi Kota, Lampung Utara, yang menyebut dugaan makanan tidak layak konsumsi hingga menyebabkan 11 siswa diduga mengalami keracunan, Senin (12/01/2026). Pihak SPPG menegaskan informasi tersebut tidak benar dan menyebut isu yang beredar sebagai pemberitaan sepihak.
Klarifikasi tersebut disampaikan langsung oleh Heni, selaku pemilik dapur SPPG Hajjah Lis, saat dikonfirmasi awak media. Ia membantah keras tudingan bahwa makanan yang disediakan tidak layak konsumsi.
“Menurut saya konyol saja. Setelah kejadian, makanan langsung dicicipi oleh Babinsa dan juga dari Dinas Kesehatan,” tulis Heni melalui pesan WhatsApp kepada awak media, Senin (12/01/2026) pukul 19.16 WIB.
Meski demikian, pihak sekolah menyampaikan keterangan berbeda. Ida, Kepala SDN 03 Sindang Sari, mengungkapkan bahwa pihaknya telah beberapa kali menyampaikan keluhan terkait menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dinilai tidak layak.
“Beberapa kali saya protes tidak ada kelanjutan. Bahkan pihak dapur justru menyarankan agar sekolah pindah MoU dapur MBG,” ungkap Ida.
Menanggapi polemik tersebut, Ketua Komisi IV DPRD Lampung Utara, Imam Santosa, menyatakan pihaknya akan membahas persoalan ini bersama anggota komisi untuk menentukan langkah pengawasan terhadap SPPG.
“Nanti akan dibahas dulu dengan teman-teman komisi untuk mengambil sikap terkait pengawasan SPPG,” ujar Imam kepada awak media pada pukul 19.55 WIB.
Menurutnya, pengawasan ketat diperlukan agar seluruh dapur SPPG benar-benar menjalankan Standar Operasional Prosedur (SOP) sesuai ketentuan Badan Gizi Nasional (BGN), demi menjamin kualitas dan keamanan makanan bagi siswa.
Sementara itu, pakar hukum Candra Guna menilai bahwa dalam praktiknya, persoalan seperti ini kerap dipicu oleh upaya menekan biaya operasional, bukan untuk mencelakai siswa.
“Namanya pedagang, mungkin tidak semua, tetapi ada saja yang menggunakan bahan baku tidak segar. Tujuannya bukan meracuni siswa, melainkan untuk menambah keuntungan,” tulis Candra melalui pesan aplikasi perpesanan pada pukul 20.28 WIB.
Hingga berita ini diturunkan, pihak terkait masih menunggu hasil penelusuran dan evaluasi dari instansi berwenang untuk memastikan penyebab pasti kejadian tersebut serta langkah penanganan selanjutnya. (US).












